============== Jakarta, September 2000… Halaman itu kini dipadati manusia. Lilin dan obor menyala di segala sudut. Musik berdegup dari pengeras suara. Semua orang tampak menikmati suasana. Namun muka Noni masih seperti baju tak disetrika. Untuk kesekian kalinya, Noni mendatangi Eko. “Udah telepon ke rumahnya? Dia udah sampai?” tanyanya resah. “Kata orang rumahnya, dia nggak jadi ke Jakarta. Kalaupun iya, pasti langsung ke sini, dan nggak pulang dulu,” jawab Eko, berusaha setenang mungkin. “Nggak jadi ke Jakarta?” Mata Noni membelalak. “MUNGKIN, Noni. Mungkin nggak jadi. Nggak ada yang tahu pasti, oke?” Eko berusaha meredam kegelisahan pacarnya, “Hp-nya mati dari tadi. Telepon di tempat kos juga nggak ada yang angkat.” “Keterlaluan deh Kugy…” Noni berkata lirih. Kekecewaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Terdengar suara seseorang memanggil mereka dari kejauhan. “Noni! Eko! Bentar lagi tiup lilin! Siap-siap di dekat sini, yuk!” seru Wanda. Lunglai, Noni berjalan ke dekat meja tempat kuenya nanti dipajang. Wanda berdiri di sana sambil senyum-senyum.“Hi guys, aku punya bonus buat kalian,” Wanda menyambut mereka dengan dua gelas berisi champagne. “Dom Perignon. Aku ambil satu botol dari lemarinya Papi. Ssst, diam-diam ya, ini khusus buat kita doang, lho,” Wanda cekikikan sendiri. Eko mengambil satu gelas. Sementara Noni menggeleng, “Buat lu aja, Wan,” katanya dengan muka enggan. “Oh, come on, girl! Have fun! Kenapa sih muka lo kusut banget?” tanya Wanda seraya menenggak isi gelas yang ditolak Noni. “Kita mulai aja tiup lilinnya, yuk?” ajak Noni langsung. “Oke. Semuanya udah siap, kan?” Wanda pun meletakkan gelasnya yang sudah kosong dalam sekejap itu. “Medali yang mau dikasih ke Kugy udah ada, Ko?” Tangan Eko spontan merogoh ke kantong belakangnya. Memastikan barang itu ada. Noni punya ide sejak lama ingin mengalungkan medali-medalian untuk Kugy pada pesta ulang tahunnya yang ke-20 ini sebagai tanda persahabatan mereka. Sebuah medali emas yang mereka berdua pesan di toko olahraga, bertuliskan: Sahabat Terbaik dan Terawet. Eko menelan ludah. Meski medali itu telah terparkir dengan baik di kantongnya, ia tidak yakin benda satu itu akan punya manfaat malam ini. Noni pun melengos. “Pakai aja medalinya buat ganjal meja,” gumamnya seraya ngeloyor pergi. =============== Tidak ada yang tahu bahwa sebetulnya pesta ulang tahun Noni itu sudah rusak berantakan. Sebagian besar tamu yang diundang dari luar Jakarta tidak datang. Dan yang paling fatal adalah ketidakhadiran Kugy. Prosesi penyerahan medali “Sahabat Terbaik dan Terawet” yang telah disiapkan matang oleh Noni tidak terjadi. Namun keempat sekawan itu mampu bersandiwara dengan baik, hingga tamu-tamu yang hadir merasa pesta itu berjalan baik-baik saja. Yang ganjil hanyalah Noni yang menghilang dengan cepat hingga acara usai lebih dini dari yang diperkirakan. Pukul sepuluh, hampir semua tamu sudah pulang. Segelintir orang saja yang tersisa, dan sebagian besar adalah pegawai-pegawai dari rumah Wanda sendiri. Keenan mendatangi Eko yang sedang ikut gotong-royong membereskan kursi. “Ko, Noni mana, sih?” tanyanya. “Migraine,” Eko melengos, “biasalah, si Miss Stress satu itu. Masih untung larinya cuma tiduran, nggak ngadu-ngaduin kepala ke tembok.” “Lu yakin Noni nggak apa-apa?” Eko mengangguk, “Tadi udah tidur, kok. Dan ada kakaknya yang nemenin juga,” jawabnya, “kayaknya justru elu yang harus ngejagain seseorang.” “Siapa?” Eko tak langsung menjawab. Dari bawah kolong meja, ia mengeluarkan sebotol Dom Perignon yang sudah tiga perempat kosong. “Kalo tadi nggak gua sita, udah pasti botol ini kering sampai tetes terakhir. Tinggal jadi vas bunga.” “Wanda…?” Keenan terenyak. “Dia di mana?” Eko mengangkat bahu. “Mendingan lu cari dia sekarang dan langsung antar ke kamarnya. Kalau sampai Oom Hans lihat anaknya mabok champagne hasil curian, wah… kita semua pasti kena.” Keenan cepat mengedarkan pandangannya. “Oke, gua cari dia.” *** Tampak siluet dua orang sedang berjoget di pojokan dekat kolam renang, diiringi alunan musik dari plat yang masih aktif berputar. Keenan seketika mengenali keduanya: Wanda dan Ivan, DJ pesta malam itu. “Hi, babe… kamu ke mana aja?” Berseri-seri, Wanda menyapa Keenan. Gerakannya tampak terhuyung-huyung. Justru Ivan yang kelihatan tersentak, dan langsung buru-buru melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Wanda. “Hai, Nan. Whassup…” sapanya, berusaha santai. Keenan tak menjawab. Tangannya langsung merentang, mengajak Wanda pergi. “Wanda, kamu mabok,” tandasnya langsung, “aku antar kamu ke kamar. Sekarang.” Wanda menyambut tangan Keenan sambil sempoyongan. Berat tubuhnya seketika dijatuhkan ke dekapan Keenan. “I can’t walk…” bisiknya di kuping Keenan. “Kalau kamu masih bisa joget, kamu pasti masih bisa jalan. Ayo,” dengan nada tegas, Keenan melepaskan rangkulan Wanda lalu menggandengnya. Susah payah, Wanda pun berusaha mengikuti langkah Keenan. “Nan… jangan cepat-cepat dong,” rajuknya. Namun Keenan tak menghiraukan, ia terus berjalan dengan irama yang sama, dan tangannya tak lepas menggiring Wanda. Sesampainya di depan kamar Wanda, Keenan pun menghentikan langkahnya. “Kamu nggak seharusnya minum sebanyak itu. Kontrol sedikit, kenapa sih?” tegurnya pedas. Wanda menatap lurus-lurus mata Keenan, dan malah tersenyum. “Kamu marah karena aku minum, atau karena—Ivan?” tanya Wanda, dan senyumnya terus melebar, “are you jealous?” “Dari yang saya lihat, Ivan cuma efek samping. Penyebab utamanya karena kamu kebanyakan minum. Kamu beruntung ayah kamu belum pulang,” tandas Keenan lagi. Wanda tertawa ringan, “Ah, he wouldn’t know the difference. Papi lebih jago membaca lukisan daripada anaknya sendiri…” “Kamu harus istirahat, Wanda. Minum air putih yang banyak. Mandi air panas dulu kalau perlu,” ujar Keenan seraya membukakan pintu kamar itu. “Saya pulang dulu, ya.” “What?” Wanda langsung menarik Keenan masuk, lalu menutup pintu kamarnya. “Kamu nggak boleh pulang!” Sejenak Keenan melirik pintu yang sudah tertutup di balik punggungnya. Dan seperti membaca gerak mata Keenan, Wanda cepat menyelinap dan bersandar menghalangi pintu. “Wanda… please… jangan kayak anak kecil… saya harus pergi,” ujar Keenan setengah mengeluh. “Why? Kenapa harus pergi? Aku mau kamu temenin aku. Dan kamu kan pacarku. I want you to stay.” “Karena kamu lagi nggak sober, that’s why,” Keenan berkata lagi, “dan saya nggak kita melakukan hal yang bodoh hanya karena kamu mabok.” Mendengar perkataan Keenan, Wanda pun tertawa lepas. “Aku tuh kayak pacaran sama homo, tahu nggak!” katanya lantang. Dengan gerakan sekaligus, Wanda merangkul leher Keenan, “Kamu bisa bayangin apa yang dilakukan cowok kayak Ivan kalau dia punya kesempatan ini? Di kamar ini, berdua sama aku?” bisiknya dengan bibir yang ditempelkan di atas bibir Keenan. Sontak, Keenan menahan napas, menarik jauh lehernya. “Wanda, tolong dengar baik-baik. Bukannya saya nggak mau, dan bukannya saya nggak ngerti kesempatan apa yang saya punya. But you’re drunk. This is not right.” “Taik! You’re such a hypocrite!” teriak Wanda kesal. “Gue nggak mabok aja lo nggak pernah mau! Nggak usah pakai alasan sober atau enggak. You never wanted me. You never loved me. You never did! Padahal gue udah mati-matian mengusahakan segalanya buat elo! Gue udah mau kasih semuanya buat elo!” Keenan terdiam. Walaupun ia tahu Wanda tidak sedang dalam keadaan sepenuhnya sadar, tak urung kata-kata itu kembali mengusik rasa bersalahnya. Lembut, ia berusaha menarik Wanda dan mendekapnya. Namun Wanda sudah terlalu emosional. Ditepiskannya tangan Keenan dengan kasar. ========== “Gue nggak butuh dihibur! Gue nggak butuh dikasihani! Gue ogah terus ngemisngemis perhatian sama lo kayak orang nggak punya harga diri! Pergi, sana!” Wanda berteriak marah, tangannya mengacung tegas menunjuk ke arah pintu. “Pulang aja ke Bandung, balik ke kotak sabun busuk itu! Pergi!” Keenan menghela napas panjang. Berusaha mencamkan pada dirinya sendiri bahwa Wanda sedang dipengaruhi alkohol, bahwa ia tidak sungguh-sungguh mengucapkan itu semua. Dengan nada sewajar mungkin, Keenan berusaha pamit dengan sopan, “Ya, udah. Kamu istirahat malam ini, ya. Saya akan mampir ke sini lagi besok…” “Apa bedanya besok sama malam ini? Emangnya kalau besok lo jadi mau sama gue?” sambar Wanda dengan nada yang semakin tinggi, “Forget it, Keenan! There will be no tomorrow for you!” Dengan gerakan sempoyongan, Wanda lantas membungkuk, menyibak bed cover tempat tidurnya yang menjuntai menyentuh lantai, lalu menarik keluar gulungan-gulungan karton besar yang kelihatan membungkus sesuatu. “Ambil ini! Bawa pulang lagi!” Wanda mengempaskan benda-benda itu. Kerongkongan Keenan seperti tercekat. Perasaannya langsung tak enak. Diambilnya satu gulungan itu, membuka sedikit lapisan karton pembungkusnya. Begitu Keenan tahu bahwa gulungan itu adalah kain kanvas, seketika lututnya terasa lemas. Jantungnya berdegup kencang. Keenan menyadari jumlah gulungan karton itu pun persis sama… empat. Jumlah lukisannya yang dipajang di Galeri Warsita dan dilaporkan telah laku terjual. Nanar, Keenan menatap Wanda. “Tolong jelaskan sebisa kamu, kenapa lukisan saya bisa ada di sini?” tanyanya dengan suara tertahan. “Karena… lukisan lo dibeli sama GUE! Puas?” Keenan mematung. Berusaha mencerna kalimat Wanda. Berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Pikirannya merangkaikan semua kejadian selama ini, menghubungkannya dengan intuisi yang selama ini tak pernah bisa ia jelaskan. Peristiwa demi peristiwa terhubung, dan ia seolah menyaksikan sebuah kebohongan menggelembung, merekah kian besar, dan kini berdiri lurus-lurus di hadapan. Keenan serta merta memalingkan muka, tak kuat melihat Wanda. Wanda menyaksikan betul perubahan air muka itu, dan perlahan timbul rasa panik di hatinya. “Nan… aku nggak bermaksud jahat. Aku cuma ingin nolong kamu…” katanya terbata. Keenan merasa kebohongan ini terlalu gigantis untuk ia cerna. Kepalanya berputar. Hatinya teraduk-aduk. Galeri Warsita, cek itu, rasa percaya dirinya, keyakinannya untuk melukis… impiannya musnah satu demi satu dalam hitungan detik. Seiring dengan kedoknya yang ikut meluruh, air mata pun mulai membasahi mata Wanda. Kemarahannya yang tadi meledak-ledak dengan esktrem berganti menjadi tangis tersengguksengguk. “Nan… I’m sorry… aku tahu itu salah. Please understand, aku sayang banget sama kamu… don’t leave... please…” Wanda tahu-tahu melorot, bersimpuh di atas kedua lututnya, memeluk kaki Keenan. Kembali Keenan hanya mematung. Matanya melirik Wanda yang menangis menjadi-jadi sambil merangkul erat pahanya. Terasa celana panjangnya melembap karena air mata. Namun Keenan tak mampu bereaksi apa-apa, ingin bicara pun tidak. Kegalauan yang ia rasakan ternyata melampaui amarah, melampaui segala reaksi emosi yang ia kenal. Lama Keenan membiarkan Wanda tersedu-sedan sambil meratapkan segala penyesalannya, hingga perlahan, Keenan melepaskan rangkulan tangan Wanda di kakinya, lalu menariknya lagi untuk kembali berdiri. “Keenan… please, say something, anything… kamu boleh marah-marah kayak apa aja, aku rela, aku siap terima, tapi jangan pergi…” Keenan memungut gulungan-gulungan itu dengan hati remuk redam. “Uang kamu akan saya kembalikan. Utuh. Dan saya akan bawa pulang lagi semua lukisan ini,” katanya lirih. Wanda menatapnya pilu. “Nan… jangan pergi…” “Kamu bisa beli lukisan-lukisan ini, Wanda. Tapi kamu nggak akan pernah bisa membeli saya,” desis Keenan sambil membuka pintu. Dipanggulnya keempat lukisan itu, berjalan pergi dan tak menoleh lagi. Bandung, September 2000… Ada lima silinder karton yang sudah dibawanya ke kantor ekspedisi itu: empat lukisan yang ia bawa dari rumah Wanda, dan satu ikut ditambahkannya: lukisan “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit”. “Formulirnya sudah selesai?” Petugas itu bertanya sambil melirik formulir yang sedari tadi diberikannya pada Keenan tapi tak kunjung diisi. “Sebentar, Pak…” jawab Keenan. Dilihatnya sekali lagi kelima silinder yang sudah tergulung dan terikat rapi itu. Dengan berat, akhirnya ia melengkapi formulir pengiriman paket tersebut. Setelah formulir dikembalikan, petugas tadi mengecek sekali kelengkapan isian Keenan. “Ubud – Bali, ya? Tiga-empat hari sudah sampai,” gumamnya. “Ada yang bisa dibantu lagi?” Keenan menggeleng. Petugas lain pun datang untuk mengambil gulungan-gulungan itu. “Pak… tolong hati-hati,” sela Keenan cemas, “bisa tolong ditempel stiker ‘fragile’? Dan tolong jangan kena air.” Sambil sedikit manyun, petugas itu pun menyiapkan stiker-stiker petunjuk yang diminta Keenan. Sampai kelima benda itu dimasukkan ke dalam gudang, mata Keenan tak lepas mengawasi. Sejenak lagi, kelima lukisannya akan berlayar ke Pulau Dewata, dan Keenan merasa benarbenar seperti hendak melepaskan mereka ke khayangan. Entah kapan bisa melihatnya lagi. Dalam hati, ia telah mengucapkan selamat tinggal pada impiannya, pada lukisannya. Namun apakah ia sungguhan siap, Keenan tak berani lagi memeriksa. Yang ia tahu dan yakini, lukisanlukisan itu akan berada di tangan yang baik. Saat ini, itulah yang lebih penting. Bersambung ke PART 6: Bintang di Ubud..... ========== Judul : Bintang di Ubud PART 6: Bintang di Ubud Setengah jam yang lalu, kamar itu masih gelap. Sekarang cahaya lampu sudah membayang dari tirai jendela, dan papan berhuruf warna-warni yang tergantung di pintu sudah bertuliskan: NONI ADA. Kugy memandangi kamar itu dengan hati kecut. Sudah tiga hari sejak pesta ulang tahun itu, dan baru malam ini Noni kembali dari Jakarta. Mereka belum bicara lagi sejak itu. Tepatnya, Kugy tak punya cukup keberanian untuk menghubungi Noni. Sampai hari ini pun lidahnya masih kelu, tak tahu harus bilang apa. Pintu itu membuka. Noni keluar dari dalam membawa kantong sampah yang siap dibuang. Kugy pun tersentak. Namun sudah terlambat untuk bergerak ke mana-mana. Noni mengangkat mukanya sedikit, menyadari bahwa ada Kugy sedang berdiri di koridor. Cepat, mata Noni berpaling ke arah lain. “Hai, Non…” Dengan suara pelan dan sedikit bergetar, Kugy menyapa. Noni tak menjawab, melirik pun tidak. Ia berjalan keluar seolah Kugy tak punya wujud. Kugy menelan ludah. Sempat melintas di pikirannya untuk mengejar Noni dan berbicara lebih panjang, tapi kakinya terasa kaku. Ia tak punya cukup nyali. Akhirnya Kugy masuk ke kamarnya. Ia sadar, sebuah perang dingin resmi dimulai. Dan entah kapan akan berakhir. *** Pukul sepuluh malam. Lambungnya riuh rendah seolah tengah berlangsung pertandingan bola. Terakhir dia makan adalah tadi siang, dan tampaknya lambungnya tak akan mendapat olahan baru sampai besok siang lagi. Keenan menepuk-nepuk pelan perutnya, berbisik sendirian, “Sabar, ya. Jangan masuk angin dulu, karena saya harus lihat langit.” Terduduklah Keenan di dekat jemuran yang bisa ia datangi dengan cuma membuka jendela kamar. Di sana ia bisa memandang hamparan atap rumah lain beserta pendar-pendar lampu di rimba gang yang padat ini. Keenan menengadah. Dari tempat ia duduk, langit tampak berhiaskan saling-silang tali jemuran. Beberapa kolor dan jins tidak kering yang masih diangin-anginkan. Tidak apa-apa, pikirnya. Memandang angkasa malam adalah pelipur sederhana yang membantunya sedikit merasa lebih baik. Sesungguhnya, Keenan tak keberatan dengan rasa lapar ini. Baginya, itulah bagian dari konsekuensi yang harus ditanggungnya dengan mengirit setiap rupiah dari sisa uangnya yang tak seberapa lagi. Namun tak ada yang bisa mengobati kekosongan jiwanya. Dan rasa kosong ini lebih menyakitkan dari apa pun. Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup membelinya, pikir Keenan getir. Uang memang tidak akan pernah bisa jadi ukuran. Rasa percaya dan uang ada di dimensi yang sama sekali lain. Kini ia yakin itu. Ludahnya terasa memahit. Baru kali ini ia merasa prihatin pada dirinya sendiri. Kalau bisa, ia ingin mengirim kembang tanda duka cita. Tak punya rasa percaya… tak ada kebanggaan… hampa. Dan kembali Keenan merenung: bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa harusnya berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit. Sayup-sayup terdengar lagu dari kaset yang diputar di kamarnya: “Fare thee well my bright star It was a brief, brilliant miracle dive that which I look up to and I clung to for dear life … your last dramatic scene against a night sky stage.” Mendadak sesuatu menyusupi hampanya. Rasa sedih. Masa gemilang itu datang, sekejap, dan tak lebih dari sebuah drama besar. Dan Keenan merasa seperti aktor malang yang bermimpi melampaui skenarionya. Keenan menatap pendar-pendar lampu rumah, lalu bergerak ke atas menatap serakan bintang di langit. Tiba-tiba wajah neneknya di Amsterdam melintas. Keenan teringat hari terakhir mereka bersama, saat Oma memasakkannya sup kacang merah yang mereka nikmati dalam hening. Kesedihan yang mereka berdua simpan dan tak tuntas terungkapkan. Keenan mengkhayalkan bisa kembali ke sana malam ini, meninggalkan semuanya tanpa kecuali. Namun kedua kakinya hanya sanggup mengantarkannya ke atap itu. Tak bisa lebih jauh lagi. Ingatan akan Oma dan langit malam berbaur, semuanya lebur dan tampak kabur dari mata yang basah oleh air mata. Bandung, Oktober 2000… Kugy tak bisa melupakan pagi ini. Untuk pertama kalinya ia pindah mengajar ke saung baru yang dibangun oleh orang-orang kampung. Keberadaan Sakola Alit dan konsistensi Ami dan kawankawan akhirnya menarik simpati penduduk sekitar. Berkat gotong-royong warga, satu saung baru didirikan. Mereka khawatir kegiatan belajar mengajar di Sakola Alit terganggu karena musim hujan sudah tiba, sementara mereka tahu bahwa ada kelas yang selama ini dijalankan di bawah pohon. Meski semua anak senang dan bersemangat dengan tempat baru mereka, tak urung muka anakanak pagi itu kusut karena hari ini mereka belajar perkalian dan pembagian. Kugy mengamati anak didiknya yang tampak mutung dan tak bergairah. Ia sendiri pun mulai ikut putus asa. Belum berhasil mendapatkan cara yang lebih kreatif untuk mengajar. Tiba-tiba seorang muridnya, Dodi, berlari ke arah saung dengan tergesa. Wajahnya berseri-seri, tangannya menunjuk ke arah belakang. Tawanya merekah, memampangkan gigi serinya yang ompong. “Bu Ugiiii… ada Pak Guru Rangginang…” serunya lantang. Rangginang? Kugy bertanya dalam hati. Saat ia melongok ke arah yang ditunjuk Dodi, sadarlah ia siapa yang dimaksud anak itu. Dan sungguhan Kugy tak siap. “Keenan…” desisnya. Sejenak Kugy menunduk, memejamkan mata, berusaha mengumpulkan tenaga dan kekuatan. Dalam sekejap, tawa segar muncul di wajahnya, dan ia pun menyapa dengan ceria, “Halo, Pak Guru! Selamat datang di kelasku yang baru!” ========= Keenan tersenyum. Ada kehangatan yang seketika memenuhi rongga hatinya melihat tawa lebar Kugy yang khas. Keenan menamakannya “tawa pengampun”, karena layaknya matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun membawa efek yang sama bagi dirinya. Kehangatan yang lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan murni. Setelah Keenan mendekat, barulah Kugy menyadari perubahan yang terjadi. Keenan tampak lebih kurus. Dan kedua matanya menunjukkan bahwa ia lelah. Kugy pun menyadari, perubahan yang sama juga terjadi pada dirinya sendiri. “Apa kabar, Kecil?” sapa Keenan. “Kamu kok tambah kecil…” “Pemadam Kelaparan baru naikin harga soalnya, jadi asupan makanan ke badanku agak berkurang,” Kugy terkekeh. “Kamu juga kurusan. Kamu baik-baik?” Keenan mengangkat bahu sambil nyengir. “Lumayan,” jawabnya singkat. Kehadiran Keenan seketika membawa suasana berbeda. Semua anak merasa Keenan adalah penyelamat yang akan membebaskan mereka dari pelajaran yang memusingkan pagi itu. Pilik langsung menandak-nandak kegirangan sambil berteriak, “Gambar! Gambar! Gambar!” Kugy menggeleng-gelengkan kepala, “Nggak, nggak! Kalian tetap harus belajar Matematika…” Ucapan Kugy disambut riuh protes. Keenan mengambil sepotong kapur dan mulai menggambar. Dengan cepat, ia menggambar enam layang-layang. “Ayo, dihitung, layang-layangnya ada berapa?” Anak-anak itu berhitung dari satu sampai enam. “Sekarang… Pilik ceritanya harus bagi dua layang-layang ini dengan Dodi,” Keenan menarik garis, “Jadi, Pilik punya berapa, dan Dodi punya berapa?” “Tiga!” Mereka menjawab serempak. Di sudut saung Kugy tersenyum. Tampaknya hari itu ia harus membiarkan kelasnya diambil alih oleh Keenan. *** Kelas Kugy bubar agak lebih siang dari biasanya. Seperti biasa, layaknya penggemar bertemu idola, dengan berbagai cara anak-anak itu menahan Keenan lebih lama agar lebih banyak menggambar. Sebubarnya anak-anak, Kugy dan Keenan gotong royong membereskan saung. “Kadang-kadang aku berharap kamu jadi pengajar tetap di sini,” kata Kugy. “Supaya?” “Ya, supaya anak-anak ada yang mengajarkan menggambar, dan sepertinya lewat gambar banyak sekali cara pengajaran kreatif yang bisa kamu lakukan, yang aku sendiri nggak sanggup…” “Oh. Kirain biar kita tiap hari ketemu,” celetuk Keenan jahil. Kugy tergelak. “Ya, itu boleh juga jadi bonus. Aku nggak keberatan ketemu kamu tiap hari.” “Saya juga enggak.” Keduanya terdiam sejenak. Kugy tahu-tahu meletakkan ransel yang tadinya sudah siap disandangkan di bahu. “Kamu ke mana aja sih, Nan?” “Ada,” sahut Keenan setengah menggumam. “Kok nggak bilang-bilang kamu pindah tempat kos?” “Ceritanya panjang, Gy.” “Kamu bisa mulai cerita sekarang…” tegas Kugy sambil duduk bersila. “Saya udah nggak kuliah lagi dari awal semester. Saya mengundurkan diri,” Keenan bercerita sekenanya. “Ya, aku tahu. Dari Wanda…” Kugy menyahut lirih. “Keluarga kamu gimana? Mereka setuju?” “Saya belum ketemu mereka lagi. Ayah saya sangat tidak setuju pastinya.” Lama Kugy termenung. Segaris senyum lalu membersit di wajahnya. “Kamu berani banget, Nan. Aku salut. Akhirnya, demi melukis kamu mengambil keputusan sebesar itu,” ucapnya tulus. “Saya nggak melukis lagi.” Kugy nyaris mencelat dari lantai. “Ke—kenapa?” tanyanya terbata. “Saya salah selama ini, saya pikir melukis adalah jalan hidup saya, tapi ternyata bukan,” jelas Keenan dengan datar. “Tapi… bukannya kamu mau pameran? Aku sempat ketemu Wanda, dan dia cerita kalau kamu lagi konsentrasi melukis, terus kamu bakal keliling-keliling, pindah ke Jakarta…” Keenan tersenyum samar. “Dia cuma bercanda. Pameran, galeri, keliling-keliling… semuanya cuma bercanda.” “Aku nggak ngerti…” Kugy menggelengkan kepala, “maksud kamu… kamu ditipu sama Galeri Warsita?” “Oom Hans sejak awal sebetulnya nggak setuju lukisan saya masuk ke Warsita, karena menurutnya karya saya belum matang. Tapi karena Wanda yang minta, lukisan saya bisa lolos.” “Iya… tapi kan… lukisan kamu pada akhirnya laku. Empat-empatnya dibeli orang! Itu kan berarti bukti kalau lukisan kamu memang diminati!” “Oleh satu orang tepatnya,” Keenan berkata getir, “Wanda. Dia yang ternyata membeli semua lukisan saya, dan disembunyikan di rumahnya. Saya nggak sengaja tahu. Dia yang kelepasan gara-gara mabok waktu ulang tahun Noni.” Kugy menatapnya tak percaya, “Jadi… selama ini…” “Selama ini semuanya nggak lebih dari cerita cewek kaya yang jatuh hati sama seorang pemimpi. Tapi ini bukan salah siapa-siapa kok, Gy,” Keenan tersenyum samar, “saya nggak menyalahkan Wanda, apalagi Oom Hans. Saya yang terlalu bego.” “Bukan berarti kamu harus mengorbankan impian kamu gitu aja dong, Nan. Masa cuma garagara seorang Wanda kamu jadi berhenti melukis…” protes Kugy tak tertahankan. “Ini bukan masalah Wanda,” potong Keenan keras, “kamu bisa bayangin? Saya sudah mengundurkan diri dari sekolah, saya sudah keluar dari rumah. Dengan naif dan yakinnya saya merasa bisa membuktikan sama keluarga saya, sama orang-orang, kalau saya mampu mandiri dari melukis—” “Ya kalo gitu buktikan, dong!” tukas Kugy balas memotong, “Kenapa malah berhenti?” Kugy menatap Keenan tak mengerti, “Nan, kamu adalah pelukis paling hebat yang saya tahu. Terserah Oom Hans mau ngomong apa, Wanda punya motivasi apa, kolektor-kolektor itu punya penilaian apa… buat saya, kamu melukis dengan seluruh jiwa kamu, dan itu yang penting!” ========== “Gy… kalau saya memang pelukis yang sehebat yang kamu kira, udah dari duludulu Oom Hans langsung meloloskan lukisan saya. Nggak usah pakai dibujuk-bujuk sama Wanda segala. Dan kalau memang saya pelukis yang sebagus yang kamu kira, waktu pameran katalog barunya Warsita sudah pasti ada yang membeli lukisan saya. Nggak perlu Wanda yang sampai pura-pura beli.” “Jadi, cuma gara-gara penilaian satu galeri, dan sekelompok orang yang entah siapa, kamu mengorbankan semua mimpi kamu. Gitu?” Nada bicara Kugy mulai menajam. “Wake up, Gy,” Keenan melengos, “Warsita bukan sekadar galeri. Dan orang-orang itu adalah kolektor lukisan yang berpengalaman. Kamu atau Eko bisa aja bilang lukisan saya bagus karena kalian teman-teman saya. Tapi orang-orang itu lebih tahu.” Kugy menggeleng lagi. “No. YOU wake up! Nggak peduli galeri bilang apa, nggak peduli orangorang itu punya pengalaman apa, harusnya kamu yakin sama diri kamu sendiri.” “Bener banget,” balas Keenan tegas. “Saya harus bangun dan lihat kenyataan. Dan ini realitasnya. Lukisan saya cuma jadi sarana seorang Wanda yang cuma mau pe-de-ka-te. Dan ketololan sayalah yang memungkinkan dia melakukan itu semua.” “Kamu bilang ini bukan masalah Wanda, tapi dari tadi kamu bolak-balik selalu kembali mengungkit dia dan galerinya. Justru aku yang nggak melihat bahwa ini soal Wanda atau Warsita. Ini adalah soal kamu dan keyakinan kamu!” ujar Kugy setengah mengeluh. “Nan… selama ini kamu yang menginspirasi aku untuk tetap yakin pada impian-impianku. Gara-gara kamu aku semangat bikin dongeng lagi. Aku nggak rela kamu menyerah gitu aja—” “Saya nggak pernah minta jadi panutan siapa-siapa. Nggak usah menambah beban saya dengan omongan seperti itu!” Keenan menukas. Setengah membentak. Seketika Kugy bungkam. Dengan sedikit gemetar, tangannya membereskan sisa barangnya yang tercecer, lalu ia menyandangkan tasnya di bahu. Bersiap pergi dari situ. “Ternyata selama ini saya ketinggian menilai kamu…” desisnya tanpa lagi menatap Keenan. Tak lama, langkahlangkahnya yang besar membawa Kugy dengan cepat menghilang di balik rimbunan bambu. Ia berjalan buru-buru tanpa menoleh. Di tempatnya, Keenan duduk diam dan hanya sanggup menatapi. Banyak kata yang ia sesali tapi telanjur terucap. Namun untuk menahan Kugy, ia bahkan tak punya percaya diri yang cukup untuk itu. Angin dingin yang berembus menyentuh kulitnya seolah menembusi pori, memasuki nadi, dan meninggalkan perasaan kehilangan yang menjalar ke seluruh tubuh. Mendadak, Keenan menggigil. Tak hanya kehilangan, ia pun merasa ditinggalkan. ========== Sendirian di kamarnya, Kugy mulai menulis seperti orang kesetanan. Malam itu ia berniat menumpahkan semuanya dalam lembaran-lembaran kertas kosong. Dalam sekejap, bidang petak putih itu terisi penuh oleh tulisan tangannya. Sambil menulis, tak jarang air matanya ikut terselinap, meninggalkan jejak-jejak tinta yang memecah di atas kertas. Kugy tak tahu itu air mata sedih atau marah, dan ia tak lagi peduli. Baru pada lembar ketiga, kecepatan menulisnya mulai melambat. Perasaan yang tadi campur aduk mulai menunjukkan wajah aslinya. Seharusnya ia bersukacita saat tahu hubungan Keenan dan Wanda usai. Seharusnya ia lega ketika tahu Keenan tidak jadi pindah ke Jakarta dan meninggalkan dirinya karena sibuk mempromosikan lukisan. Tapi ternyata tidak. Kugy pun tersadar, inilah patah hati yang sesungguhnya. Hatinya pernah hancur ketika tahu Keenan harus bersama orang lain, tapi hatinya baru benar-benar patah ketika tahu bahwa Keenan bukanlah sosok yang selama ini ia cinta. Pada lembar ketiganya, Kugy mulai menangis sedih. Tidak banyak lagi yang ia tulis. Hanya beberapa baris penyesalan. Kugy menyadari, selama ini ia telah menciptakan sendiri ilusi tentang Keenan dan mencintai ilusi itu. Kenyataannya, Keenan rapuh dan lemah. Terdengar suara pintu di kamar sebelah membuka. Tak lama, terdengar langkah Noni di koridor. Mendengar suara-suara itu, Kugy menelan ludahnya yang terasa pahit. Tak hanya ia kehilangan cintanya, ia pun telah kehilangan Noni dan Ojos gara-gara cinta itu. Orang-orang yang ia cinta. Dilipatnya lembar-lembar kertas tadi, membentuknya menjadi tiga perahu kertas. *** Di seberang kampus, ada sebuah pemukiman yang dilewati kali. Itulah aliran air terdekat yang bisa Kugy temukan. Pagi itu, sebelum kuliah, Kugy menyempatkan diri mampir ke kali. Terdapat beberapa anak kecil yang sedang menangkapi impun. Kugy beringsut maju, menjauhi mereka. Ia tak ingin misi pentingnya gagal secara prematur hanya karena anak-anak tadi tak jadi menangkapi impun, dan malah lebih tertarik pada barang yang ingin ia hanyutkan. Setelah merasa di jarak aman, barulah Kugy berhenti dan mendekat ke tepi kali. Dari dalam ranselnya, ia mengeluarkan tiga perahu kertas. Tak ada saluran lain, tak ada teman bicara lain… hanya Neptunus, batinnya. Satu demi satu, ia pun mengapungkan perahu-perahu kertasnya ke kali. Sesuatu seperti lepas dari hatinya seiring dengan melajunya perahu-perahu tadi. Kugy merasa lebih lega bernapas. Sekian lama sudah ritual ini terkubur, dan dibutuhkan sekian banyak peristiwa untuk membangkitkannya kembali. Kugy lupa betapa melegakannya perasaan ini, saat cerita dan beban hatinya dihanyutkan air menuju lautan. Betapapun jauhnya perjalanan itu. Bandung, November 2000… Hari pertama di bulan November. Keenan dikagetkan oleh kedatangan Bimo yang muncul di tempat kosnya pagi-pagi. “Hai, Nan… apa kab—?” Bimo sampai menghentikan kalimatnya ketika sepenuhnya menyadari apa yang ia lihat, “gila, lu kurus banget, Nan.” Keenan, yang berdiri di pintu, hanya tersenyum. Itu adalah komentar klasik yang selalu ia terima setiap kali bertemu dengan teman kampusnya. “Hai, Bim. Masuk, yuk,” sapa Keenan seraya membuka pintu kamarnya lebih lebar, menyilakan Bimo masuk. “Gua mau ngasih ini,” Bimo menyerahkan sepucuk amplop putih. Keenan menerima surat itu dan seketika mengenali tulisan tangan yang tertera. Alamat pengirim di sampul belakang amplop itu mengonfirmasi dugaannya. Surat dari Pak Wayan di Ubud, dikirimkan ke alamat kosnya yang lama. “Surat ini kapan sampai?” tanya Keenan. “Sebetulnya udah cukup lama, Nan. Mungkin hampir dua minggu. Tapi baru sampai ke tangan gua semingguan yang lalu. Dan baru sekarang gua baru sempat ke sini. Sori, ya,” jelas Bimo. “Nggak apa-apa. Thanks, Bim. Harusnya gua aja yang ambil ke sana. Nggak perlu sampai lu ke sini…” Bimo tergelak. “Lha! Lu bisa tahu adanya surat ini dari mana? Telepati? Hp lu kagak punya, kosan ini kagak punya telepon! Nan… nan… kayaknya lu udah kekurusan sampai otak lu agak ciut…” “Oh, iya. Bener juga…” Keenan ikut mesem-mesem. “Sarapan, yuk. Gua yang traktir. Kapan lu terakhir makan enak?” Keenan berpikir, lalu menggelengkan kepala. “Kalau soal enak, kayaknya sih makanan gua enakenak aja. Tapi kalau enak dan mahal… hmm… gua sampai udah nggak inget terakhir kapan. Otak udah ciut!” Bimo terkekeh. “Siap! Mahal dan enak it is then!” *** Acara sarapan bersama Bimo ternyata berlanjut hingga menjelang sore. Keenan kembali menjenguk kampus dan nongkrong seharian bersama teman-teman lamanya. Keenan tersadar betapa ia merindukan kebersamaan semacam itu. Sejak insiden di rumah Wanda, ia lama menyendiri dan mengurung diri bak seorang pertapa. Kedatangan Bimo benar-benar terasa bagai angin segar di tengah atmosfer jiwanya yang pengap. Keenan membuka jendela kamar kosnya lebar-lebar. Tempat ini pun butuh angin segar setelah seharian tertutup dan terpapar panas matahari siang. Ia menimang-nimang amplop itu, bertanyatanya adakah surat itu menjadi angin segar berikutnya. Keenan menggeleng sendirian, seolah menyesali pikirannya sendiri. Ia lelah berharap. Tanpa pikir panjang lagi, Keenan membuka surat itu. Terdapat dua lembar kertas surat bertulis tangan dan selembar kertas tambahan. Seketika Keenan terenyak ketika menyadari apa kertas itu. Langsung dibacanya surat itu dengan tergesa-gesa. Setelah selesai, Keenan pun mematung. Lama. ========== Keenan memandangi kertas-kertas di pangkuannya. Pikirannya masih berusaha mencerna dan hatinya berusaha beradaptasi dengan berbagai lonjakan perasaan yang sontak muncul ketika membaca surat dari Pak Wayan. Untuk kedua kalinya, Keenan membaca surat tersebut. Kali ini dengan lebih lambat. Pak Wayan menceritakan betapa kagetnya dia ketika dikirimi lukisan-lukisan Keenan yang seperti jatuh dari langit saking tak terduganya. Sekalipun di surat pengantarnya Keenan menuliskan sejelas-jelasnya bahwa itu semua adalah kenang-kenangan sekaligus tanda terima kasih untuk apa yang didapatnya selama di Bali, Pak Wayan merasa ada sesuatu yang luar biasa yang telah terjadi dalam hidup Keenan. Namun Pak Wayan tidak berhasil menghubungi Keenan untuk bertanya langsung. Salah satu lukisan Keenan yang paling disuka oleh Pak Wayan lantas diberi rangka kayu dan dipajang begitu saja di studionya. Beberapa minggu kemudian, lukisan itu mencuri perhatian seorang kolektor lukisan dan ia tertarik ingin membeli. Pak Wayan sudah mengatakan bahwa lukisan itu tidak dijual, tapi orang itu benar-benar gigih dan bersikeras ingin membeli. Pak Wayan bilang, orang itu seperti terkena cinta buta. Ia jatuh hati habis-habisan pada lukisan Keenan. Pak Wayan lalu minta maaf jika dirinya lancang, tapi kata hatinya mengatakan untuk melepaskan lukisan Keenan pada orang tersebut. Dalam suratnya, Pak Wayan menulis: “… seperti cinta yang satu hari bertalian tanpa bisa dijelaskan, saya merasa lukisan itu menemukan jodohnya. Saya kenal baik dengan orang yang membeli lukisan kamu itu, dan saya yakin lukisan itu berada di tangan yang baik. Dia membelinya bukan semata-mata untuk investasi, tapi karena cinta.” Keenan lanjut membaca: “Lukisan yang satu itu memang sangat bagus dan rohnya kuat. Sekalipun saya sendiri ingin sekali menyimpannya, saya juga tidak mau menghambat rezeki kamu. Semoga uang ini bisa bermanfaat banyak. Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud? Saya dan keluarga besar di sini selalu mengharapkan kamu pulang. Tolong beri kabar secepatnya setelah kamu menerima surat ini.” Kembali Keenan memandangi selembar kertas yang diselipkan di dalam dua lembar surat tadi. Selembar cek senilai lima juta rupiah. Di sana dituliskan keterangan: Pembelian lukisan: “Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.” Sisa hari itu dihabiskan Keenan dalam perenungan. Sore berganti malam. Langit jingga berganti hitam. Dan ia masih merenung. Banyak yang berkecamuk di benaknya. Hal-hal yang tadinya tak terlintas dan tak digubris. Ada keraguan, trauma, dan gentar. Namun kalimat satu itu terus mengiang-ngiang: Kapan kamu pulang ke rumahmu di Ubud? Jakarta, November 2000… Perempuan itu tidak sanggup menahan aliran air matanya. Mereka berjanji bertemu pada jam di mana semua orang sedang berada di luar rumah, dan ia hanya sendirian. Hatinya seketika tersayat dan teriris melihat anaknya sendiri muncul sembunyi-sembunyi seperti narapidana yang kabur dan enggan tertangkap. Keenan pun terpaksa membiarkan ibunya menghabiskan seperempat jam pertama pertemuan mereka untuk menangis. “Tapi… kamu… sehat-sehat kan, Nan?” Lena kemudian bertanya patah-patah. “Sehat, Mam. Biarpun jadi kurus gini, saya nggak pernah sakit, kok,” jawab Keenan, berusaha santai. “Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau. Percaya sama Mama. Papa kamu pasti melunak. Di luarnya saja dia keras, tapi sebenarnya dia kehilangan sekali sama kamu…” Keenan tersenyum tipis. “Saya ingin ketemu Mama hari ini bukan karena saya kepingin pulang ke rumah. Tapi… saya justru ingin pamit.” Lena langsung tersentak. “Pamit? Ke mana?” Keenan tak segera menjawab. Ia mengeluarkan amplop berisi surat dari Pak Wayan dan menyerahkannya pada ibunya. “Tolong baca ini, Ma.” Lena pun mulai membaca. Napas panjangnya menghela ketika ia sampai pada akhir surat. Ia seketika tahu arti pertemuan ini. Perpisahan yang kedua kali akan segera terjadi. Namun kali ini, ada semacam kelegaan karena ia tahu anaknya akan terjaga dengan baik. “Saya akan tinggal dengan Pak Wayan,” ujar Keenan mantap, “lusa saya berangkat.” Lena menatap anaknya lurus-lurus dari matanya yang tersaput air. Menyadari betapa bocah kecilnya telah tumbuh besar menjadi seorang laki-laki dewasa yang memiliki jalan hidup sendiri. Sejenak lagi Keenan terbang dengan sayapnya, menuju tempat dan kehidupan yang ia pilih. Tidak dirinya, atau siapa pun, yang mampu membendung kepakan sayap-sayap itu. Suara Lena bergetar saat ia mengucap, “Baik-baik di sana, ya? Jangan bikin susah Pak Wayan.” Keenan menelan ludah. Sangat kentara ibunya berusaha kelihatan tegar demi dirinya. Mata Keenan mulai panas. Pandangannya mulai mengabur. Keenan terpaksa mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum bisa lanjut berkata-kata. “Saya ada satu permintaan lagi, Ma…” “Apa itu?” “Tolong jangan bilang siapa-siapa saya ada di Ubud. Bahkan Jeroen nggak perlu tahu. Cukup Mama yang tahu.” Lena merasa dadanya sesak. “Saya benar-benar ingin memulai halaman baru. Dari nol lagi. Ini jalan hidup saya, Ma. Dan saya nggak mungkin kembali ke penjara yang sama.” Lama Lena tercenung, sampai akhirnya kepalanya mengangguk. Berat. Perlahan, Keenan bangkit berdiri. Mengecup kening ibunya, dan mendekapnya erat. Setiap bulir detik bergulir penuh arti. Hanya hening dan air mata yang jatuh sesekali dari mata keduanya. ========= Ubud, November 2000… Dua puluh jam Keenan terduduk dalam bus yang mengantarkannya dari Bandung hingga terminal Ubung. Selama dua puluh jam, matanya tetap membeliak terjaga. Sesuatu dalam perjalanan ini membuatnya gelisah sekaligus bersemangat. Keenan menyadari, ini adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah dibuatnya selama hidup. Dalam hati ia pun merasa, sesuatu yang besar akan menantinya di Ubud. Dari jendela bus, tampak Pak Wayan dan keponakannya, Agung, menunggu di terminal. Keenan langsung mengenali dua sosok yang sama-sama tinggi besar itu hilir mudik memakai setelan lengkap: sarung, kemeja, dan udeng. Seperti habis baru selesai upacara. “Poyan! Agung!” Keenan melambaikan tangan begitu menginjakkan kaki ke tanah. Serta merta terbit tawa cerah di wajah Pak Wayan, sementara Agung dengan gesit langsung berlari menghampiri Keenan dan membantu membawakan tasnya. “Agung, rupanya ada yang harus cepat-cepat kita kasih makan sebelum dia dilirik sama anjinganjing seluruh Bali karena disangka tulang berjalan,” Pak Wayan terkekeh. Keenan ikut terkekeh, “Setuju, Poyan. Saya nggak nolak dikasih makan, apalagi kalau bisa sekarang.” Pak Wayan tergelak seraya merangkul Keenan erat-erat, “Saya senang sekali kamu pulang ke sini. Keluarga di Ubud sudah menunggu.” Hati Keenan berdesir mendengarnya. Haru. Ia pun tersadar betapa ia merindukan konsep itu: pulang, dan… keluarga. *** Mobil itu tiba di sebuah gerbang kayu tinggi yang diapit pohon-pohon rindang dan semak-semak tanaman rambat yang tumbuh besar dan rapat. Di balik gerbang kayu itu langsung terlihat puncak pura yang mencuat hingga tampak dari jalan. Di lahan hektaran itulah tinggal keluarga besar Pak Wayan dalam beberapa rumah terpisah. Terdapat pula sekurang-kurangnya tiga studio kerja besar yang menampung segala macam aktivitas dan barang-barang seni yang digarap oleh keluarga seniman itu. Napas Keenan sontak tertahan melihat gerbang kayu itu lagi. Rumahnya yang baru. Ia tak bisa membendung senyum yang menyungging otomatis di mulutnya. Pak Wayan tidak melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa seluruh keluarganya telah menunggu. Lagi-lagi, Keenan harus terenyak haru ketika melihat keluarga Pak Wayan berkumpul di teras saat mobil mereka tiba di halaman depan kompleks itu. “Beli! Apa kabar?” Banyu, salah satu keponakan Pak Wayan yang akrab dengan Keenan, langsung menyongsong dan merangkul Keenan dengan hangat. Disusul Pak Putu ayahnya Banyu, lalu yang lainnya. Wajah-wajah yang tak asing. “Kamar kamu yang dulu sudah dibersihkan. Sekarang ditambah lemari pakaian, karena katanya Keenan sudah mau tinggal terus di sini, ya?” ujar Ibu Ayu berseri, adik ipar Pak Wayan sekaligus ibu kandung dari Agung. “Iya, Bu. Rencananya begitu,” jawab Keenan dengan tawa lebar. “Ini, saya bawakan oleh-oleh sedikit dari Bandung, Bu. Buat semua yang di sini,” Keenan pun menyerahkan sekantong besar aneka makanan yang ia sempatkan beli di toko oleh-oleh sebelum menaiki bus kemarin. “Mata kamu kelihatan capek sekali, Nan,” celetuk Pak Nyoman, adik Pak Wayan yang juga sama-sama pelukis. “Di jalan saya nggak bisa tidur, Pak. Saya belum tidur dari kemarin. Tapi rasanya masih oke, kok,” sahut Keenan. “Wah! Kamu harus cepat istirahat kalau gitu,” sambar Ibu Ayu, “Tidur dulu saja. Nanti malam baru dibangunkan untuk makan sama-sama, ya?” “Boleh, Bu. Terima kasih banyak,” Keenan menjawab dengan anggukan semangat. Ia sama sekali tidak keberatan dengan ide itu. Begitu kakinya kembali ke rumah ini, seluruh sistemnya seolah melepas beban dan ketegangan yang menumpanginya sejak berangkat, hingga lelah tubuhnya pun akhirnya terasa. “Luhde!” pangil Ibu Ayu, “tolong kamu antar Keenan dulu, jangan lupa nanti siapkan minum.” Alis Keenan sedikit berkerut. Nama itu asing. Dan sesosok asing yang sedari tadi berdiri malu di pojok, tertutup orang-orang, menyeruak keluar. Menatap Keenan sambil setengah menunduk. “Keenan, kenalkan, ini Luhde Laksmi. Keponakan saya dari keluarga di Kintamani,” jelas Pak Wayan, “Luhde juga akan tinggal di sini. Dia dititipkan oleh bapaknya, Pak Made Suwitna, yang datang berkunjung waktu tahun baru. Waktu kamu liburan terakhir kali kemari. Ingat?” Keenan mengangguk. Ia ingat Pak Made, sepupu Pak Wayan yang juga koreografer tari Bali yang sangat terkenal. Sejenak ia memperhatikan Luhde. Sekilas, Luhde seperti remaja perempuan pada umumnya. Tubuhnya mungil, dan sikap malu-malunya membuat ia tampak makin ringkih. Yang mencuat adalah rambut panjangnya yang dibiarkan terurai melewati bahu hingga menyerupai selendang hitam yang menggantung hingga pinggul. Namun, meski tampak ringkih dan pemalu, kedua mata besar itu berbinar penuh rasa ingin tahu. Keenan tertegun. Ada sesuatu yang tak asing dari sosok yang baru pertama kali ia temui itu. Entah apa. “Lagaknya saja pemalu. Padahal dia banyak tahu,” sambung Pak Wayan lagi sambil terkekeh. Muka Luhde langsung memerah. “Mari, Beli. Saya antar,” ucap Luhde sambil cepat-cepat berjalan. Meski ia berkata dengan volume pelan, tapi terdengar jelas suara itu begitu bening seperti embun. “Panggilnya ‘Keenan’ saja,” sahut Keenan. Dengan sungkan, Luhde mengangguk. “Istirahat dulu, Nan. Nanti malam kita bicara-bicara lagi. Santai saja. Kamu tidak perlu ke manamana lagi,” ujar Pak Wayan sambil menepuk bahu Keenan. Keenan menatap wajah-wajah itu sekali lagi. Memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sudah terlalu lelah ia bermimpi. ============ Bandung, November 2000… Eko memandangi Noni yang sedang membereskan isi lemari pakaiannya. Belakangan ini kegiatan mereka sudah banyak bergeser. Ia dan Noni lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Masih ada beberapa kelompok teman yang sering jalan bareng dengan mereka, tapi rasanya tidak pernah lagi sama. “Mau sampai kapan sih kalian diem-dieman begini?” Tiba-tiba Eko berceletuk. Noni terpaku sejenak. Tapi dengan cepat, ia kembali meneruskan kegiatannya melipat baju. “Maksud kamu—aku dan Kugy?” “Iya,” jawab Eko setengah melengos. “Memangnya enak apa kayak begini? Padahal kalian satu kos. Aku kan jadi serba salah mau menempatkan diri. Kamu pacarku, Kugy sahabatku, tapi kalian nggak saling ngomong.” Noni mengangkat bahu. “Habis mau gimana? Apa kamu nggak lihat kayak apa dia sekarang? Negurnya aja males.” Dagu Noni menunjuk ke arah jendela. Eko menengok sedikit ke luar, dilihatnya Kugy baru saja pulang. Mukanya yang lucu kini mengeras sehingga kelihatan judes. Matanya cekung seperti orang kelelahan. Ia lebih mirip rumah angker. Pendiam, muram, seakan-akan beban dunia ada di pundaknya. “Males nggak lu kalo dia tampangnya kayak gitu tiap hari,” celetuk Noni lagi. “Udah deh, Ko. Aku sih merasa percuma. Udah pasti kita nggak akan bisa balik lagi kayak dulu. Kugy tuh udah berubah banget.” “Kenapa ya dia?” “Sejak ngajar di Alit, terus putus sama Ojos, dia jadi berubah banget. Aku juga nggak ngerti. Dan dia kayaknya nggak mau terbuka sama aku. Ya, udah.” Eko menatap Noni lurus-lurus. “Kamu nggak kehilangan, apa? Kenapa sih kamu nggak coba ngedeketin dia, kek, ngajak ngobrol pelan-pelan, kek…” Noni balik menatap Eko. Tajam. “Harusnya, dia yang coba ngedeketin aku, ngajak aku ngobrol pelan-pelan, minta maaf karena nggak datang ke acaraku. Bukan sebaliknya!” Eko terdiam. Dibiarkannya Noni kembali sibuk dengan mulutnya yang memberengut. “Non…” ucapnya pelan setelah sekian lama hening, “kamu tahu nggak, kijang yang larinya cepat kayak kilat, bisa beku kayak patung kalau ketemu singa…” “Kamu nggak nyambung!” “Maksudku, saking ketakutannya kijang itu sama singa, dia malah kehilangan kemampuannya untuk lari. Dia malah nggak bisa gerak sama sekali.” “Terus… hubungannya apa dengan aku?” “Pernah nggak kamu kepikir, saking merasa bersalahnya Kugy sama kamu, dia jadi kayak kijang itu. Dia malah nggak bisa ngapa-ngapain. Dia jadi kaku, diam, dan menutup diri, bukan karena dia yang kepingin. Tapi itu refleks yang nggak bisa dia lawan, saking merasa salah sama kamu. Dia jadi takut ngedeketin kamu.” Noni gantian terdiam lama. Lalu, sambil melipat bajunya yang terakhir, ia pun bergumam, “Please deh, Ko. Nggak usah sok nganalisis kayak psikolog. Dari dulu kamu memang selalu ngebelain dia. Di mata kamu, Kugy memang nggak pernah salah.” Dan usai berkata demikian, Noni bergegas pergi meninggalkan kamarnya. Meninggalkan Eko yang terbengong-bengong sendiri. Bertanya-tanya, apa gerangan yang ia lakukan hingga Noni sebegitu korslet. Ubud, November 2000… Di dalam naungan bale, Keenan diam mematung. Ini adalah minggu ketiga ia tinggal di Lodtunduh. Keenan mulai merasa tak ada bedanya dengan gerombolan ayam kampung yang dipelihara Pak Wayan di halaman belakang. Disembelih tidak, dijual telurnya tidak, hanya dibiarkan saja berkeliaran bebas sampai tua. Barangkali Pak Wayan cuma membutuhkan kehadiran mereka, suara mereka, gerak-gerik mereka untuk menghidupkan suasana. Terkadang, Keenan merasa gerombolan ayam itu bahkan lebih berguna dari dirinya. Sekalipun setiap hari ia berusaha membantu pekerjaan rumah apa pun sebisanya, tetap ia tidak merasa berguna. Keenan mulai merasa lelah dan frustrasi dengan semua ini. Kebaikan dan ketulusan Pak Wayan beserta seluruh keluarganya justru membuat ia semakin tidak enak hati. Selama tiga minggu, ia hanya menumpang tidur dan makan. Dan bukan untuk itu ia seharusnya di sini. Seharusnya ia… berkarya. Di hadapannya sudah ada kanvas polos, di sampingnya berserakan semua peralatan melukis. Tiap pagi ia menyiapkan perangkat yang sama di tempat yang sama. Namun belum ada secercah pun dorongan di hatinya. Tiba-tiba, dari belakang punggungnya, terdengar sesuatu bergesek dengan lantai kayu. Keenan otomatis menoleh ke belakang. Kaget melihat Luhde sudah duduk bersimpuh di tangga bale. Luhde pun sama kagetnya. Tampangnya langsung pucat seperti maling tertangkap basah. “Hai, Tuan Puteri. Kok bisa parkir di situ? Kapan munculnya?” Keenan menyapa sambil tertawa. “Sudah—dari tadi,” jawab Luhde terbata. “Saya mau lihat Keenan melukis.” Keenan tergelak lagi. “Kamu nggak sayang waktu, apa? Karena dari tadi berarti kamu cuma melihat saya melamun, bukan melukis.” Luhde tersenyum. “Pelukis yang baik bisa mengungkapkan semuanya, termasuk kekosongan sekalipun,” dengan suaranya yang lembut dan lirih Luhde berkata. Sejenak, Keenan tertegun. “Kamu tuh… pendiam, tapi sekalinya ngomong kok pintar banget, sih.” Luhde pun beringsut, duduk di sebelah Keenan. “Kalau pelukis-pelukis di sini biasanya punya satu sumber inspirasi. Sepanjang hayatnya melukis, mereka akan melukis berdasarkan sumber yang sama. Tapi justru dengan begitu, mereka bisa mencapai tingkat penjiwaan paling tinggi. Mungkin hal seperti itu yang perlu Keenan cari.” Kembali Keenan terpana mendengar kata-kata Luhde. Sama sekali tidak menyangka ucapan sedemikian bijak dan bernas akan meluncur dari mulut gadis tujuh belas tahun di hadapannya. =========== “Seperti Poman, inspirasinya adalah sesajen, akhirnya semua lukisannya adalah gambar sesajen. Kalau Poyan, inspirasinya adalah upacara adat. Beli Banyu, sekalipun lukisannya abstrak, tapi sumber inspirasinya sebenarnya adalah corak kain Bali. Perhatikan saja semua lukisannya. Iya, kan?” dengan asyik, Luhde berceloteh, “Kalau Keenan sudah dapat satu ‘jodoh’-nya, pasti tangannya langsung lancar. Dan lukisannya dari ke hari akan semakin bagus.” Keenan melongo. Jodoh? “Setiap pelukis pasti memiliki ‘jodoh’-nya masing-masing. Kalau mereka mau bertekun sekaligus berserah, pasti mereka akan menemukannya. Jadi, Keenan jangan cepat putus asa. Kadangkadang kanvas kosong juga bersuara. Tanpa kekosongan, siapapun tidak akan bisa memulai sesuatu,” lanjut Luhde lagi. Kali ini Keenan tidak tahan lagi. Sesuatu menyesak di dadanya. Sudah lama ia ingin bicara dengan seseorang tentang kesulitan dan tekanan yang ia alami. Dan mendadak, hari ini Luhde muncul seperti malaikat penolong yang mengetuk pintu pertahanannya. “Luhde… saya benarbenar nggak tahu harus mulai dari mana… saya… bahkan nggak yakin saya bisa melukis lagi…” susah payah Keenan berkata. Luhde tak langsung merespons. Ia mendekati kanvas kosong di hadapan Keenan. “Ini… anggaplah ini langit…” katanya seraya menyentuhkan jemarinya di kanvas, “sepertinya langit ini kosong. Tapi kita tahu, langit tidak pernah kosong. Ada banyak bintang. Bahkan tidak terhingga banyaknya. Keenan harus percaya itu. Langit ini cuma tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu, Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Dan dari sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan kita. “Saya akan berdoa supaya Keenan cepat menemukan bintangnya,” ucap Luhde sambil menundukkan kepala dan menangkupkan tangannya di depan dada. Tak lama, ia beringsut menuju tangga, meninggalkan Keenan sendirian lagi di bale. Sampai senja, Keenan tak beranjak dari sana. Berbaring telentang menghadap langit, dan mencoba melihat jauh ke balik awan, mencari sesuatu di sana. ========== Bandung, Desember 2000… Pagi-pagi, sambil menyandang ransel besar yang gemuk terisi buku, Kugy berjalan cepat meninggalkan tempat kos yang sepi ditinggal para penghuninya untuk berlibur. Ia benar-benar tidak buang waktu. Tidak ada lagi liburan di agendanya. Ia mengambil mata kuliah sebanyakbanyaknya di semester pendek. Kini fokusnya hanya satu: cepat lulus. Hampir tidak ada lagi yang menahannya di Bandung, selain kampus dan Sakola Alit. Sebagian besar impiannya, masa-masa bahagia persahabatannya sudah tidak ada lagi. Hubungannya dengan Noni tidak berubah. Sahabat yang dikenalnya sejak kecil sekarang telah menjadi orang asing. Kugy pun merasa sudah berada di puncak ketidaknyamanan tinggal di tempat kosnya, dengan jarak hanya satu kamar dengan Noni yang sudah tak pernah bicara dengannya. Tidak mungkin selamanya ia berlagak seolah-olah Noni tidak tampak. Ia terlalu capek untuk itu. Diam-diam, Kugy mulai mencari tempat kos baru yang akan segera ia tempati begitu semester baru dimulai. Kugy pun nyaris berhenti menulis. Tak peduli lagi dengan ambisinya menjadi penulis dongeng. Daya khayalnya tergantikan oleh rangkaian pikiran logis yang bekerja mekanis bagai robot untuk belajar, belajar, dan hanya belajar. Satu-satunya kegiatan menulis yang tersisa hanyalah perahu-perahu kertas yang diapungkannya di kali. Kugy bahkan merasa surat-surat itulah yang membuat dirinya mampu bertahan waras dan kuat. Cerita hatinya pada Neptunus yang entah ada entah tidak. Tak jadi masalah. Setiap kali melihat perahu kertasnya bergerak terbawa arus kali, Kugy kembali bisa bernapas lega. Hatinya kembali lapang. Ia bercerita soal keluh-kesahnya, keresahan batinnya, dan kerinduannya pada semua yang dulu begitu indah. Termasuk kerinduannya pada Keenan. Satu perahu kertas terlipat di dalam kantongnya. Akan ia apungkan di kali nanti sebelum pergi ke kampus. Andai perahu itu dibuka, maka hanya akan terbaca satu paragraf pendek: Neptunus, semua nelayan yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalannya pulang. Ubud, Desember 2000… Setiap pagi, di bale yang sama, kanvas demi kanvas mulai terisi. Jari dan kuas itu tak pernah berhenti menari-nari, menorehkan garis dan warna. Awan-awan itu akhirnya berhasil tersibak, dan setiap harinya Keenan bertemu dengan langit bersih yang siap dilukisi. Satu benda yang sama selalu menemaninya. Sebuah buku tulis lecek penuh tulisan tangan. Dulu, tangan mungil Kugy yang menari-nari di tiap lembarnya. Kisah-kisah petualangan Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dari teras rumah utama, Luhde diam mengamati bale itu. “Poyan…” bisiknya pada Pak Wayan. “Dia luar biasa berbakat, ya. Lukanya juga mulai sembuh. Dia mulai kembali seperti Keenan yang dulu,” komentar Pak Wayan, seolah mengetahui arah pikiran Luhde. Luhde tersenyum menatap pamannya. Wajahnya berseri-seri. “Keenan sudah menemukan bintangnya.” *** Akhir Desember tiba. Bali mulai dipenuhi oleh turis, termasuk Ubud. Hawa liburan pun ikut merasuk pada Keenan. Ia mulai merasa harus sejenak mengambil ‘cuti’ singkat dari aktivitas kreatifnya yang sangat menggebu-gebu selama sebulan terakhir. Belakangan, ia lebih sering tertidur di bale ketimbang melukis. Namun sore itu, tidur siangnya terganggu. Badannya tiba-tiba diguncang oleh Luhde. “Keenan… bangun! Di galeri ada tamu yang mau ketemu kamu. Ayo… bangun!” Dengan berat, Keenan membuka matanya. Tanpa bisa mengurai apa gerangan yang terjadi, tangannya sudah ditarik oleh Luhde, dan tampak Banyu sudah siap dengan sepeda motor untuk mengantarkannya ke galeri. “Saya nanti nyusul!” teriak Luhde berbarengan dengan suara deruan motor Banyu yang segera melesat menuju galeri dengan Keenan terbonceng di belakang. Perjalanan dari rumah Pak Wayan ke galeri hanya tiga menit. Keenan bahkan belum sempat mengumpulkan nyawanya. Masih sambil agak terhuyung, dia memasuki galeri, menemui Pak Wayan. “Ada tamu siapa, Poyan?” tanyanya sembari menggosok-gosok mata. “Nah, ini dia pelukisnya. Baru bangun tidur! Hahaha…” Pak Wayan malah menertawakannya keras-keras. Ada seorang laki-laki muda yang berdiri di sampingnya, ikut senyum-senyum. Necis meski hanya memakai kaos polos dan jins. Tubuhnya tegap dan terawat. Wajah itu bersih dan tampan. Dari pengamatan sekian detik, Keenan bisa menyimpulkan ia pasti datang dari kota besar di luar Bali, kemungkinan besar Jakarta. “Keenan, ini penggemar fanatik lukisanmu, yang membeli lukisanmu pertama kali. Datang jauhjauh dari Jakarta untuk menanyakan karyamu yang baru. Saya yang beri tahu kalau kamu sudah kembali tinggal di sini.” Tergopoh-gopoh, Keenan langsung memperkenalkan diri. “Lukisan kamu makin matang sekarang,” puji pria itu, “saya terkagum-kagum sejak tadi. Luar biasa.” “Terima kasih,” sahut Keenan sambil tersenyum lebar, tak mampu menyembunyikan rasa senang dan bangga yang seketika menyeruak di hatinya. Untuk pertama kalinya ia melihat ada orang yang menyukai lukisannya dengan tulus. “Lukisan mana yang kira-kira Mas suka?” tanyanya sopan. Pria itu menebar pandangannya, menyapu lukisan-lukisan Keenan yang terpajang mengitari tempat mereka berdiri. “Jujur, saya nggak bisa memilih. Kalau boleh saya tanya, sebenarnya semua lukisan ini rangkaian cerita, ya?” ======== Keenan mengangguk-anggukkan kepala bersemangat. “Betul sekali. Tokohtokohnya sama, cuma petualangannya saja yang beda-beda. Saya terinspirasi oleh seri petualangan anak-anak karya sahabat saya. Tema lukisan yang saya buat disesuaikan dengan ceritanya. Lebih mirip ilustrasi, jadinya. Hanya saja dalam bentuk lukisan.” “Itu dia masalahnya,” pria itu tertawa ringan, “saya jadi nggak bisa milih. Kalau bisa, saya kepingin beli semuanya. Jadi saya punya koleksi lengkap.” “Kalau beli banyak, nanti dapat diskon, Mas,” canda Keenan sambil terkekeh, “tapi, kalau boleh tanya balik, sebetulnya apa sih yang membuat Mas tertarik dengan lukisan saya?” Pria itu menghela napas. Seolah mengantisipasi pertanyaan yang sudah lama ia siapkan jawabannya. “Pertama, tema lukisan kamu unik. Tidak umum, tulus, dan tanpa pretensi. Kedua, menurut saya, gaya melukis kamu itu fresh. Orisinal. Rapi, ilustratif, tapi tidak terasa seperti ilustrasi. Rasanya tetap seperti monumen tersendiri, dan bukan pelengkap sesuatu. Ketiga, dan ini yang paling penting, lukisan kamu punya roh yang kuat. Saya sudah hobi koleksi lukisan sejak lama. Dan bagi saya, lukisan yang bagus adalah lukisan yang bisa membuat orang merenung. Tapi lukisan kamu bukan cuma membuat orang merenung, malah bisa mengundang orang untuk masuk ke dunia kamu. Itu pengalaman apresasi yang luar biasa. Kamu perlu tahu, jarang sekali ada lukisan yang punya ketiga unsur tadi sekaligus.” Keenan menelan ludah. Tidak tahu harus bagaimana menanggapi itu semua. “Dengan sangat terpaksa, saya harus mengambil dua lukisan saja hari ini. Tapi pastinya saya akan mengoleksi lebih banyak lukisan kamu,” sambung pria itu lagi, sambil berjalan ke arah lukisan yang ia pilih, “berapa harganya?” Keenan menelan ludah lagi. Matanya melirik ke arah Pak Wayan, seolah meratap minta tolong. *** Selembar cek bertuliskan 12 juta tergeletak di atas meja. “Tidak terlalu susah kan menentukan harga karya sendiri? Butuh pembiasaan, tapi makin lama nanti kamu makin pintar, kok,” Pak Wayan tertawa kecil. Keenan geleng-geleng kepala, “Saya masih nggak percaya, Poyan. Ini pertama kalinya saya lihat langsung ada orang yang beli lukisan saya.” Tiba-tiba Keenan mengambil tangan Pak Wayan, menggenggamnya sambil menundukkan kepala, “Poyan… terima kasih sekali buat semuanya. Saya nggak tahu harus bilang apa, atau melakukan apa. Kalau Poyan nggak keberatan, saya ingin membagi setengah dari penjualan ini dengan galeri.” Dengan cepat, Pak Wayan menggeleng. “Nggak, nggak ada itu. Kamu pelukis baru, dan kamu sudah seperti anakku sendiri, kamu butuh uang itu untuk bekalmu. Jangan pikirkan dulu soal keuntungan galeri. Saya bisa cari rezeki dari karyaku sendiri. Kalau memang saya benar-benar butuh bantuanmu, saya akan bilang. Tapi tidak sekarang. Oke?” ujarnya tegas. Keenan merasa tak punya pilihan selain mengangguk. “Luhde, sini kamu. Kok malah ngintip dari situ,” Pak Wayan memanggil keponakannya yang sedari tadi hanya berdiri mengamati dari balik partisi. Tampak Luhde keluar pelan-pelan sambil tersenyum malu. Berjalan menghampiri mereka. “Kenapa ngintip? Naksir sama tamu tadi, ya?” goda Keenan. “Ng… enggak!” bantah Lude, panik. “Eh, benar itu si Keenan. Nanti kalau kamu cari jodoh, cari yang seperti itu. Ganteng, sukses, masih muda… cinta seni lagi!” celetuk Pak Wayan sambil terbahak. “Jangan mau sama yang kayak kita-kita ini. Kantongnya sakit asma, napasnya satu-satu!” Wajah Lude kian merah jambu. Dalam hatinya, ia sama sekali tidak sepakat dengan pamannya. ============ Ubud, malam tahun baru 2001… Akibat desakan semua orang, Keenan akhirnya setuju membeli ponsel. Sambil duduk di tepi pantai Jimbaran, ia menimang-nimang benda kecil yang masih terasa asing di tangannya. Tidak banyak data nomor telepon yang tersimpan di ponselnya. Hanya keluarga di Bali dan beberapa nama yang ia pindahkan dari buku alamatnya yang lama. Keenan melirik jam di ponselnya. Lima menit sebelum pergantian tahun. Suara di belakangnya makin hingar-bingar, berlomba dengan suara ombak yang terdengar dari depan. Jempolnya bergerak, mencari satu nama itu. Dan begitu nama itu muncul di layar, ia tertegun sendiri. Batinnya menyapa spontan: Apa kabar kamu, Kecil? Mendadak Keenan gelisah. Ia tidak yakin apakah nomor itu masih berlaku. Namun entah mengapa, ada desakan kuat untuk… ia memencet tombol hijau bergambar simbol telepon… connecting. Keenan mengamati lekat satu kata itu berkedip dan berpendar di layarnya. Bisakah ia berbicara? Sanggupkah ia…? Tidak. Keenan memejamkan mata, jempolnya memencet tombol merah. Disconnecting. Jakarta, malam tahun baru 2001… Sebagian besar keluarganya tengah berkumpul di depan teve. Sebagian yang beracara sedang asyik bermalam tahun baru di berbagai tempat. Kugy termasuk yang berkumpul di depan teve. Selain tidak ada undangan, ia pun malas keluar. Rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan selain selonjoran kaki di sofa, makan cemilan, sambil mengomentari apa pun yang muncul di layar kaca lalu tertawa-tawa sendiri. Tiba-tiba Kugy terduduk tegak. “Hp-ku bunyi, ya?” “Bukan. Itu suara dari teve,” komentar Kevin pendek. “Hp-ku di mana, sih?” Kugy mulai membongkari bantal-bantal sofa. “Kev, ayo berdiri bentar,” Kugy mendorong tubuh kakaknya, “kayaknya didudukin sama kamu.” “Nggak mungkin! Pantatku sensitif. Pasti kerasa kalo ada yang ganjal,” cetus Kevin asal. Tapi Kugy tidak menyerah. Ia terus mendorong tubuh Kevin dan mencari-cari di sela-sela sofa. “Aduh, Gy! Apaan sih, nih! Nyodok-nyodok nggak jelas! Ganggu, tauk!” omel Kevin. “Nih, bener, kan? Huuuh! So much for sentivity! Diet aja dulu biar pantatnya kecilan!” Kugy langsung mengecek hp-nya yang ditemukan persis di bawah Kevin. Kening Kugy berkerut. Nomor yang tak ia kenal. Namun matanya tak lepas mengamati deretan angka itu. Rasanya ada sesuatu di sana. Kugy pun mengirim pesan: Ini siapa? Satu jam berlalu. Pesan itu tidak dibalas. *** Lena membuka pintu kamarnya, mendapatkan suaminya masih terduduk di depan teve yang menyala. “Adri, kamu belum mau tidur? Sudah jam dua pagi, lho,” katanya sambil menguap. Pria itu mendongak sejenak, mendapatkan istrinya sudah berkimono dengan muka mengantuk. “Sebentar lagi. Kamu duluan saja tidur. Acara tevenya bagus. Nanti saya nyusul kalau sudah selesai, oke?” jawabnya lugas. Lena mengintip layar teve sekilas. Tidak yakin dengan arti ‘bagus’ yang dimaksud oleh suaminya. Tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkan dan kembali ke kamar. Sepeninggal istrinya, Adri kembali menatap teve dengan pandangan kosong, seperti yang ia lakukan sedari berjam-jam yang lalu. Di dalam kepalanya ada program yang berjalan sendiri. Kenangan, pertanyaan, lamunan tentang satu orang. Keenan. Keenan… di mana kamu sekarang, Nak? Bertahun baru di mana? Apakah kamu kesepian? Kelaparan? Kedinginan? Dan ia hanya bisa menyapa dan menanyakan itu semua dalam hati. Dalam kesunyian. Dalam ketiadaan. Setengah mati, Adri berusaha menahan. Hingga pada satu titik rasanya tidak lagi tertahankan. Dan sebutir air mata pun bergulir di pipinya. Bersambung ke PART 7: Lembaran Baru Kugy...... ========= Judul : Lembaran Baru Kugy PART 7: Lembaran Baru Kugy Bandung, Januari 2001… Belum genap seminggu kepindahannya ke tempat kos baru. Kugy masih menyesuaikan diri dengan lingkungan dan suasana yang berbeda. Jarak tempat kosnya kini lebih dekat ke kampus, sehingga Kugy makin leluasa untuk bolak-balik. Pas dengan programnya yang ingin secepatcepatnya lulus. Belum semua juga barang-barangnya tertata dengan rapi. Setiap sore, Kugy menyicil beresberes sendirian. Dan, entah mengapa, ia mulai menikmati kesendirian ini. Sepi ini. “Spada! Yu-huu! Kulonuwun!” Terdengar teriakan manusia yang menganggu gendang telinga. Kugy segera meletakkan buku-bukunya dan bergegas menuju pintu. Eko? Benar saja. Begitu pintu dibuka, tampaklah Eko dengan cengiran lebarnya yang khas. “Hai, Mother Alien!” “EKO?” Kugy tercengang seperti betulan melihat alien. “Kok—tahu gua di sini?” “Tanya sama anak-anaklah,” jawab Eko ringan, “gua tadi tiba-tiba inget elu. Jadi kepingin nengok. Kangen gua.” Kugy menghela napas, dibarengi senyum cerah yang langsung mengembang tanpa bisa ia tahan. “Gua juga kangen sama elu,” sahutnya sungguh-sungguh. “Sini lu, gila!” Dengan gerakan cepat Eko merangkulkan tangannya ke leher Kugy dan mengacak-acak rambutnya. Mereka berdua tertawa-tawa. “Ada yang perlu gua bantu, nggak, Gy? Lu pasti masih beres-beres, kan?” “Bantuin beresin buku sambil bayarin gua makan nanti malam, yuk.” Eko langsung memonyongkan mulut. “Monyet,” dumelnya, “yang begini nih yang bikin orang nyesel.” Kugy terbahak keras. “Selamat datang di jebakan Batman!” Tak lama kemudian, keduanya sudah berjongkok sambil membereskan sisa barang Kugy yang masih berserakan di lantai. “Noni tahu lu ke sini, Ko?” Tiba-tiba Kugy bertanya. “Nggak. Tapi nanti gua bilang ke dia,” jawab Eko, “kenapa?” “Nggak pa-pa. Mmm…” Kugy menghentikan kegiatannya sejenak, menimbang-nimbang apakah akan meneruskan kalimatnya atau tidak. “Yes?” tanya Eko lagi. “Selama ini gua ngira, lu ikut ngejauhin gua. Walaupun gua sebetulnya pingin banget bisa ngobrol dan dekat sama elu kayak dulu, tapi yah, gua ngerti posisi lu yang serba sulit, karena lu pacarnya Noni, dan mau nggak mau harus mempertimbangkan perasaan dia,” jelas Kugy lirih. “Tapi, jujur, gua kehilangan banget sama kalian berdua.” “You know what, Gy?” Eko menatapnya lurus-lurus, “Gua seneng dan lega lu akhirnya pindah kos. Karena setidaknya gua punya jarak yang lumayan netral untuk bisa dekat sama lu lagi. Gua bisa temenan sama lu, ngunjungin lu sekali-sekali, tanpa gua harus keseret-seret konflik lu sama Noni. Gua juga kehilangan banget sama lu. “Sekarang ini Noni masih berproses menyembuhkan sakit hatinya. Gua nggak tahu sampai berapa lama. Dan walaupun dia pacar gua, dan gua temenan sama lu dari kita ingusan, gua nggak mau mencampuri urusan kalian berdua. Gua percaya kalian akan punya jalan sendiri untuk menyelesaikan masalah kalian. Yang penting buat gua sekarang, gua bisa tetap dekat dengan kalian berdua, sesuai dengan apa yang selama ini kita semua jalankan. Noni pacar gua, dan lu sahabat baik gua. Apa pun yang terjadi di antara kalian berdua, nggak akan mengubah arti lu dan Noni buat gua.” Kugy terdiam. Kehilangan kata-kata. “Makasih, Ko,” ucapnya setengah berbisik, “seumur hidup, gua nggak pernah bisa membayangkan jadi melankolis di depan lu, tapi… kedatangan lu hari ini, dan apa yang barusan lu bilang, adalah hal terindah dalam hidup gua sepanjang tahun ini.” Eko tersenyum kecil. Namun dalam hitungan detik, senyumannya sirna. “Sialan… tahun ini kan baru jalan sepuluh hari! Terang aja gua jadi yang paling indah, monyong! Udah gua bantuin lu beres-beres, disuruh traktir lu makan, lagi! Keparaaat!” Tawa mereka berdua pecah seketika. “Tahun ini baru jalan sepuluh hari, dan lu udah berhasil gua jebak dua kali! Ini pertanda buruk buat hidup lu, Ko…” Kugy tergelak-gelak di lantai. “Yup, dan mimpi buruk gua sudah akan dimulai sebentar lagi. Lapar, nih. Makan, yuk!” Eko bangkit berdiri. “Lho, kamar gua kan belum beres?” protes Kugy. “Lu aja sama keluarga melankolis lu yang beresin,” Eko terkekeh. “Eh, ada recehan buat angkot, nggak?” “Lu nggak bawa Fuad?” “Ada. Tapi begitu nyampe di depan kos lu, dia langsung mogok gitu. Jadi, paling gua titip Fuad dulu di depan, nanti pas mau pulang, gua minta tolong lu buat dorongin dikit. Ya?” Kugy memandang Eko geram. “Kok, gua mulai merasa gua yang sial?” Ubud, Februari 2001… Sebuah halaman baru resmi terbuka untuknya. Keenan menjalankan hidup dengan ritme baru. Sepanjang hari kegiatannya tak pernah lepas dari berkesenian dan berupacara, layaknya anggota keluarga yang lain. Jika tak sibuk melukis, ia tak pernah luput membantu keluarga Pak Wayan, dari mulai upacara ngagah hingga ngaben. Kini, dengan fasih Keenan memakai udeng dan sarung Bali ke mana-mana. Ia lebih banyak berteman dengan pemuda-pemuda asli, sesekali ikut nonton sabung ayam, membaur bersama mereka tanpa merasa risih dan canggung. ============== Namun, dari semua orang, Pak Wayanlah yang paling bahagia dengan kehadiran anggota keluarga baru ini. Keenan sudah dianggap putranya sendiri, seorang anak yang selalu ia dambakan dan bisa ia banggakan. Keenan, yang tak hanya berbakat di seni lukis, ternyata bisa memahat dengan halus. Dengan cepat, ia mempelajari ukiran-ukiran dasar Bali seperti patra kuta mesir, taluh kakul, dan pungelan. Bahkan kemampuannya melebihi senimanseniman muda setempat yang sering berlatih di studio keluarga Pak Wayan. Ketika lukisan Keenan dipuji-puji orang, Pak Wayanlah yang merasa paling tersanjung. Tanpa ragu dan permisi dulu, ia selalu mengenalkan Keenan dengan berkata: “Niki putran titiange ane lanang, I Wayan Keenan.” Alhasil, Keenan yang terbengong-bengong mendengar nama barunya itu. Jika tak sedang pergi ke mana-mana, Keenan hanya menghabiskan waktunya di bale. Melukis, atau sekadar mengobrol dengan Luhde yang selalu setia menemaninya. “Keenan harus mulai belajar bahasa Bali.” Dengan gayanya yang dewasa, Luhde mulai menasihati. “Boleh. Ajarin, dong,” tantang Keenan. “Coba ikuti saya, ya!” Luhde berdehem, “Cang bojok…” “Cang bojok…” “… care bojog.” Dengan patuh dan serius, Keenan mengikuti, “Cang bojok care bojog.” “Pintar,” Luhde manggut-manggut sambil menahan senyum. “Artinya apa?” tanya Keenan. Tawa Luhde menyembur. “Artinya: saya jelek seperti monyet!” serunya, lalu terbahak-bahak sendiri. Keenan gantian manggut-manggut. “Oooh… iya. Memang, sih.” Tawa Luhde kontan berhenti. “Udah deh, kamu tuh nggak pantes jahilin orang,” Keenan terkekeh. “Makanya, nulis aja. Kan katanya mau jadi penulis terkenal.” Luhde tersenyum, “Iya. Nanti seperti Keenan dan temannya. Saya menulis cerita, lalu Keenan buatkan lukisan.” Ucapan Luhde seperti membekukan udara. Keenan pun terpaku. Luhde yang tidak menyadari perubahan itu, terus berceloteh, “Di keluargaku, semua orang bisa bikin macam-macam. Beli Banyu pandai memahat, Beli Agung pandai melukis, semua kakak kandung saya penari hebat. Cuma saya yang tidak seperti mereka. Tapi, menurut Poyan, aku bisa melukis sekaligus mengukir kata-kata. Jadi, aku harus bisa melukis kata-kata seindah lukisan, mengukir kata-kata secantik ukiran, dan membuat kata-kata menari gemulai seperti tarian.” “Saya setuju dengan Poyan. Kamu punya bakat itu, tanpa harus banyak usaha. Saya sendiri sering terpesona dengan kata-kata kamu,” puji Keenan tulus. “Dan… kamu sering mengingatkan saya pada seseorang.” “Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.” Keenan tersentak dengan ucapan Luhde yang sama sekali tidak ia duga. Begitu juga dengan Luhde, yang sepertinya pun tidak berencana untuk melontarkan kalimat. “Maaf, ya. Saya bukan bermaksud lancang,” ucap Luhde cepat, “tapi… kalau boleh tahu, siapa sih yang menulis buku itu?” tanyanya sehati-hati mungkin. “Soalnya, saya perhatikan, Keenan nggak bisa melukis kalau buku itu nggak ada di dekat-dekat Keenan.” “Dia sahabat saya waktu kuliah,” jawab Keenan pendek. “Orangnya pasti pintar dan jiwanya halus,” komentar Luhde lagi. Keenan tidak menjawab. “Sahabat kamu itu perempuan, ya?” “Iya.” “Kalian pasti sangat dekat, ya?” “Dulu sih iya.” “Kapan-kapan, boleh nggak aku boleh dikenalkan dengan dia?” Kali ini Keenan mendongak, mengadu matanya langsung dengan Luhde. “Untuk soal yang satu itu, saya nggak bisa janji.” “Kenapa?” “Karena saya nggak yakin akan ketemu dia lagi.” Masih banyak pertanyaan yang terpendam dalam benak Luhde, pertanyaan yang sudah ia tumpuk dan simpan sejak lama. Namun nada pahit yang terlontar dari kalimat terakhir Keenan tadi membuat ia urung mengungkapkannya. Mungkin memang tak perlu ia mengetahui. Hanya memahami. Karena tanpa perlu berkata-kata, Keenan telah bercerita banyak dari lukisannya, dari kesehariannya, dari diamnya. Lebih dari yang Keenan sadari. Jakarta, Februari 2001… Sekeluarnya dari ruang itu, Lena membaca lagi lembaran hasil laboratorium yang baru saja dianalisis dokter beberapa menit yang lalu, yang membuat suaminya diolehi-olehi sederet resep obat dan beraneka petuah ini-itu. “Kok, bisa begini, sih? Padahal kamu selalu dibawakan makan dari rumah. Kegiatan kamu juga nggak banyak berubah. Aku nggak ngerti, deh,” Lena geleng-geleng kepala sendiri. “Memangnya ada sesuatu yang aku nggak tahu?” Adri menyalakan mesin mobil. “Maksud kamu?” “Tadi dokter bilang, bisa jadi karena faktor stres. Mungkin nggak kamu stres tentang sesuatu, dan kamu belum cerita ke aku?” tanya Lena lagi. “Ah, stres apa? Sekarang semua penyakit dibilangnya gara-gara stres,” komentar suaminya sambil melengos. “Nggak ada apa-apa, kok.” Sepanjang perjalanan, dalam kompartemen pikirannya, Ardi menyadari sesuatu. Ia bisa memilih tidak terbuka pada dokter, bahkan istrinya, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Satu hal tidak pernah lepas dari pikirannya, menggerogotinya dari dalam secara pelan-pelan. Keenan. Ubud, Maret 2001… Luhde sedang menyeduhkan kopi sore bagi seluruh keluarga. Kegiatan rutinnya setiap hari. Dan ia nyaris menumpahkan termos berisi air panas yang sedang ia pegang, karena tiba-tiba Keenan muncul dari belakang, memegang kedua bahunya. “Hei, minggu depan kamu ulang tahun, ya?” tembak Keenan langsung. Luhde membalik badan. Wajahnya sekonyong-konyong cerah. “Keenan kok tahu? Diberi tahu siapa?” ========= “Banyu,” Keenan pun tersenyum, “Mau delapan belas tahun, ya? Udah bukan anak kecil lagi, nih,” godanya. “Kamu mau kado apa? Lipstik? Parfum?” Luhde tersipu. “Enggak. Saya nggak mau yang seperti itu,” ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi. “Lho, kenapa? Kan biasanya perempuan seusia kamu mulai kepingin dandan. Atau mau dibeliin baju? Nanti kita cari ke Kuta, yuk.” Luhde tambah kuat menggelengkan kepala. “Enggak… nggak mau!” Tangannya sekarang sudah menutup muka. “Oke, oke. Jadi, maunya apa? Buku?” Luhde terdiam sejenak. Berpikir. Pelan-pelan, ia menurunkan kedua tangannya dari pipi. “Saya sudah tahu,” katanya pelan. Dan Luhde pun mengutas senyum. Satu senyum yang mengubah wajah lucunya menjadi cantik dan… dewasa. “Saya ingin, satu karya Keenan yang dibuat dengan sepenuh hati,” ucap Luhde. Jernih dan jelas. Keenan terenyak. Pertama, oleh kecantikan Luhde yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Dan kedua, oleh kalimat yang meski ia pahami betul maksudnya, rasanya tak sanggup ia penuhi. Keenan menelan ludah. “Semua lukisan saya dibuat dengan sepenuh hati. Kalau kamu menginginkan salah satu di antaranya, kamu boleh pilih yang mana aja. Atau kalau kamu mau dibuatkan khusus, saya juga bersedia melukis untuk kamu.” Luhde menggeleng lembut. “Semua lukisan itu dibuat dengan cinta Keenan pada seni. Tapi ada satu yang berbeda. Begitu saya melihatnya, saya sampai menitikkan air mata. Yang satu itu… indah sekali. Dan dia menjadi indah karena Keenan membuatnya dengan cinta yang lebih dalam dari sekadar cinta Keenan pada seni.” Kali ini Keenan kehilangan kemampuan untuk merespons. Dalam sekejap, Luhde berubah menjadi gadis remaja yang pemalu. “Saya cuma ingin menyimpannya. Tidak ada maksud lain. Kalau memang tidak mungkin, juga tidak apa-apa. Maaf ya kalau saya sering lancang sama Keenan,” tuturnya dengan nada sesal. Cepat, Luhde mengangkat baki berisi cangkir-cangkir kopi itu dan berlalu dari sana. Keenan tertegun di tempat. Satu dilema besar menyerang hatinya. Dilema yang sebelumnya tak pernah ada. ========= Ubud, Maret 2001… Malam menjelang petang, saat semua orang sudah terlelap, seseorang masih berada di luar kamarnya. Menatap langit malam yang jernih, yang memunculkan serakan bintang tak terhingga banyaknya. Keenan duduk sendirian dengan posisi menengadah. Ia ingin mengenang malam-malam seperti ini, saat ia berbaring di atap kamarnya di Bandung, menikmati jernih dan luasnya angkasa, memikirkan orang yang sama. Di tangannya tergenggam sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan. Sesuatu yang ia buat setahun lebih yang lalu. Sesuatu yang tak pernah ia sempat berikan. Sesuatu yang ia bersihkan hampir setiap hari, tapi cuma bisa dinikmati sendiri. Pahatan itu berbentuk hati yang dipenuhi relief abstrak menyerupai gelombang air di seluruh permukannya. Begitu rapi dan detail. Ketika membuatnya, leher Keenan sampai sakit selama satu minggu. Ia tersenyum sendirian mengingatnya. Diamati dan dirabanya lagi relief itu. Di antara motif gelombang air tadi, tersembunyilah dua inisial yang kalau diamati dengan saksama baru terbaca: K & K. Mendadak, terdengar bunyi angin yang bertiup bagai seruling. Menggoyangkan kentongankentongan bambu yang tergantung di tepi atap, yang seketika melantunkan bebunyian merdu. Keenan bergidik kedinginan saat angin itu mengembusi kulitnya. Namun ia masih belum ingin beranjak. Ia teringat bebunyian itu. Bercampur dengan satu lagu yang dulu ia putar hampir tiap malam saat memahat sendirian di sini. Lagu yang selalu mengingatkannya pada orang yang sama. Pelan, hanya untuk didengar dirinya sendiri, Keenan mulai bersenandung: “And my bitter pill to swallow is the silence that I keep/ That poisons me, I can’t swim free/ The river is too deep/ I am no worse in love with your ghost/ In love with your ghost…” Nada terakhirnya menggantung di udara. Menyisakan suara bambu dan suara-suara dalam kepalanya. Keenan teringat kata-kata Luhde. Kenangan hanyalah hantu di sudut pikir. Dan selama ini, ia telah memelihara sebuah cinta pada kenangan, pada wujud yang tak lebih dari bayangan, sekalipun Kugy adalah bayangan terindah yang pernah hidup dalam hatinya. Keenan memejamkan mata. Meresapi perih yang merasuki seluruh sel tubuh. Namun ia pun tahu, sudah saatnya ia melepaskan bayangan itu. Keenan mengecup pelan pahatannya. “Kecil… mungkin ini memang bukan untuk kamu,” bisiknya. Baru sekali itu Keenan merasakan perihnya perpisahan yang dilakukan sendirian. *** Hari hampir pagi. Kokok ayam sudah terdengar dari berbagai jurusan. Semburat matahari mulai terlihat, perlahan menggeser jernih langit malam dan bintang-bintang. Keenan tahu kamar itu tidak dikunci. Dan ia pun tidak berniat membangunkan si empunya kamar. Hati-hati, ia membuka pintu kayu itu. Melangkah sepelan mungkin. Tampak Luhde tertidur pulas dengan wajah damai, tubuhnya terbungkus selimut sampai leher, dan rambutnya yang panjang tergerai bebas di atas bantal. Dengan gerakan serba lambat karena tak ingin menimbulkan suara, Keenan meletakkan pahatan kayu tadi di sebelah Luhde, lalu berkata lirih, “Selamat ulang tahun…” Bandung, Mei 2001… Eko kembali janjian dengan Kugy di Pemadam Kelaparan. Makan siang bersama, seperti yang biasa mereka lakukan setidaknya dua kali seminggu belakangan ini. Sebuah ritme baru yang benar-benar menjadi oase bagi Kugy setelah sekian lama. Ekolah satu-satunya sahabat terdekat baginya sekarang. Siang itu, Kugy membahas rencana pengambilan SKS-nya dua semester ke depan. Apa yang ia rencanakan membuat Eko tercengang-cengang. “Bangké tokek! Jadi lu ngajuin seminar dari semester ini?” Mata Eko seperti mau lompat keluar dari wadahnya. “Terus… semester depan lu udah bisa skripsi?” Kugy mengangguk sambil tersenyum-senyum kecil. “Wah, Gy… waaah…” Eko geleng-geleng kepala, “ini kurang ajar namanya. Nggak sopan! Dan ini nggak elu banget!” Kugy memperlebar cengirannya. “Coba tolong diperjelas, maksudnya ‘nggak elu banget’ itu, apa?” “Gua tahu, lu kalo udah terobsesi sama sesuatu memang kayak orang kesurupan jin Prambanan, suka rajin nggak kira-kira. Tapi… ini tuh, bidang akademis formal, Gy! Mana pernah lu segila ini sama sekolah? Napsu banget sih pingin cepet beres! Ini nggak normal, tauuuk!” omel Eko panjang lebar. Kugy terbahak. “Berarti, selama ini kita temenan sejak SMP masih belum cukup untuk lu memahami gua luar dalam. Gua napsu pingin cepet lulus bukan karena gua cinta kuliah. Justru gua pingin cepat-cepat keluar, makanya gua ngebut gila-gilaan.” Eko mengeluarkan ‘ooh’ panjang. Matanya mendelik penuh arti. “Jadi… ceritanya ada yang mau kabur dari sesuatu, nih?” Kugy mengerutkan kening, “Kabur apaan, sih.” Namun sesuatu tersentil di dalam hatinya oleh ucapan Eko barusan. Air muka Eko berubah serius. “Gy, gua nggak pernah mau tanya macem-macem sama lu karena gua menghargai privacy lu. Gua tahu lu bukan tipe orang yang dikit-dikit curhat. Jadi, selama ini gua lebih banyak nunggu bola. Kalo lu mau cerita, ya syukur. Kalo enggak, gua juga nggak akan maksa. Tapi, please, gua cuma mau tanya satu hal: ada apa dengan lu sejak setahun yang lalu? Lu berubah drastis, menarik diri, dan kita nggak pernah tahu kenapa.” Lama Kugy menatap Eko, tanpa bisa bersuara. Di tenggorokannya sudah membuncah aneka cerita yang siap muntah keluar. Namun, lagi-lagi, ia merasa lumpuh. Kugy pun menggeleng sambil tersenyum tipis, “Sori, ya, Ko. Gua masih belum bisa cerita.” =========== Eko menghela napas panjang. “Lu nggak kangen masa-masa geng midnight kita jaman dulu, apa?” “Kangen,” jawab Kugy pelan, “tapi gua juga nggak keberatan dengan kondisi sekarang. Kadangkadang, rasanya lebih enak malah. Lebih lega.” “Terserah, deh,” sahut Eko seraya mengangkat bahu. Keduanya terdiam. “Gua kangen Keenan,” kata Eko tiba-tiba. “Dia ke mana, ya?” Hati Kugy seperti kena setrum di gardu listrik begitu mendengar nama itu disebut. Sebisa mungkin, ia berusaha tampak tenang dan tak terpengaruh. “Lu kan sepupunya, nggak bisa tanya keluarganya yang di Jakarta?” “Keluarganya aja nggak tahu dia di mana.” “Oh,” gumam Kugy pendek. Meski air mukanya tak berubah, tapi timbul gelombang besar dalam hatinya. “Itu anak kayak hilang diculik UFO. Nggak ada bekas! Gila, ya. Kok bisa gitu, sih? Gua nggak ngerti…” tahu-tahu Eko mendongak menatap Kugy, “elu berdua tuh emang orang aneh! Yang satu udah minggat, yang satu niat kabur! Kenapa sih lu pada?” Kugy tak kuat menahan senyum melihat sewotnya Eko. “Marah-marah kayak gitu pertanda sayang, tauk.” “Sayang-sayang… nyebelin lu, Gy,” sahut Eko sambil manyun. “Tapi gua masih berminat kok jadi temen lu lamaan dikit. Mungkin karena sayang, atau mungkin karena pada dasarnya gua hobi mengoleksi spesies langka dan jelek kayak elu.” Kugy tertawa. “I love you, too.” “Diem!” Ubud, Oktober 2001… Tidak sampai setahun. Lukisan Keenan mulai ramai dibicarakan orang. Namanya mulai beredar di kalangan galeri dan kolektor. Namun Keenan belum berminat untuk masuk ke pasaran galeri Jakarta, ia bertahan di galeri Pak Wayan di Ubud. Beberapa kolektor yang pernah membeli karyanya dengan rajin menanyakan lukisannya yang terbaru, dan peminat baru yang tertarik pada karyanya juga terus bertambah. Namun tidak yang segesit kolektor yang satu itu. Pembeli lukisannya yang pertama. Ia bahkan seolah-olah membaca siklus kreativitas Keenan. Jarang sekali ia keduluan oleh pembeli lain. Sepertinya ia terobsesi untuk mengumpulkan seri lengkap dari lukisan serial Keenan yang sekarang mulai digunjingkan di mana-mana. Keenan sendiri merasa lucu ketika tahu lukisannya menjadi perebutan dan perbincangan. Di hadapannya terbuka buku tabungan yang baru dibukakan oleh Pak Wayan. Setelah mengalami masa-masa tersulitnya di Bandung, ia tak pernah bermimpi akan punya uang sebanyak itu. Dan tiba-tiba Keenan tergerak untuk bertanya, “Poyan… apa jadinya kalau saya tahu-tahu mentok? Jenuh? Atau… gimana kalau orang-orang itu yang bosan dengan lukisan saya?” Pak Wayan terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. Ia menarik kursi lalu duduk di hadapan Keenan. “Kita memang tidak pernah bisa menduga selera kolektor. Kita juga tidak pernah bisa mengendalikan pendapat kurator. Mereka itu musiman seperti buah,” jawab Pak Wayan sambil tersenyum lebar, “tapi, kekhawatiran kamu ada benarnya. Sebenarnya diri kita sendirilah yang paling susah diduga. “Akan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi ke mana semua inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah, tidak berarti harus cari pacar baru, kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui. Cinta bisa tumbuh sendiri, tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya, apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?” Karena tidak yakin, Keenan memilih untuk menggeleng. Pak Wayan berpikir sejenak. “Begini. Sekarang kamu sedang menjalin cinta dengan Jenderal Pilik. Cerita-cerita itu menjadi sumber inspirasi kamu. Jodohmu. Supaya Jenderal Pilik bukan cuma hidup di buku tulis itu, melainkan di hati kamu, cinta itu harus dipelihara. Selama Jenderal Pilik belum benar-benar hidup dan mendarah daging bersama kamu, selama itu kamu harus selalu hati-hati. Mengerti?” Kali ini Keenan mengangguk. Namun ia tak menduga, betapa dalam makna yang tersembunyi dari percakapan sore itu. =========== Jakarta, malam tahun baru 2002… Saat semua orang rumahnya sudah tertidur. Kugy memilih tetap terjaga di teras depan. Bertemankan obat nyamuk bakar dan Santai, anjing basset cokelatnya, yang sedari tadi tertidur santai di kakinya. Dua kali tahun baru ia lewatkan tanpa resolusi apa-apa. Berbeda dengan kebiasaannya yang gemar melakukan ritual menulis target dan khayalan di atas kertas lalu menyembunyikannya di satu tempat untuk dibaca lagi pada malam tahun baru berikutnya. Persis seperti Santai yang gemar menyembunyikan tulang di satu tempat, untuk satu hari ia kembali gali dan nikmati. Namun di hadapannya terletak secarik kertas dan pulpen. Hanya saja bukan untuk resolusi. Setelah sekian lama merenung, Kugy pun menyambar pulpen dan mulai menulis: Neptunus, kali ini saya benar-benar berharap surat ini betulan sampai ke laut. Kenapa begitu? Karena saya kepingin jujur: saya kangen sekali. Saya kehilangan sekali. Dan, saya merasa, malam ini dia dekat sekali dengan laut. Titip salam, ya. Awas kalo nggak disampein. Saya mogok jadi agen. Kugy melipat kertas itu menjadi perahu. Baru siang nanti ia bisa menghanyutkannya di kali dekat rumah. Khusus untuk malam ini, ia harus memikirkan cara lain. Kugy lalu mendekapkan surat itu di dadanya. Memejamkan mata. Mengkhayalkan bentangan laut luas dan suara ombak. Ia pernah bilang pada Keenan, suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. Dan Kugy kini merasa mendengar ombak bersahutan. Di mana pun kamu… semoga pesan ini sampai, meski tanpa perahu… aku sangat kehilangan kamu. Sanur, malam tahun baru 2002… Di tepi pantai, Keenan melamun menatap ombak laut. Menyadari bahwa akan selalu ada saat di mana ia merasa harus berhenti, memikirkan sosok satu itu. Kamu pasti senang sekali kalau bisa di sini… dekat dengan laut… kamu pernah bilang, suara ombak adalah lagu alam yang paling merdu. Napas Keenan menghela panjang. Sedang apa kamu sekarang, Kecil? “Keenan!” Suara seorang pria memanggilnya. Diikuti dengan suara perempuan yang juga memanggil namanya. Keenan kembali diingatkan, ia sedang berada di tengah-tengah pesta tahun baru di rumah milik teman baik Pak Wayan. Halaman belakang yang langsung menghadap pantai memungkinkannya untuk sejenak menikmati keluasan ini tanpa perlu diusik kerumunan orang. “Nan, ayo, ke dalam sebentar. Kamu dicari Pak Wayan,” ajak pria itu. Sementara Luhde langsung beringsut ke sisi Keenan dan merangkul lengannya. Ia begitu bersinar dan ceria malam ini. Untuk pertama kalinya, Luhde menghadiri sebuah pesta. Namun yang paling membahagiakannya adalah semata-mata ia bisa melewatkan pengalaman pertama ini dengan Keenan. “Maaf, ya. Saya sempat keluar sebentar dan ninggalin kamu. Nggak pa-pa, kan?” kata Keenan seraya mengelus pelan punggung tangan Luhde. “Tidak apa-apa, dari tadi saya ditemani ngobrol,” Luhde melirik pria di sebelahnya. Keenan tertawa kecil, “Terima kasih udah mau dititipin Luhde, Mas. Semoga nggak kapok.” “No problem. Seru kok ngobrol sama Luhde. Pintar, dan banyak kejutan,” sahut pria itu sambil melempar senyum. Hampir otomatis, Luhde langsung menunduk tersipu, seperti refleks putri malu yang langsung menguncup jika tersenggol. Namun dalam hatinya, ia senang bukan main. Ia tahu, pria itu bukan orang sembarangan. Dialah pembeli lukisan Keenan yang pertama, dan kini ia dan Keenan tak ubahnya dua orang sahabat. Setiap kali datang ke Bali, pria itu selalu mampir ke galeri, menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan dan ngobrol bersama Keenan dan keluarganya. Dan malam ini, pria itu bahkan memilih bertahun baru bersama mereka di Bali. Mereka bertiga lalu kembali ke rumah. Sambil berjalan, Keenan menyempatkan diri untuk menoleh ke arah laut untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan, sisa tiupan terompet kertas masih terdengar. Kembali mengingatkannya bahwa tahun baru telah dimulai. Lembaran baru telah dibuka. Kepalanya pun kembali berputar. Menghadap ke depan. ============= Jakarta, Januari 2002… Kugy telah lulus seminar dengan nilai A. Dan ia merayakannya dengan pulang ke Jakarta setelah berbulan-bulan tidak pernah pulang. Pada Minggu siang itu, seluruh anggota keluarganya komplet berkumpul di ruang teve. Keriuhan dan lemparan celetukan menjadi ciri khas setiap kali “The K Family” berkumpul. “Jadi, semester depan kamu tinggal skripsi, Gy?” tanya kakak perempuannya, Karin. “Yup!” “Keviiin… kok lu lelet, siiih? D3 tapi udah mau empat tahun dan masih belum menunjukkan gejala kelulusan. Kalah sama Kugy yang S1,” timpal Karin lagi sambil menjitak kepala Kevin, adik lakilakinya. “Heh! Yang penting hasil akhir!” balas Kevin. “Lu lihat dong, gue kan gaul, penuh prestasi, Kugy kan nerd. Ya terang aja dia cepet kuliahnya. Nggak ada kegiatan lain.” “Koleksi kaos panitia aja lu bilang prestasi! Kev… Kev…” celetuk Kugy. “Kevin – Si Panitia Sejuta Event,” Karin menambahkan sambil terkekeh. “Nah, lu bikin kaosnya, gih. Nanti acara apapun lu cukup pakai satu kaos itu aja.” “Iya, Kev. Kamu tuh kok jadi panitia terus toh? Bentar-bentar minta izin nggak kuliah, bilangnya karena jadi panitia Fun Bikelah… lomba caturlah… pameran motor… kejuaraan bulutangkis… fashion show… kok, nggak ada habisnya,” komentar ayahnya sambil lalu. “Terus, kastanya segitu terus, Pa. Panitiaaa… terus!” Kugy terpingkal-pingkal. “Lu tuh yang aneh! Nggak asik jadi manusia! Baru kuliah tiga tahun udah mau skripsi! Apaan, tuh?” protes Kevin. “Itu namanya nggak menikmati hidup…” “Memangnya sesudah lulus nanti, kamu mau ngapain, Gy?” tanya Karel, abangnya yang paling besar. “Kerja, dong!” “Kerja apa?” Ibunya bertanya. “Jadi panitia,” cetus adik bungsunya, Keshia, sambil cekikikan. “Gy… Gy…” Kevin gantian geleng-geleng, “emangnya enak cepet kerja? Kerja tuh capek, tauk. Enakan juga kuliah. Tuh, entar hasilnya kayak Karin, badannya tinggal tulang sama dosa doang.” “Elu yang obesitas!” Karin mendelik ke arah Kevin. “Gue bukannya gemuk, kakakku sayang. Tapi kurang tinggi,” Kevin membela diri. “Kamu berminat kerja di bidang apa, Gy?” tanya Karel lagi. “Hmm… yang pasti harus ada nulis-nulisnya, tapi kalau bisa bukan wartawan, karena aku nggak terlalu bakat di jurnalistik.” “Lu bukannya mau jadi… apa dulu, tuh? Tukang…” Kevin berusaha mengingat-ingat, “tukang…” “Tukang ban,” cetus Keshia lagi. “Tukang dongeng!” Kevin menepukkan tangan. “Itu dia!” “Juru dongeng,” ralat Kugy sebal. “Entar aja, kalo udah tua, udah pensiun. Kalo dikerjain sekarang, mana ada duitnya.” Karel mengangkat alis. “Tumben Kugy mikirin duit,” ujarnya. “Sekarang aku udah realistis,” kata Kugy sambil tersenyum sekilas. Ada rasa getir di mulutnya saat kalimat itu terucap. “Oke, aku akan bantu cariin, ya. Ada temanku yang sedang berencana bikin perusahaan advertising sendiri, siapa tahu dia butuh copy writer. Nanti aku tanyakan. Siapa tahu kamu bisa magang dulu, sambil nunggu wisuda. Yang penting kamu selesaikan skripsi kamu dulu semester ini,” kata Karel. “Mau! Mau! Nggak digaji dulu juga nggak apa-apa!” sahut Kugy bersemangat. “Baru semenit yang lalu ngaku-ngaku realistis, sekarang udah ngomong nggak usah digaji. Dasar lu mental relawan, Gy! Mana bisa kaya?” komentar Kevin sambil tertawa-tawa. “Lagak lu… kayak panitia ada uangnya aja! Kalo dari kepanitiaan lu yang seabrek itu ada duitnya, seratus ribu aja sekali, sekarang lu udah punya rumah sendiri kaliii…” Karin tertawa lebih keras lagi. Namun pikiran Kugy sudah terbang jauh, menuju kelulusannya, menuju hari pertamanya bekerja. Apapun… di mana pun itu… yang penting ia bisa keluar dan membuka halaman baru. Ubud, Maret 2002… Pak Wayan memandangi keponakan perempuannya yang tengah tekun menulis di bale. Tangan mungil itu tampak asyik mencorat-coret di atas noteblock tebal yang selalu dibawanya ke manamana. Meskipun sudah dibelikan satu set komputer, Luhde tetap lebih suka menuliskan cerita dengan tangan. “De, sedang nulis cerita apa kamu?” tanya Pak Wayan lembut, seraya duduk depan Luhde. “Cerita anak-anak, Poyan,” kata Luhde, dan tangannya terus menulis. “Kamu masih serius ingin jadi penulis, ya?” “Iya, Poyan. Saya mau menulis cerita anak-anak, nanti Keenan yang buatkan gambarnya.” Pak Wayan tertegun. Dipandanginya lagi Luhde dengan matanya yang berbinar penuh semangat, keseriusan dalam nadanya, seolah-olah ia tengah mencurahkan seluruh hidup dan jiwanya ke dalam kertas. “De… Poyan ka ngomong kejep.” Luhde langsung meletakkan pulpennya, menutup bukunya. Jika Pak Wayan sudah mulai bicara dalam bahasa Bali padanya, berarti pamannya itu sedang ingin membicarakan sesuatu yang serius. Kedua orang itu lantas duduk berhadapan. “Poyan mengerti, kamu sudah mulai dewasa. Hatimu sudah ingin pergi ke satu tempat, berlabuh, dan menetap. Tapi, perjalanan hati itu bukannya tanpa risiko.” Wajah Luhde seketika bersemburat merah. Refleks yang selalu terjadi ketika ia malu atau risih. “Maksud Poyan apa?” “Dari semua orang di rumah ini, Poyan yang paling dekat kalian berdua. Poyan bisa merasakan perubahan di antara kalian…” Kening Luhde berkerut tanda protes, “Siapa—?” “… kamu dan Keenan,” Pak Wayan dengan lugas berkata. Luhde tak bersuara lagi. Hanya matanya saja yang mengerjap gugup. =========== “Hati-hati, De. Pelan-pelan. Jatuh sedikit-sedikit, jangan sekaligus. Belajar dari pengalaman pamanmu sendiri…” ujar Pak Wayan lembut. Namun senyum samar di wajahnya itu terlihat getir. Perlahan, Luhde mengangguk. Ia tahu kisah yang dimaksud pamannya. “Tidak mudah menjadi bayang-bayang orang lain. Lebih baik, tunggu sampai hatinya sembuh dan memutuskan dalam keadaan jernih. Tanpa bayang-bayang siapapun,” lanjut Pak Wayan lagi. Ditepuknya bahu Luhde pelan, lalu beranjak pergi dari sana. Luhde mematung lama di tempatnya. Merenungi sekian banyak hal yang otomatis berseliweran di dalam kepalanya jika hal satu itu disentuh. Terakhir, matanya berlabuh pada buku tulisnya sendiri. Menyadari apa yang selama ini telah ia usahakan dan upayakan dengan sepenuh hati. Menyadari bayang-bayang apa yang dimaksud oleh pamannya. Matanya pun terasa panas. Bandung, Mei 2002… Eko terlambat datang lagi. Padahal Noni sudah harus berangkat dari tempat kosnya sejak sepuluh menit yang lalu. Setengah tahun terakhir ini, Noni mengajar les privat untuk anak-anak SMP. Seminggu sekali ia pergi ke rumah salah satu murid lesnya untuk mengajar. Dengan wajah memberengut dan tangan melipat di dada, Noni menunggu di teras depan. Beberapa tasnya yang berisi kertas-kertas dan buku-buku sudah terparkir di dekat kaki kursi. Melihat pemandangan itu, Eko sudah langsung membaca nasib apa yang akan menimpanya. “Non—” Noni mengangkat semua barang bawaannya. Bergegas menuju Fuad dengan mulut terkunci rapat. “Sini, aku bawain…” “Nggak usah,” sambar Noni ketus. “Udah, langsung pergi aja. Aku udah telat banget, nih.” “Sori banget, Non…” “Kalo kamu memang nggak sanggup jemput, bilang dong! Aku bisa naik angkot kok, atau naik taksi, atau nebeng sama siapa kek. Tapi kalo gini kan jadwalku jadi berantakan. Kasihan muridmuridku jadi nungguin. Kamu ke mana, sih?” “Tadi ada emergency, Non. Soriii… soriii…” Eko memohon-mohon ampun. “Emergency apa?” “Komputernya Kugy sempat crashed, sementara dia kan udah mau sidang dua minggu lagi. Jadi tadi dia panik banget, dan aku nolongin dia bawain komputernya ke tempat servis. Untung datanya bisa selamat. Gila. Nggak tahu apa jadinya deh kalo sampai harus ngetik ulang lagi.” Noni pun terdiam. Ia ingat, sudah beberapa minggu belakangan ini, Eko bolak-balik ke tempat kos Kugy dengan alasan membantu anak itu skripsi. Bahkan pernah satu kali Eko terpaksa membatalkan janji kencannya dengan Noni karena membantu Kugy mengetik sampai malam. Sepanjang jalan dari tempat kosnya menuju rumah murid lesnya, Noni pun diam membisu. Fuad berhenti di tepi pagar rumah yang dituju. Eko mematikan mesin, dan menatap Noni dengan putus asa, “Non… ngomong, dong. Kamu kan biasanya maki-maki, ngomel-ngomel, apa kek… jangan diam gitu, dong. Lebih baik kamu marah-marahin aku daripada aksi bisu gitu.” Sambil menenteng tas-tasnya sendirian dengan susah payah, Noni pun keluar dari mobil. “Non! Tunggu, dong! Aku bantuin! Kamu kenapa, sih?” Eko buru-buru keluar dari mobil menyusul Noni yang berjalan cepat seperti orang minggat. “Lebih baik, kamu tungguin aja tuh Kugy selesai sidang, baru ketemu aku lagi. Percuma kalo sekarang-sekarang. Buang-buang waktu. Malah bikin hidupku tambah repot!” tukas Noni pedas seraya terus berjalan. Bandung, Juni 2002… Sambil diiringi album Duran-duran dan berjoget-joget kecil, Kugy mengecek lagi kelengkapan dokumennya untuk presentasi besok, termasuk catatan-catatan yang sudah ia buat untuk menjawab aneka pertanyaan saat sidang. Memastikan segala sesuatunya siap, termasuk dirinya. Ia pun mengembuskan napas panjang. Hatinya siap. Musik ini pun terasa makin sedap. “Aman terkendali?” tanya Eko, juga sambil berjoget kecil. =========== “Delapan-enam, Komandan,” Kugy menjawab mantap sambil mengacungkan jempol. “Eh, kita bikin koreografi gitu, yuk, Ko. Kayak joget prajurit.” “Siapa takut?” kata Eko sambil mengentak-entakkan kepala. “Lihat nih, Gy. Maksud gerakan kepala ini nih, gua ceritanya goyang-goyang kagum gitu. Gua nggak nyangka sobat gua jadi salah satu segelintir gerombolan laknat yang lulus di bawah empat tahun.” Mendadak Kugy menghentikan joget prajuritnya. “Ko… makasih, ya,” ia berkata sungguhsungguh. “Gua bener-bener berutang budi sama lu. Nggak tahu apa jadinya skripsi ini kalo nggak ada lu.” “Udah deh, udah gua bilang, jangan sok melankolis di depan gua. Yang ada gua pingin nyolok mata lu,” Eko terkekeh. “Gua serius, gila,” kata Kugy lagi. “Kalo ada apapun yang bisa gua bantu buat lu, please let me know, ya. I owe you one.” Mendengar itu, Eko pun berhenti bergoyang. Diam, berpikir. “Sebetulnya… ada, sih. Gua pingin minta tolong sesuatu.” “Anything.” “Gua minta lu bicara sama Noni setelah lu sidang. Baikan lagi, gih,” Eko berubah serius, “Gua juga nggak jamin kalian langsung bisa akur. Tapi setidaknya lu nyoba satu kali untuk bicara sama dia. Oke?” katanya lembut. “Buat gua? Please?” Dari semua kemungkinan permintaan Eko, Kugy paling enggan membayangkan yang satu itu. Tapi janji adalah janji. Ia pun mengangguk. *** Pintu itu membuka, dan Noni langsung menyambutnya dengan ucapan datar, “Ya. Ada apa?” “Kamu masih marah, Non?” tanya Eko hati-hati. “Nggak penting,” jawab Noni pendek, “selama Kugy belum sidang, apapun juga nggak jadi penting…” “Besok dia sidang,” sela Eko, “kamu bisa datang untuk kasih support. Dia pasti seneng banget kalo kamu ada.” “Dia atau kamu yang seneng?” “Non! Kalian tuh temenan udah berapa tahun, sih? Masa kalah sama masalah beginian doang? Masalahnya apa juga nggak jelas, tahu-tahu diem-dieman, terus dua-duanya sama-sama keras kepala. Heran,” Eko mulai dongkol. “Buatku, masalahnya selalu jelas, yaitu: dia NGGAK JELAS! That’s it!” tegas Noni, “Dan yang bikin semua ini makin-makin menyebalkan adalah karena kamu selalu ada di pihak dia!” “Noni… itu nggak benar sama sekali. Aku nggak berpihak, justru aku kepingin kalian—” “Kamu tuh naif atau pura-pura polos, sih, Ko?” Noni berdecak tidak sabar, “Ngaku aja, kenapa sih?” Eko mengerutkan alis. “Ngaku apa?” “Kamu naksir dia dari SMP. Iya, kan? Dan sebagian dari diri kamu yang tergila-gila sama Kugy tuh nggak berubah. Kamu selalu memuja dia. Dia nggak pernah salah buat kamu. Aku tahu kamu sayang banget sama aku, dan kamu pacarku, tapi sebagian hati kamu selalu ada buat Kugy. Iya, kan?” Noni setengah mati menahan tangis. Suaranya bergetar-getar. Apa yang selama ini ia tahan-tahan akhirnya keluar juga. Eko menganga tak percaya. “Non! Dia sahabatku! Aku sayang banget sama manusia gila itu! Tapi bukan sayang yang seperti kamu sangka. Ampun, deh. Kamu kenapa, sih?” “Tanya sama diri kamu sendiri! Kamu tuh KENAPA?” seru Noni putus asa. Pintu itu pun membanting di depan muka Eko. Dan seberapa kali pun dia mengetok dan memanggil-manggil, pintu itu tak membuka.=========== Sidang yang dilakukan secara terbuka itu ditonton oleh teman-teman terdekat Kugy. Ada Ami, Ical, Eko, Bimo, dan beberapa teman lain. Hanya Eko yang menunggu sampai pengumuman sidang. Mereka berdua duduk di bangku taman dekat ruang sidang. Tidak banyak bicara. Dengan dua gelas jus buah di tangan masing-masing, pandangan yang sama-sama kosong, menunggu dengan tegang. Mas Danar, petugas administrasi yang sudah akrab dengan Kugy, tahu-tahu melongokkan kepalanya dari dalam kantor. “Gy… pengumumannya udah keluar!” panggilnya. “Dari muka Mas Danar kayaknya lu dapet A, Gy…” bisik Eko yang berjalan di belakang Kugy. “Kok, gua malah ngelihat di mukanya tergambar huruf C… atau bahkan nggak lulus? Huuu… tegang, nih, Ko…” Kugy melangkah sambil meringis-ringis. “Nih, saya tempel, ya. Silakan baca sendiri,” kata Mas Danar sambil merekatkan kertas hasil nilai pengumuman tiga sidang yang digelar tadi pagi. Berhubung hanya ada tiga nama di sana, dengan cepat Kugy menemukan namanya. Ia dan Eko sama-sama tercengang. “A—plus?” teriak Eko. Kugy menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya sudah mau terjun bebas keluar. “Kooo… gua nggak percaya…” “Nilai lu paling tinggi, monyong! Kampret! Bangsat! Hebat banget sih luuu!” Eko berteriak kesenangan sambil menggoyang-goyang bahu Kugy. Spontan, Kugy membalik badan. Memeluk Eko erat. “Thank you, ya, Ko. Kalo bukan karena lu, gua nggak akan mungkin bisa berhasil hari ini,” bisiknya terharu. Eko sempat tersentak kaget dengan reaksi yang tiba-tiba itu. Namun lambat laun badannya yang mengunci mulai mengendur, ia pun mendekap Kugy balik. “Sama-sama, Gy. Gua hepi banget buat lu…” tahu-tahu satu tangannya menjitak kepala Kugy pelan, “eh, awas lu ya, jangan pakai acara nangis segala. Udah cukup gua jadi kacung lu dua bulan, jangan sampai bikin gua malah terharu atas kesialan gua selama ini…” Perlahan, Kugy melepaskan pelukannya. “Sesudah ini, gua yang mengabdi jadi kacung lu,” katanya berseri. Eko merogoh kantong, menyerahkan kunci mobil. “Lu bisa mulai dengan jadi sopir.” “Delapan-enam, Komandan,” Kugy menyahut sigap. “Mari, saya antar. Saya kasih makan. Saya kasih minum. Tapi nanti tetap saja Komandan yang bayar.” “Bawahan ngehe emang lu!” semprot Eko sambil tergelak. Dari kejauhan, seseorang mengamati keduanya berjalan berangkulan. Noni. Pagi tadi, ia merasa menyesal atas tuduhannya pada Eko. Dan, tiba-tiba, ia juga tergerak untuk menemui Kugy ke kampus demi memberikan dukungan. Dengan segala kegentaran dan keengganan yang padahal masih membebani hatinya, Noni berhasil melawan itu semua untuk akhirnya datang ke kampus dan mencari Kugy ke ruang sidang. Namun apa yang dilihatnya barusan memupuskan keduanya. Sebagian dirinya remuk ketika melihat satu hal yang paling ia takutkan ternyata menjadi kenyataan. Eko memang mencintai Kugy. Dan, dari apa yang ia lihat barusan, sepertinya cinta itu tidak hanya searah. Noni berusaha keras untuk tetap kuat berjalan pergi dengan tegak. Dadanya naik turun, menahan tangis. Ia berharap seandainya saja bisa terbang dan cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ia tidak kuat lagi. *** Rasanya sudah lama sekali Kugy tidak ke tempat itu. Tempat yang dihuninya dua tahun bersama Noni. Rumah pertamanya di Bandung. Dan tak lama lagi ia akan meninggalkan kota ini. Kugy berdiam sebentar, memandangi sudut-sudut di tempat kos itu. Sudut-sudut yang membangkitkan rentetan kenangan di benaknya. Kugy lalu menggeleng kepala sendirian, seolah-olah ingin menepis sesuatu. Kembali melangkah menuju kamar itu. Sekilas membaca tulisan: NONI ADA. Kugy mengetuk pintu. Tak berapa lama, pintu membuka, dan tampaklah Noni yang terkejut bukan main. Sama sekali tidak menyangka kedatangan Kugy. Kugy mengangkat kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi, tersenyum selebar mungkin. “Helo, Non! Apa kabar?” Noni tidak bereaksi sama sekali. Hanya menatap Kugy dengan tatapan tidak mau diganggu. “Gua lulus sidang tadi pagi, Non. Dan Karel udah cariin gua kerja di Jakarta, gua mulai coba magang sambil nunggu wisuda. Jadi, gua mau pamitan, sekalian pingin ngobrol-ngobrol aja,” dengan nada secerah mungkin Kugy bercerita. “Hmm. Boleh masuk?” tanyanya hati-hati. Namun Noni bergeming di tempatnya. “Selamat buat kelulusan lu. Tapi gua lagi banyak kerjaan. Sori,” katanya dengan nada datar. “Ada yang bisa gua bantu, nggak?” Kugy menawarkan diri. Noni hanya menggeleng. “Non… sebenarnya gua pingin bicara sesuatu sama lu. Gua pingin kita temenan lagi kayak dulu. Gua mau minta maaf atas semuanya. Selama ini gua bingung mulai dari mana…” terbata-bata Kugy berusaha menjelaskan. “Gy, gua hargai maksud lu,” sela Noni, “tapi buat gua, semua itu udah jadi sejarah. Dan gua merasa lebih baik hubungan kita kayak gini aja. Jauh lebih mudah buat gua. Buat elu. Dan mungkin buat Eko.” Sesuatu seperti menyodok hatinya tiba-tiba. Namun Kugy tidak tahu pasti apa. “Kenapa gitu, Non?” Rahang Noni mengencang. Ingin sekali rasanya ia muntahkan semua kekesalannya selama ini seperti berondongan peluru. Namun ia pun tak tahu harus memulai dari mana. “Seumur hidup gua temenan sama lu, gua harus mengakui lu lebih cantik, lebih pintar, lu serba bisa, tapi gua nggak mau sirik sama lu, karena gua sayang banget sama lu, Gy. Tapi baru kali ini gua sakit hati sama lu, karena lu memanfaatkan semua kelebihan lu untuk kepentingan lu sendiri…” Noni berkata dengan suara tertahan. ============ Kugy terlongo mendengar kalimat-kalimat itu. Berusaha mencerna, memahami, dan tetap belum ia temukan maksud Noni yang sebenarnya. “Gua tahu Eko memang simpati sama kondisi lu. Dia sayang sama lu. Dulu kita semua juga gitu. Tapi jangan gara-gara cuma tinggal dia sendirian yang masih nganggap lu, terus lu merasa lebih. Kalo lu memang punya hati, lu bakal tahu menempatkan posisi lu di mana. Belagak temen, tapi makan temen. Atau jadi orang asing, tapi nggak makan temen. Gua sarankan lu pilih yang kedua. Karena gua nggak punya tempat buat lu lagi, selain posisi itu.” “Non… lu salah sangka... total!” Kugy sampai menahan napas saking kagetnya. “Gua nggak ada niatan kayak gitu sama sekali… nggak pernah ada apa-apa di antara gua dan Eko selain temenan doang…” “Sekarang gua tanya sama lu,” potong Noni tajam, “pernah nggak Ojos menemani gua dengan setianya berminggu-minggu? Pernah nggak gua meluk-meluk Ojos di depan umum?” Kugy terkesiap. Berusaha setengah mati memahami apa yang tengah terjadi, apa yang Noni lihat, apa yang Noni kira. “Astaga, Non… maksud lu kejadian tadi siang di kampus? Gua tuh… ya ampun, Non…” Kugy nyaris kehilangan kata-kata, “gua sobatan sama Eko udah hampir sepuluh tahun, kita udah kayak kakak-adik. Mana bisa lu samain hubungan gua dan Eko dengan hubungan lu dan Ojos?” “Kalo lu memperhitungkan perasaan gua, lu nggak perlu membela diri kayak gitu. Elu cuma perlu tahu diri. Jangan sok polos, Gy. Eko selalu punya hati buat lu. Sekarang tinggal gimana elunya aja. Masih nganggap gua ada atau enggak.” Kugy menghela napas, mengingat perjalanannya setahun ke belakang, dua tahun ke belakang, tiga tahun ke belakang… mendadak ia lelah luar biasa. “Itu adalah hal paling tolol yang pernah gua denger dari lu,” ucapnya pelan. Hati Noni langsung tertusuk mendengarnya. Namun ia berusaha tampak tegar. “Nah, sekarang lu ngerti, kan? Kenapa gua tadi bilang nggak ada yang perlu diubah dari hubungan kita? Lebih baik gini, deh,” cetusnya dingin. Kugy pun mengangguk. “Iya, lebih baik gini.” Pintu itu pun ditutup. Kugy pun membalikkan badan. Pulang. Begitu sampai di tempat kosnya, Kugy tidak buang waktu. Malam itu juga, ia berkemas-kemas. Ia akan pulang ke Jakarta secepat mungkin. Tidak ada lagi yang menahannya di sini. Sama sekali. Malam itu Kugy pun memutuskan, segala kenangan dan perkara yang hanya akan membebani hatinya, ia buang jauh-jauh. Noni resmi menjadi satu di antaranya. Jakarta, Agustus 2002… Kugy mematut-matut diri di kaca. Kegiatan yang telah dilakukannya bolak-balik sejak setengah jam yang lalu. Barangkali inilah rekor terlama ia bercermin. Selama ini bahkan ia jarang menggunakan jasa cermin karena tidak terlalu peduli apa yang dilihatnya di sana. Namun hari ini, ia merasa ada yang benar-benar tidak beres. Ada yang salah dengan rok selutut yang dikenakannya, dengan sepatu hak lima senti yang menempel di kakinya, dengan clutch bag itu, dengan rambutnya yang mendadak bervolume karena di-rol sejak pagi tadi. “Gua kok ancur banget, sih?” keluhnya pada Karin, yang juga merupakan penyalur semua barang yang kini ada di badannya itu. “Yang ancur adalah mata lu dan wawasan busana lu selama ini, Kugy. Kalo orang mau ngantor, supaya tampak menarik, enak dilihat, dan profesional, ya begini dandanannya!” Karel, yang baru selesai sarapan, melongok dari pintu. “Gy, berangkat, yuk—” Kalimatnya terhenti. Karel bengong menatap adik perempuannya. “Kamu—nggak salah info, kan, Gy? Kamu bakal jadi co-py-wri-ter,” eja Karel penuh penekanan, “bukan fa-shion e-di-tor! Juga bukan re-sep-sio-nis! Dan bukan S-P-G!” Karin mendelik sewot. “Karel, ini namanya STYLE, oke? Sesuatu yang bukan keahlian kamu. So… leave it to the expert, please?” “Karin, aku udah sering ke kantor advertising tempat Kugy nanti kerja. Bosnya aja ngejins kalo ke kantor. Dan Kugy bakal ditempatkan di bagian kreatif. Dalam hal ini, I am the expert. So, please, jangan jadikan adik kita menjadi kelinci percobaan fashion-mu, oke?” balas Karel tegas. ============ “Fine, fine,” Karin melengos, “udah jelas, masalahnya di sini adalah kesenjangan selera.” Giliran Kugy bersorak girang. “Hore! Jadi aku pakai bajuku aja, ya?” Ia pun berlari-lari masuk kamar untuk ganti baju. Tak lama Kugy kembali dari kamarnya. “Kalo gini gimana?” ia berdiri di ruang makan, meminta pendapat semua. Kugy, berdiri dengan rok panjang hitam yang dibelinya untuk sidang skripsi, kemeja putih peninggalan penataran P-4, jaket jins Karel yang nyaris menutup tubuhnya seperti sarung hp, dan tak lupa, jam tangan Kura-kura Ninja-nya yang mencuat hingga rasanya menggaplok mata. Karel menelan ludah. Matanya langsung melirik Karin, meminta pertolongan. *** Sebelum masuk, Kugy mengamati kantor itu sejenak. Tertera tulisan besar berwarna merah di dinding batu: AdVocaDo. Segalanya masih serba baru. Berlokasi di derah perumahan Jakarta Selatan, gedung mungil dua lantai itu sangat artistik dan bergaya galeri. Desainnya serba minimalis, tapi ada aksen warna-warna berani seperti pintu dan kusen serba merah, patungpatung logam dengan lapis alumunium cemerlang. Kantor itu pun dilingkungi taman tropis bergaya Bali yang rimbun dan asri. Interiornya tidak kalah memukau. Dari mulai pencahayaan hingga furnitur, Kugy segera tahu bahwa selera pemiliknya di atas rata-rata. Dan dari terlihatnya barang-barang seni di manamana, dengan mudah Kugy menyimpulkan bahwa pemilik kantor ini pun seorang pencinta seni. Sambil menunggu bersama Karel di sofa depan, mata Kugy tak henti-hentinya jelalatan ke sana ke mari, mengagumi calon kantor barunya. Tak lama, seseorang berjalan keluar menghampiri mereka. “Karel! Hai!” Karel langsung bangkit berdiri, dan keduanya berangkulan akrab. Kugy spontan ikut berdiri. Kaku. Ia menyadari sesuatu. Jarang sekali ia terkesiap melihat seseorang. Namun kehadiran orang itu memang seketika mengubah atmosfer ruangan. Dalam benaknya, Kugy membayangkan sosok Remigius Aditya yang jauh lebih tua. Tapi ternyata pemilik biro iklan AdVocaDo ini masih sangat muda, berpenampilan gaul dengan kemeja lengan pendek, jins hitam, dengan wajah tampan dan segar seperti baru keluar dari tempat fitness. “Remi, kenalin, ini adik gua, Kugy,” Karel menyorongkan Kugy ke muka. “Remigius,” ia berkata ramah sambil menjabat tangan Kugy, “panggil aja Remi.” Karel menggeleng cepat, “No… no, panggil ‘Pak’ Remi.” Remi tertawa. “No, Karel. Remi. Please.” Kugy ikut tersenyum. “Kugy,” ia memperkenalkan diri. “Makasih banget ya buat kesempatannya,” kata Karel lagi. “Mudah-mudahan dia nggak malumaluin.” “The K family? Gua percayalah,” Remi tergelak, “resume kamu juga sangat bagus, kok,” tambahnya pada Kugy, “dan kamu masuk pada saat yang tepat.” “Oh, ya?” Kugy terlongo. “Kita lagi banyak banget proyek baru, media campaign, pokoknya kenyang, deh. Sudah bisa dipastikan kamu langsung sibuk,” ujar Remi santai, “yuk, kamu bisa mulai sekarang. Saya kenalin dulu sama tim yang lain, ya.” Kugy bisa merasakan telapak tangannya berkeringat pertanda gugup. Masih terbayang jelas suasana kampus, tempat kosnya, Sakola Alit. Rasanya semua itu baru kemarin ia alami. Dan sekarang ia sudah memulai sesuatu yang sama sekali baru. Mendadak, Kugy ingin terbang ke Bandung saat itu juga. Bersambung ke PART 8: Si Ninja Asmara..... ============= Judul : Si Ninja Asmara PART 8: Si Ninja Asmara Jakarta, September 2002… Kugy tak percaya bisa lolos dari sebulan pertamanya di AdVocaDo. Ia resmi menyandang titel pegawai termuda karena dialah satu-satunya yang bekerja dengan status magang sambil menunggu ijazah. Kugy ditempatkan di satu tim yang dikepalai seorang creative director yang juga membawahi beberapa tim lain di AdVocaDo. Tim yang ia tumpangi terdiri dari seorang art director bernama Siska, dan seorang copy writer senior bernama Iman. Lantai bawah menjadi lantai area untuk bagian account, sementara departemen kreatif menghuni lantai dua. Suasana lantai bawah lebih tertib dengan orang-orang yang berbaju lebih rapi, sementara lantai dua hingar-bingar, urakan, dan lebih berantakan. Kugy menempati satu pojok berpartisi, dengan sebuah meja dan satu set komputer. Remi benar. Ia memang langsung sibuk luar biasa. Sebentar-sebentar ada yang nongol di balik partisinya; “Gy, tolong di-scan ya,” sambil menyerahkan setumpuk gambar; “Gy, tolong fotokopi ini semua, ya,” sambil menyerahkan setumpuk dokumen; “Gy, tolong gambar yang udah ditandain, diguntingin ya, kita mau buat dummy storyboard,” sambil menyerahkan setumpuk majalah dan gunting kecil. Kugy merasa, satu-satunya pekerjaan yang belum diperintahkan padanya adalah membuat kopi atau teh, dan itu pun hanya karena sudah ada office boy dan office girl. Kadang-kadang, Kugy merasa lebih tepat disebut senior office girl ketimbang seorang junior copy writer. Jam kerjanya pun tak tentu. Sementara para office boy dan office girl sudah bisa pulang dari jam enam sore, Kugy kadang harus menetap sampai jam sebelas malam, apalagi kalau sudah menjelang presentasi pada klien, padahal saat presentasinya nanti ia tidak pernah diikutsertakan. Begitu sampai di rumah, Kugy pun harus menghadapi berondongan pertanyaan dari keluarganya yang begitu bersemangat dengan karier barunya. Sebentar-sebentar ada saja yang mengusiknya untuk bertanya; “Gy, gimana kerjaan lu? Betah, nggak?”; “Gy, udah bikin iklan apa aja, nih?”; “Denger-denger bos lu ganteng, ya?”. Kugy selalu menjawab apa adanya, bahwa selama bekerja di AdVocaDo ia semakin ahli menggunting, memotong, dan cekatan memfotokopi. Dan semua itu kelak berguna jika ia memutuskan untuk bikin kios fotokopi sendiri. Kadang, semua pertanyaan itu ia jawab dengan dengkuran, menggeletak di sofa ruang tamu dan tertidur sampai pagi. *** Jumat. Hari yang paling ditunggu oleh Kugy, karena berarti selepas hari ini ia akan punya dua hari untuk bermalas-malasan. Setidaknya, di akhir pekan besok, ia terbebas tugas karena belum ada lagi pitching yang mendesak. Pikirannya sudah melayang ke akhir hari, ke tempat tidur, bermain dengan Santai, dan melalap tumpukan komik Jepangnya yang sudah begitu banyak tertunda. Namun, siang ini ia harus terjebak dalam rapat internal, membahas sebuah produk permen cokelat yang berencana akan kampanye besar-besaran. Sementara Kugy tahu keterlibatannya tak akan lebih dari menggunting dan men-scan. Sambil mengaduk-aduk secangkir kopinya, Kugy berusaha memasang tampang menyimak, padahal ia sudah mau mati bosan. Iman berusaha keras meyakinkan Remi atas usulan konsepnya, “Tapi teks ini catchy banget, Bos. Memang banyak yang terpaksa dipersingkat, supaya ada ruang buat visual. Tapi pesannya kan tetap jelas.” Remi berpikir, “Iya, sih. Tapi… kenapa, ya? Saya kok merasa belum… kena. Udah banyak iklan produk sejenis yang pakai angle sama.” “Kalo konsep tim kita sih lebih condong ke narasi, supaya mengakomodir maunya klien yang kepingin fitur produknya bisa maksimal keluar. Tammies Bar – cokelat Swiss, real caramel, crispy wafer, hazelnut crème, blablabla… kita push aja semuanya,” usul Fani, dari tim lain. Remi menggeleng. “Basi, ah. Dan kayaknya nggak cocok buat profil segmen yang mereka tembak.” “Iya, tapi, kan mau kliennya gitu. Dia pingin kualitas cokelatnya tersampaikan, karamelnyalah, wafernya, rasanya, gambar kemasannya. Kalo bukan narasi atau teks grafis, apa lagi?” desak Iman. Gina, account director, berdehem, “Teman-teman, tanpa bermaksud bikin kalian tambah stres, tapi sebenarnya iya, saya cuma mau ngingetin kalo mereka memang sengaja pitching dengan produk yang susah. Tapi, begitu yang satu ini gol, semua produk mereka bakal lari ke kita. Tahun ini produsennya mau launching empat produk di Indonesia. Tammies Bar cuma kasus uji coba doang. Tapi sekaligus yang paling menentukan.” “Jadi, kita maju pakai yang mana, nih? Tim saya, Iman, atau Fani?” tanya Tasya, tim terakhir yang juga presentasinya ditolak mentah-mentah oleh Remi. Remi menghela napas. “Sorry, guys. Saya masih belum puas.” Muka-muka protes langsung bermunculan. Kerja keras mereka beberapa hari bisa jadi percuma, bahkan harus mengulang lagi dari awal. Remi menebarkan pandangan, tatapan-tatapan gelisah yang menunggu keputusannya. Kecuali yang satu itu. Mata Remi pun tertumbuk pada Kugy yang tampak mengaduk-aduk kopi di ujung meja sana, dengan satu siku menopang dagunya yang sudah mau rubuh, dan kelopak setengah menggantung pertanda ngantuk nyaris pingsan. “Saya pingin tahu pendapat yang belum bicara. Kugy, menurut kamu gimana?” Mendengar namanya disebut, seketika kantuknya melesat kabur. Kugy terduduk tegak. “Kenapa… pendapat? Tentang apa, ya?” Yang lain langsung cekikikan melihat pemandangan komikal itu. Antara Kugy yang bagaikan murid tertangkap basah tidur di kelas, dengan Remi yang bagaikan guru killer yang siap menghukum. ========== “Iklan Tammies Bar. Apa pendapat kamu?” Remi mengulang. Suara itu menajam. “Oh! Masih ngomongin yang tadi?” sahut Kugy polos. Cekakak-cekikik di ruang itu makin menjadi. Benar-benar hiburan, pikir mereka semua. “Menurut kamu… dari ketiga konsep tadi… mana… yang… paling mengena?” Remi sengaja melambatkan tempo bicaranya, seolah menjelaskan pada anak kecil. Kugy diam sejenak, memeras otaknya agar memutar balik memori tentang rapat yang sudah berlangsung sejak sejam yang lalu itu, yang mudah-mudahan masih tersimpan di kepalanya. “Mmm… saya nggak suka tiga-tiganya,” akhirnya ia berkata. Suara ketawa-ketiwi sontak lenyap. Muka-muka jahil tadi berubah serius dalam sekejap. “Oke. Alasan kamu?” tanya Remi penasaran. “Menurut saya, tiga-tiganya standar.” Suasana hening tadi kian beku. Tatapan tajam menghunjam Kugy dari kiri-kanan. Kali ini kantuknya benar-benar sirna, dan Kugy mulai sadar apa yang barusan ia utarakan, plus konsekuensinya. Tapi sudah kepalang basah untuk mundur. Terpaksa ia melanjutkan, “Tiga konsep tadi memang padat info, tapi cerewet. Secara visual, tiga-tiganya memenuhi syarat tapi nggak nendang. Kalau saya jadi penonton, saya nggak kepingin beli, tuh. Biasa-biasa aja soalnya. Nggak bikin ngiler. Kita harus membuat Tammies Bar ini bikin orang penasaran dan kepingin coba.” Iman tidak tahan lagi, “Teori sih gampang. Tapi realisasi konsepnya gimana?” cetusnya dengan nada tinggi. Kugy terdiam. Sumpah, gua juga nggak tahu, balasnya dalam hati. Namun semua orang di ruangan itu sudah menanti jawabannya seperti singa-singa kelaparan. Terlalu ganas dan buas untuk diberi jawaban ‘tidak tahu’. Dan akhirnya, Kugy memilih untuk menceletukkan apapun yang lewat di pikirannya pertama kali. “Gini… bayangkan: tiba-tiba muncul background hitam, sunyi, tanpa musik, tanpa suara, seperti teve kita mendadak mati, tapi tidak… muncullah selapis wafer, lalu mengalirlah hazelnut crème, lalu selapis wafer lagi, lalu melelehlah caramel, lalu mencairlah lapisan cokelat, menutupi semuanya, lalu berjatuhanlah butiran rice crispy, lalu cokelat itu membeku. Terakhir, cokelat itu terbungkus. Tammies Bar. Dan muncul satu kalimat: Kelezatan Tanpa Banyak Kata.” Ruangan itu tetap sunyi. Namun sunyi yang kali ini lain. Semuanya hanyut bersama visualisasi ide Kugy dalam pikiran mereka masing-masing. “Tagline-nya oke,” Fani berkata lirih. Mukanya masih tidak rela, tapi ia sungguhan suka. “Nggak standar,” Tasya mengakui. “Saya suka efek teve mendadak mati itu,” lanjutnya lagi, “memorable.” “Jujur, gua kayaknya jadi pingin beli, tuh. Ngebayanginnya aja ngiler,” celetuk Siska. “Pe-er berat memang jadi di visual, tapi gua optimis bisa banget dikejar.” Gina terkekeh, “Ekonomis pula. Nggak usah pakai jingle, overdub, dan sebagainya.” Iman melirik ke arah Remi. Diikuti oleh semua mata. Tinggal dia yang belum bersuara. Remi menepukkan tangannya ke meja, “Sip. Done, deal. Tammies Bar, Kelezatan Tanpa Banyak Kata, visual persis dengan apa yang dideskripsikan Kugy. Langsung jalan, ya? Khusus untuk pitching ini, saya mau Kugy jadi project leader. Siap-siap presentasi, ya, Gy. Good luck,” Remi pun berdiri, menatap Kugy hangat dan menepuk ringan bahunya, “… and good job.” Kugy merasa darahnya mendadak hangat. Dan ketegangan yang tadi mengunci tubuhnya berangsur mencair. Mukanya berangsur berseri. Kugy sadar, barangkali inilah akhir kariernya menjadi petugas prakarya AdVocaDo, sekaligus hari pertamanya sungguhan “bekerja”. *** Lena langsung melesat ke rumah sakit begitu ia mendapat kabar dari kantor suaminya. Setengah berlari, kakinya melangkah terburu-buru di koridor, mencari kamar tempat Adri diobservasi. Tak lama, Jeroen pun datang menyusul, masih dengan seragam sekolah. Di kamar itu, suaminya terbaring dalam posisi setengah duduk. Wajahnya pucat. Namun tampak jelas ia berusaha kelihatan baik-baik saja. “Hai, Lena… Jeroen…” sambutnya dengan senyum yang dipaksakan muncul. “Papa kenapa? Sakit apa?” tanya Jeroen panik. “Nggak pa-pa… cuma stroke ringan. Nih… tangan yang kanan tahu-tahu aja nggak bisa gerak. Tapi sebentar juga normal lagi kok. Ini udah mulai bisa gerakin jari dikit-dikit,” jawab Adri, berusaha menenangkan anaknya. “Stroke itu kenapa sih, Ma?” Jeroen gantian bertanya pada ibunya. “Macam-macam, sayang. Bisa karena terlalu capek, atau stres, atau…” Lena bahkan tak sanggup menyelesaikan kalimatnya karena masih terengah dan shock, meski ia juga berusaha tampak tenang, kekhawatiran mendalam yang terpancar di mukanya tak bisa disembunyikan. Adri bisa melihat itu. “Aku nggak pa-pa. Betul. Fisioterapi beberapa minggu aja pasti udah bisa normal lagi,” ucapnya lagi sambil mengelus lengan istrinya dengan sebelah tangan. “Semuanya akan normal lagi…” Ia mengulang, lebih seperti untuk menenangkan dirinya sendiri. Lena termenung. Baginya, ini lebih dari sekadar masalah fisioterapi. Ia lebih mengkhawatirkan apa yang tak terucap, apa yang tersembunyikan, dan apa yang masih akan terus membayangi keluarga mereka dari hari ke hari. ============= Ubud, September 2002... Sedari tangannya sudah mengenggam kuas blok. Kanvas putih sudah siap di hadapannya. Namun tak sesapu pun warna yang tergores di sana. Tangannya seperti lumpuh. Sejak ia kembali melukis lagi dua tahun lalu, baru kali ini Keenan merasa buntu. Perasaan itu sungguh asing. Bahkan menakutkan. Keenan dapat merasakan energi kegelisahan yang bergerak menyusupi tubuhnya. Lambat laun, kian merasuk. Keenan mulai resah. Langit sore yang cerah pun tak ada makna baginya hari ini. Ada yang salah. Namun rasanya tak bisa menunjuk apa-apa, siapa-siapa. Tampak Banyu berjalan melewati bale. Keenan langsung memanggilnya, “Banyu! Luhde ke mana, ya?” “Dia tadi pergi ke pura kota. Sebentar lagi pulang,” jawab Banyu sambil terus melenggang. Barangkali karena belum ada Luhde, pikir Keenan. Biasanya jika dia ada di sini, semuanya baikbaik saja. Akhirnya ia memutuskan untuk berbaring, dan menunggu. Namun badannya bolakbalik terus seperti kepanasan. Keresahan itu makin tidak tertahankan. Keenan hanya menunggu, dan menunggu… “Keenan… kamu cari saya, ya?” Suara Luhde muncul dari belakang. Serta merta Keenan bangkit, mukanya lega bukan main. “De, kamu kok lama banget sih perginya?” ujar Keenan seraya menarik tangan Luhde. Luhde terkejut dengan sambutan ekstra hangat itu. “Keenan sudah menunggu dari tadi? Maaf, ya. Mmm… memangnya kita janjian?” Keenan tertawa lepas. “Nggak, kita memang nggak janjian. Tapi hari ini rasanya aneh. Sepertinya ada yang kurang. Dan nggak tahu kenapa, saya merasa kehilangan kamu. Aneh rasanya kamu nggak ada menemani saya di sini.” Luhde menelan ludah. Tak pernah membayangkan kata-kata itu akan terlontar dari mulut Keenan. Belum usai kagetnya, ia dikejutkan lagi dengan Keenan yang tahu-tahu merebahkan kepala di pangkuannya. “Damai sekali rasanya kalau sudah begini…” gumam Keenan. Matanya memejam. Tubuh Luhde mengunci kaku. Namun dibiarkannya Keenan yang tampak begitu rileks beralaskan simpuhan kakinya. Pelan-pelan, berusaha membiasakan dirinya dengan kondisi itu, pemandangan itu. Mereka pun lama terbungkus keheningan, menikmati sunyi dan kehadiran satu sama lain dengan caranya masing-masing. “De, kok saya nggak bisa melukis hari ini, ya?” Tiba-tiba Keenan bersuara. “Hati saya rasanya hampa, kepala saya rasanya kosong. Nggak ada yang mengalir keluar seperti biasanya.” “Wajar kalau Keenan jenuh. Sudah berbulan-bulan hampir tidak pernah berhenti berkarya,” ucap Luhde. “Mungkin saya jenuh, ya?” sahut Keenan, “tapi… gimana kalau ternyata bukan sekadar jenuh? Mungkin nggak saya—” Dan Keenan rasanya tidak bisa meneruskan ucapannya. “Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar hitam yang kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap ada di sana. Bumi hanya sedang berputar,” Luhde melanjutkan dengan lembut. Keenan mengembuskan napas panjang, berharap bahwa memang benar demikian. Digenggamnya tangan Luhde, lalu diletakkan di atas dadanya. “Nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada kamu,” bisiknya. Mereka berdua kembali ke dalam keheningan. Namun sepotong bisikan itu terasa bergaung memenuhi seluruh pelosok ruang batin Luhde. Belum pernah ia mendengar Keenan mengutarakan perasaannya segamblang itu, sejelas itu. Belum pernah Luhde merasa sebahagia ini. Perlahan, satu tangannya bergerak, menelusuri rambut Keenan. Membelainya dengan penuh perasaan. Luhde berharap, dalam setiap gerakan jemarinya, Keenan dapat merasakan apa yang ia rasakan. ========= Jakarta, September 2002… Begitu kakinya melangkah ke lobi kantor, Kugy langsung mendapat pesan untuk menemui Remi di ruangannya. Kugy melirik jam. Akibat persiapan presentasi Tammies Bar, sudah empat hari terakhir ia masuk kantor di atas pukul sebelas siang. Setiap malam ia harus bekerja sampai larut, dan Kugy benar-benar tidak sanggup membuka mata sebelum jam delapan pagi. Kugy tidak heran kalau hari ini ia bakal dapat teguran. “Siang, Kugy. Silakan masuk,” Remi menyambutnya dengan ceria. Di dalam ruangan itu ternyata juga sudah ada Gina, account director. “Sori, ya. Saya agak telat. Kemarin, sesudah presentasi, badan saya rasanya capek banget. Jadi, di rumah saya sengaja tidur terus, takut sakit,” jelas Kugy polos. “Oh, ya. Kamu memang harus jaga kesehatan, Gy. Bener-bener jangan sampai sakit. Soalnya…” Gina tersenyum simpul, ia melirik Remi. “Tammies Bar gol. Klien kita suka banget sama konsep kamu. Mereka mau launch kampanye besar-besaran,” Remi melanjutkan. “Mereka juga kepingin jalan dengan kita untuk semua produk barunya. Tapi…” Gina berdehem, “mereka kepingin ide yang secemerlang Tammies Bar, konsep yang out of the box, fresh, jadi…” Remi langsung menyambar, “Kita mau kamu yang jadi project leader untuk produk-produk mereka.” Kugy ternganga. “Saya? Tapi… kok… kenapa saya?” “Karena, saya pikir kamu punya syarat itu semua. Ide kamu fresh, out of the box, dan justru karena kamu anak baru, kamu belum banyak distorsi ini-itu. Kamu punya karakter yang pas untuk spirit klien ini. Dan jarang-jarang juga kita punya klien yang memilih untuk nggak ‘main aman’. Jadi, saya pikir, sinergi mereka dan kamu bakal cocok banget,” papar Remi lugas. “Tapi… saya belum pengalaman… presentasi aja baru ikutan sekali…” “Kan kamu punya tim, darling? Ya, mereka pasti bantu kamulah,” ujar Gina sambil tertawa ringan. Kugy berusaha mencerna ucapan yang barusan ia dengar. Dia—punya tim? Dari tukang fotokopi, tiba-tiba sekarang dia punya tim sendiri? Dalam hatinya, ia sudah ingin melorot ke lantai, terpingkal-pingkal. Walaupun ia tahu Remi dan Gina tidak main-main, semua ini terlalu lucu baginya. Namun ia berusaha setengah mati menunjukkan muka serius. “Oke,” Kugy menghela napas, bingung mau berkomentar apa, “jadi—” “Jadi, kalau kita meeting lagi, kamu punya kerjaan lain selain ngelamun dan nahan ngantuk,” cetus Remi dibarengi senyum kecil. “Congrats, yaaa!” Gina menambahkan. Tak lama, Kugy keluar dari ruangan itu. Kembali ke pojok kecilnya. Cekakak-cekikik sendirian sepuasnya di sana. *** Sudah setengah jam Kugy menunggu taksinya yang tak kunjung datang. Inilah risiko jika pulang pada waktu standar orang-orang bubaran kantor, yakni kompetisi kendaraan umum yang sangat ketat. Namun Kugy terlalu lelah untuk mencoba alternatif lain selain taksi. Ia hanya ingin duduk tenang di jok belakang, bahkan kalau mungkin tertidur, dan tahu-tahu sudah sampai di rumah. “Katanya mau pulang cepat.” Kugy menoleh ke samping. Remi tengah berdiri di sisinya. Berpakaian lebih rapi dari biasa. “Taksiku belum datang-datang,” jawab Kugy, “mau ada acara lagi, ya? Rabu gaul?” Kugy terkekeh. “Tadinya memang mau ada appointment. Tapi dibatalkan. Kamu mau pulang, ya? Saya antar sekalian, yuk? Taksinya di-cancel aja.” Dan sebelum Kugy sempat membuka mulut, Remi sudah keburu berbicara pada Anita, resepsionis kantor, untuk membatalkan pesanan taksi Kugy. Dan sebelum Kugy merancang basa-basi untuk merespons ajakan tersebut, Remi sudah keburu berkata, “Tunggu di sini, ya. Saya ambil mobil.” Sebentar kemudian, dia sudah menghilang. Kembali lagi bersama mobilnya di pelataran lobi, pintu depan yang sudah dibukakan, hanya tinggal menunggu Kugy melangkah masuk. Kugy memasuki mobil Remi dengan sedikit canggung. Walaupun Remi senantiasa bersikap rileks kepada para bawahannya, Kugy tetap sungkan jika harus diantar pulang oleh bosnya sendiri. Namun Remi tampak datar dan biasa-biasa saja. Kugylah yang akhirnya memutuskan untuk meredam kecanggungannya sendiri. Mobil itu bersih sekali. Wangi jok kulit meruap bercampur pengharum mobil. Alunan musik berkumandang sayup. Dan, mendadak telinga Kugy siaga. “Dead Or Alive?” tanyanya langsung. Mulutnya pun langsung ikut bernyanyi, “You spin me right round… baby, right round, like a record, baby, right round, round round…” “Kok—kamu tahu grup ini? Suka New Wave juga?” tanya Remi, takjub. “Memang dulu kamu udah lahir waktu zamannya lagu ini?” “Ya udahlah,” Kugy tergelak. “Tapi orang-orang bilang saya memang kelainan. Ini tuh musik yang saya dengar dari kecil, dan selera musik saya, nggak tahu kenapa, dari dulu nggak berubahberubah sampai sekarang. Saya kayak stuck di musik ’80. Nggak bisa denger yang lain,” Kugy menjelaskan. “Iya. Itu unik,” Remi pun manggut-manggut setuju, “tapi saya nggak terlalu kaget. Karel sudah bilang kalau kamu memang unik.” Kugy pun tersenyum simpul. “Dalam kasus saya, kata ‘unik’ itu seringnya merupakan ungkapan halus dari kata ‘aneh’.” “Bagi saya, hidup terlalu singkat untuk dilewatkan dengan biasa-biasa saja. Saya orang yang sangat apresiatif terhadap segala sesuatu yang unik, aneh, dan nggak biasa,” Remi berkata tenang, “mungkin karena itu juga saya mau terima kamu kerja di AdVocaDo. Intuisi saya bisa membaui ‘keanehan’. Dan ternyata betul, saya nggak salah pilih.” ================ Senyum Kugy melebar tanpa bisa ia tahan. “Remi, makasih ya untuk kesempatannya jadi project leader. Saya sadar banget, modal saya sebetulnya cuma beruntung—” Remi langsung menggeleng. “Kalau kamu menang lotere, itu baru namanya cuma modal beruntung. Tapi kamu lain, kamu memang punya bakat alam. Kamu hanya tinggal jadi diri kamu sendiri, dan jadilah kamu di posisi kamu yang sekarang. Yang orang-orang seperti kamu butuhkan sebenarnya cuma kesempatan.” Kugy cuma bisa manggut-manggut pelan tanpa suara. Terlalu salah tingkah untuk berkata apaapa. Kugy pun melempar pandangannya ke jendela sebagai distraksi, mengamati lalu lintas yang padat dan nyaris tidak bergerak di jam bubaran kantor ini. “Kamu buru-buru banget harus pulang?” Remi bertanya. “Memangnya kenapa?” “Macetnya parah, nih. Mendingan kita tunggu sampai agak lengang baru jalan lagi. Keberatan, nggak?” “Nggak…” Kugy menggeleng pelan. Remi menunjuk sebuah kafe yang terletak di tepi jalan, hanya seratus meter dari posisi mobil mereka. “Kita mampir ke sana dulu aja, yuk? Kopinya lumayan enak.” “Oke,” Kugy mengangkat bahu ringan. Namun dalam hatinya ia tercengang-cengang sendiri. Hari yang aneh, pikirnya. Tak hanya ia tiba-tiba naik pangkat drastis, ia juga diantar pulang dan diajak nongkrong oleh bos nomor satunya. Tak sabar rasanya ingin menulis surat laporan untuk Neptunus. *** Selepas dua cangkir cappuccino, dua porsi es krim, dan sepiring besar kentang goreng, mereka tak ubahnya dua teman sebaya yang berbincang asyik tanpa jarak dan hierarki. Kugy lupa perbedaan umur mereka yang terpaut delapan tahun, dan kasta pangkat mereka yang bagaikan bumi dan langit—yang satu anak magang lulus kemarin sore, yang satunya lagi pemilik perusahaan. Kugy bercerita dari mulai masa kecilnya hingga terdampar di AdVocaDo karena kesenangannya berurusan dengan kata-kata. Seperti biasa, ia bercerita dengan gaya pendongengnya yang semangat dan berapi-api. Remi bereaksi dari mulai mendengarkan serius, melongo, tersenyum, sampai terpingkal-pingkal. “Mulai menyesal kan merekrut aku jadi pegawai?” Kugy bertanya kocak sambil berkacak pinggang. “Sebagai pegawai, saya tetap merasa kamu salah satu aset paling menjanjikan yang pernah saya temukan. Sebagai teman, iya, kayaknya saya mulai menyesal…” Remi terkekeh geli, “tapi saya juga mau dong jadi agen rahasia Neptunus…” “Zodiak kamu apa?” “Libra.” Kugy menggeleng dengan tampang serius, “Susah. Salah satu syarat dasar jadi agen Neptunus adalah berzodiak Aquarius. Kalau Libra, jadi agen apa ya cocoknya?” “Agen BULOG… kerjanya nimbang beras.” “Boleh. Karena agen Neptunus juga butuh makan nasi, toh? Apalagi saya. Jadi kita asas saling membutuhkan aja.” “Kayaknya nggak imbang, Gy. Saya kasih kamu nasi, kamu kasih saya apa? Air laut?” “Seafood,” jawab Kugy mantap, “buat teman makan nasi. Gimana? Keren nggak, tuh?” “Oke. Besok malam, ya? Kita dinner di restoran seafood. Ada yang enak banget di Radio Dalam. Kita jalan jam 7-an aja dari kantor.” Kugy merasa kejadian di lobi tadi berulang. Jika diibaratkan permainan silat, tanpa ia sempat mengambil kuda-kuda, dengan sigap dan lihai Remi sudah memasukkan serangan berkali-kali. Dan Kugy kalah telak. Tak sempat bersiap dan tak sanggup melawan. Perlahan, kepalanya pun mengangguk. Bandung, September 2002… “Permisi… Mbak Noni?” Noni yang sedang menyapu kamarnya langsung menyandarkan sapunya ke dinding dan menghampiri pintu. Mahasiswa angkatan baru bernama Ellen yang sekarang menghuni kamar sebelahnya sedang berdiri sambil memegang sesuatu di tangannya. “Iya, Ellen. Kenapa?” “Mbak, tadi aku baru beres-beres lemari. Terus ada satu dus yang ketinggalan. Isinya cuma kertas-kertas sama barang-barang bekas gitu. Tadinya mau kubuang, tapi untungnya aku sempat periksa lagi. Aku menemukan ini, Mbak…” Ellen menyerahkan benda yang dipegangnya. Kotak persegi panjang berlapis kertas kado warna biru polos. Noni menyambutnya dengan kening berkerut. Benda itu cukup tebal dan berat. Bentuknya mirip buku atau album foto. “Yang dulu tinggal di kamar ini kan temannya Mbak Noni, ya? Mungkin itu punya dia, Mbak,” kata Ellen lagi. “Saya belum pernah lihat barang ini sebelumnya, sih,” Noni menelan ludah, “tapi nggak pa-pa, saya simpan saja. Nanti kalau ketemu orangnya akan saya tanyakan. Makasih ya, Ellen.” Sepeninggal tetangga barunya, Noni menimang-nimang benda itu di pangkuannya sambil merenung. Sudah pasti barang ini milik Kugy, pikirnya. Dan Noni merasa ketiban sial karena mau tak mau menjadi orang yang harus ketitipan barang Kugy yang ketinggalan. Selintas terbersit keinginan untuk membuka bungkusan itu, tapi Noni ragu. Akhirnya ia membuka laci meja belajarnya, menyimpan benda itu di sana. Nggak usah dipikirin. Noni pun kembali menyambar sapu yang tersandar di dinding. Jakarta, September 2002… Kugy menghitungi cangkang udang di kedua piring mereka. “Kamu kalah dua,” katanya pada Remi. “Tapi di klasemen kerang rebus, kamu kalah tiga,” balas Remi yang sedari tadi menghitungi cangkang kerang. “Kalo itu bukan salahku, tapi ketimpangan porsi dari restoran ini. Kalau di piringku ada ekstra sepuluh kerang, pasti semuanya juga kumakan, tauk,” protes Kugy. “Itu namanya nasib!” Remi nyengir. “Jadi, makanku udah cukup banyak nggak buat jadi agen Neptunus?” “Sebentar, sebentar,” Kugy berpikir. “Dalam primbon peraturan agen, andaikan agen non- Aquarius ingin bergabung, maka syarat-syaratnya adalah: pertama, harus jago makan seafood…” ========== “Oke. Yang itu udah lolos, dong,” sela Remi. Kugy memandangi lagi piring-piring kosong hasil perjuangan mereka sejam terakhir. “Oke, boleh, deh. Kamu lolos. Kedua, harus bisa bikin perahu kertas…” “Sini, saya buktikan,” kata Remi seraya menyambar selembar pamflet menu yang tergeletak sebagai alas makan di atas meja. Dengan cekatan, ia melipat-lipat kertas itu, dan tak lama kemudian jadilah sebuah perahu. “Wah! Hebat!” Kugy bertepuk tangan. “Syarat kedua lolos!” Remi menggosokkan kedua telapak tangannya dengan mata berbinar, “Saya mulai optimis, nih. Apa syarat berikutnya?” Kugy berpikir lagi, dan berpikir. Terakhir, ia tersenyum lebar-lebar. “Belum disusun sampai syarat ketiga… hehe, menyusul, ya.” “HRD-nya payah!” omel Remi bercanda, “Padahal udah semangat, nih!” “Secepatnya saya bawa perihal persyaratan ini ke forum departemen HRD. Nanti dikabari lagi, ya, Mas. Sabar… sabar,” ujar Kugy sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Remi. Mendadak, ruangan itu jadi temaram. Beberapa lampu dimatikan. Keduanya pun baru tersadar, restoran itu sudah mau tutup. Para pelayan sudah berdiri memandangi mereka dengan senyum dipaksakan. Sopan, sekaligus ingin mengusir. Sambil menahan tawa geli, keduanya beranjak dari sana. Kugy tiba di rumahnya pukul sebelas lebih. “Salam untuk Karel, ya,” kata Remi sebelum Kugy keluar dari mobil. “Nanti aku sampaikan,” Kugy mengangguk, “makasih ya makan malamnya.” Pintu pun membuka, dan setengah kaki Kugy sudah melangkah keluar. Tiba-tiba Remi menahannya, “Gy, bentar. Titip ini, ya,” katanya sambil menyerahkan perahu kertas yang tadi ia lipat di restoran. “Ini buat apa?” tanya Kugy heran. “Buat kamu hanyutkan besok. Saya ingin kirim pesan buat Neptunus,” Remi menjawab halus, diikuti sorot mata yang menghangat. Kugy tertegun melihat gradasi perubahan itu. “Mmm… pesan? Well, berarti kamu harus nulis sesuatu di kertas ini,” sahutnya cepat. Kugy menyadari dirinya mulai gugup. “No problem, sini, saya tulis dulu,” ujar Remi santai, lalu ia menyalakan lampu mobil, mengambil pulpen dari tasnya, membuka lipatan kertas, menulis sebentar di atas dashboard, melipat ulang perahu itu dan memberikannya kepada Kugy. “Dan karena kamu kurirnya, kamu boleh baca isi pesan saya, kok,” tambah Remi lagi. Dan sorot mata itu, entah kenapa, kian membuat Kugy gugup. “Sebetulnya dilarang melakukan surat menyurat sampai lamaran kerja positif dikabulkan, tapi… aku coba, ya. Cuma nggak janji lhooo…” Kugy tertawa, siap menutup pintu. “It’s okay,” Remy mengangkat bahu, “namanya juga usaha. Bye, Gy. Sampai besok.” “Bye!” Kugy melambaikan tangan. Memandangi mobil itu melaju hingga hilang di tikungan jalan. Tanpa menunggu lebih lama, dibukanya lipatan-lipatan perahu kertas itu, membaca tulisan Remi yang tertera di bagian belakang pamflet restoran, diperbantukan penerangan lampu jalan: Makasih sudah mengirimkan agen Kugy ke kantor saya, dan membuat malam ini menjadi malam yang sangat menyenangkan. Saya nggak kepingin-kepingin amat kok jadi agen, saya lebih kepingin ditemani makan lagi sama agen kamu yang satu itu. Mudah-mudahan dia mau. Kugy pun mematung bersama selembar kertas di tangannya. Di hatinya terasa ada kebingungan, kegugupan, dan juga… rasa senang. Kugy tak bisa menentukan mana yang lebih dominan. Ketiganya bercampur jadi satu. Entah namanya apa. Kugy merasa satu-satunya penawar yang jitu adalah… tidur. ============= Jakarta, Oktober 2002… Untuk pertama kalinya Kugy ikut acara gathering biro-biro periklanan. Sebagai anak baru dan anak bawang, inilah malam pertamanya bergaul dan berinteraksi dengan sesama pekerja periklanan. Melihat langsung tokoh-tokoh yang selama ini hanya ia kenal namanya saja, dan berkenalan dengan orang-orang dari berbagai kantor, dari mulai yang senior sampai sesama anak bawang. Acara yang berlangsung di sebuah wine lounge itu dihadiri seratus orang lebih. Sedari tadi penganan yang disuguhkan adalah gelas-gelas berisi anggur merah dan putih, serta makananmakanan ringan berukuran mungil yang diedarkan di atas baki. Perut Kugy yang belum diisi nasi mulai menunjukkan reaksi pemberontakan. “Iman… di sini nggak bisa pesan nasi, ya?” bisiknya pada Iman. Iman kontan tertawa. “Ini wine lounge, Neng. Dan kalo udah jam segini kayaknya mereka udah nggak menyediakan makan besar. Kecuali kalo lu keluar dan cari nasi goreng di pinggir jalan.” “Oke, deh. Thanks infonya,” jawab Kugy sedikit manyun. Ia menebar pandangan. Semua orang kelihatannya tidak ada yang bermuka kelaparan seperti dirinya. Entah karena mereka lebih berpengalaman sehingga sudah mengantisipasi dengan makan malam duluan, atau pergaulan dan wine kadang-kadang bisa mengenyangkan perut. Yang jelas, tidak baginya. Matanya lantas tertumbuk pada Remi. Manusia satu itu seperti madu yang dikerubungi para lebah. Yang melingkarinya semua perempuan. Tampak jelas mereka berusaha sekali mencuri perhatian Remi dengan mengobrol, atau melucu, atau apa pun, hanya sekadar supaya Remi mengalihkan sebentar tatapannya dan meladeni barang satu atau dua kalimat. Mereka yang baru bergabung berkesempatan untuk sejenak menyerobot, cium pipi kiri-kanan, sambil melingkarkan tangan mereka sejenak di pinggang Remi. Namun sesudah satu tiket sosial itu berlalu, mereka kembali harus menunggu ‘giliran’. Kugy menontoni itu sampai akhirnya tersenyum geli. Tahu-tahu, entah apa yang mengarahkan tatapan Remi, tiba-tiba saja matanya menemukan Kugy yang tengah mengamatinya. Buru-buru, Kugy membuang muka. Jantungnya seperti menciut mendadak. Malu-maluin, pikirnya. Dan Kugy tambah gelisah ketika menyadari bahwa Remi keluar dari lingkaran lebahnya, berjalan menuju tempat ia berdiri. “Kok sendirian, Gy? Nggak mingle?” tanya Remi yang sekarang sudah berdiri di sampingnya. “Lagi cari makanan,” Kugy menjawab dengan cengiran lebar. “Tuh…” Remi menunjuk baki berisi roti-roti mungil dan keripik yang disajikan sejumput-sejumput di mangkok kertas. “Cari yang lebih serius,” sahut Kugy sambil menepuk perutnya, “anakonda-ku mulai aksi huruhara, nih. Kayaknya nggak mungkin lagi disumpal makanan basi-basi. Saya pamit duluan, ya. Mau cari makan aja.” “Saya temani, ya? Lima belas menit? Saya pamitan dulu sama orang-orang. Ketemu di pintu depan, ya.” Remi pun melesat pergi. Kugy tergagap mau mengatakan sesuatu, tapi manusia itu sudah lenyap di kerumunan orang. Gila, ngomong iya aja belum. Kugy berdecak takjub atas kegesitan Remi dalam hatinya. Sambil menunggu Remi, ia pun pergi ke toilet. Di depan cermin, sekumpulan perempuan sedang berjajar memperbaiki dandanan mereka. Semuanya tidak ada yang ia kenal. Namun dengan cepat, Kugy bisa mengikuti pembicaraan massal yang sedang terjadi di sana. “Sialan. Makin ganteng tuh orang!” “Gua mau dikerem seminggu sama dia.” “Gua sebulan. Hayo?” “Lu tahu Sandy, AE-nya ViaAd? Dia sempat sukses lho nge-date sama Remi.” Beberapa dari mereka langsung mangap. “Haa? Sandy?” “Damn! Lucky girl!” “Faktor bemper depan, tuh…” Mereka tergelak bersama. “Fisik lo!” “Tapi, cuma sebatas kencan doang, nggak sampai pacaran.” “Iyalah, segede-gedenya toket, mau dibawa sampai mana, sih? Akhirnya kan yang ngaruh tetap faktor kepala.” “Bo, please, deh. Dinding sekarang pada punya kuping.” “Well, oke, maksud gua, siapa pun yang cuma modal bodi doang, nggak bakalan lama. Ini kan zaman inner beauty.” “Iye, maksudnya apa yang ada di ‘inner’-nya baju elo!” Mereka tertawa lagi. “Jadi, sekarang Remi lagi nggak deket sama siapa-siapa? Still eligible?” “Kayaknya masih. Mata-mata gua di Alpukat sih belum ngelapor apa-apa.” “Eh, nggak ada anak Alpukat, kan?” Tiba-tiba satu orang berceletuk. Kugy langsung memalingkan kepalanya ke arah tembok. ‘Alpukat’ adalah julukan bercanda untuk AdVocaDo. Diam-diam, Kugy bersyukur dengan status anak barunya, sehingga mukanya belum dikenal dalam lingkup pergaulan periklanan. “Bo, nggak ngaruhlah kalo pun dia lagi ada pacar. Sebelum janur kuning berdiri, kompetisi masih terbuka!” “Hari giniii… janur kuning udah nggak ngaruh! Sebelum BENDERA KUNING berdiri, kompetisi tetap terbuka! Haha!” “Najis lo!” Seusai mendapat gilirannya masuk ke kamar mandi, Kugy cepat-cepat menyelinap keluar. Hawa di dalam toilet itu pengap rasanya. Bukan karena temperatur, tapi karena persaingan ketat demi atensi seorang Remigius Aditya. Sungguh ia tidak sangka, manusia itu sebegitu populernya. Melihat bagaimana Remi begitu diminati, Kugy tidak bisa memutuskan haruskah ia merasa beruntung atau justru sial. Andaikan perempuan-perempuan itu tahu bahwa dalam lima menit dirinya akan keluar makan bersama Remi, Kugy ragu bisa keluar dari toilet tadi dalam keadaan utuh. *** Kugy baru saja melahap tandas sepiring nasi goreng, dan ia sudah ngiler melihat roti bakar yang dipesan Remi. “Aku mau pesan juga, ah…” katanya seraya celingak-celinguk mencari pelayan. ========== “Dahsyat, ya, makan kamu. Tapi saya bingung, larinya ke mana semua, ya? Badan sekecil gitu, tapi kok muat sih makanan sebanyak itu?” Remi tak habis pikir. “Ususku di mana-mana. Kalo tanganku dibelek, ketemunya juga usus,” seloroh Kugy. Tak lama, ia memesan setampuk roti bakar dan segelas cokelat panas. “Cewek-cewek pasti ngiri sama kamu,” komentar Remi lagi. Spontan, tawa Kugy menyembur. “Malam ini aku bisa bilang kalo ucapan kamu ada benarnya, tapi bukan karena faktor makanku. Tapi…” Kugy mencoba menelan tawanya, “justru karena teman makanku.” Remi mengerutkan keningnya. “Maksud kamu?” “Aku baru sadar aku sedang makan dengan the most wanted eligible bachelor yang dipuja-puja dan diperebutkan hampir semua cewek di acara tadi,” Kugy terkikik geli, “sampai ada forum arisan yang bahas kamu di toilet tadi.” Remi tersenyum sambil melengos. “Apa, sih. Nggak penting,” katanya seraya mengibaskan tangan. “Memang,” sahut Kugy, “tapi lucu aja. Karena kayaknya cuma aku satu-satunya yang nggak nyadar betapa…” nada itu meragu, antara melanjutkan atau tidak, “… betapa berharganya kesempatan ini,” Kugy menahan napas, “setidaknya bagi mereka,” cepat-cepat ia menambahkan. Remi menatap Kugy. Tatapan yang sama ketika Remi memberikan perahu kertas di mobilnya beberapa minggu yang lalu. Dan kembali Kugy merasakan kegugupan sama menyerangnya. “Saya lebih senang kalau kamu nggak nyadar. Kamu bisa jadi diri sendiri, saya juga. Dan menurut saya itulah yang paling menyenangkan dari pertemuan kita selama ini,” kata Remi lembut. Kugy menelan ludah. “Setuju, menjadi diri sendiri itu memang yang paling enak,” ia menyahut sekenanya. Sambil menyeruput teh panas, Remi pun berkata ringan, “Mereka yang justru nggak tahu betapa berharganya kesempatan ini buat saya.” Bertepatan dengan itu, roti bakarnya datang. Kugy langsung menyantap dengan lahap. Antara masih lapar dan upaya mengompensasi salah tingkah. Dalam hatinya, ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan ini semua. Dengan Remi. Dengan dirinya. Ubud, November 2002… Keenan membolak-balik buku tulis itu dengan resah. Semua halaman sudah habis ia baca, bahkan berkali-kali dan tak terhitung lagi. Semua cerita sudah habis ia wujudkan ke dalam lukisan. Yang tersisa dari buku itu hanyalah selembar terakhir yang kosong. Dan itu jugalah yang ia sudah hadapi dua bulan terakhir ini. Kanvas kosong. Hampir semua orang berkomentar senada, “Objek lukisan kamu selama ini sudah senyawa dengan kamu. Kenapa kamu harus bingung mau melukis apa?” Dan dirinya hanya bisa diam. Bagaimana bisa ia menjelaskan bahwa semua yang ia lukis adalah karya Kugy di sebuah buku tulis kumal, dan ketika semua kisah dalam buku itu habis… habislah inspirasinya. Bukannya Keenan tidak mencoba berimajinasi di luar buku Kugy. Sudah ratusan kali ia coba, tapi tetap saja tidak bisa. Bukan dirinya yang ikut dalam petualangan itu, bukan dirinya yang menulis semua cerita itu. Dan semua pujian yang orang sampaikan untuk lukisannya kini justru terasa menyudutkan, membawanya pada satu kesimpulan, bahwa ia tidak ada apa-apanya tanpa buku itu. Satu kenyataan yang begitu mengerikan. Tepat dua tahun sejak kedatangannya ke Lodtunduh. Tepat dua tahun ia memulai segalanya di bale ini. Hatinya gentar membayangkan bahwa segalanya pun bisa berakhir di sini. =========== “Ada apa dengan kamu, Gus? Kenapa kondisimu menurun sekali. Kamu kembali seperti waktu pertama kali datang kemari,” ucap Pak Wayan sehati-hati mungkin. Keenan tampak seperti boneka rapuh yang pecah jika sedikit saja tersentil. Semilir angin mengembus, melewati mereka berdua, menggoyang kentongan bambu. Bebunyian yang kini bahkan terasa perih menusuk hatinya. Keenan rasanya tak sanggup berkata-kata. Hanya menunduk dan memandangi lantai kayu di bawah kakinya. “Kamu bisa cerita apa saja pada Poyan,” kata Pak Wayan lagi, “tapi kalau kamu belum merasa siap, tidak apa-apa. Saya tidak akan memaksa.” “Sebenarnya—” susah payah Keenan berusaha menguraikan kebekuan yang menghadangnya selama ini, “sebenarnya saya ingin bicara, Poyan. Tapi tidak tahu mulai dari mana… saya …” matanya mengerjap-ngerjap bingung. “Ketidaktahuan adalah awal yang baik. Segala sesuatu diawali dengan tidak tahu, ikuti saja…” Pak Wayan menepuk lembut bahu Keenan. “Semuanya hilang, Poyan. Semuanya! Begitu saja! Saya nggak bisa melukis. Saya nggak tahu harus melukis apa lagi. Dan kalau saya nggak menghasilkan apa-apa, saya merasa nggak berguna tinggal di sini.” Setengah meratap, Keenan berkata. “Gus, semua orang di sini sudah menganggap kamu keluarga. Melukis atau tidak, kehadiranmu berarti buat kami. Ngerti? Jangan bebankan hal seperti itu pada dirimu sendiri. Tidak satu kali pun saya pernah mensyaratkan sesuatu supaya kamu bisa tinggal di sini. Ini rumahmu. Dan ingat, semua pelukis pernah mengalami apa yang kamu hadapi sekarang. Saya pun pernah. Bahkan bertahun-tahun, Gus. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Melukis adalah jalan yang saya pilih, jodoh saya. Dan bukannya itu juga jalan yang kamu pilih?” Kepala Keenan semakin dalam merunduk. Hatinya tambah remuk mendengar itu semua. “Gus, bersabar. Jangan bebani dirimu seperti ini. Rumahmu di sini. Kamu tidak usah lari lagi,” tegas Pak Wayan. Keenan mendongak, nanar menatap pria yang sudah dianggapnya ayah sendiri, memohon pertolongan. “Buku itu habis, Poyan,” bisiknya. Pak Wayan terkesiap. Setergantungkah itu dia? Setelah diam beberapa saat, Pak Wayan pun berkata pelan, “Mau tidak mau, buku itu harus ada yang meneruskan, Gus. Atau, kamulah yang berusaha mencari ‘bintang’ baru. Mengerti maksudku? Tidak mudah, saya tahu. Sekarang ini, terimalah saja kalau kamu belum bisa melukis lagi. Jalan itu akan terbuka dengan sendirinya.” Jauh di dalam hatinya, Pak Wayan sangat memahami kepedihan Keenan. Luka yang sama pernah dialaminya. Puluhan tahun yang lalu. Susah payah, ia berusaha bangkit, tertatih-tatih, mencari sesuatu yang baru untuk menggantikan bintang hatinya, inspirasinya. Kini ia sudah kembali berdiri tegak. Namun, ia sadar, bintang yang sama tak akan pernah kembali untuk yang kedua kali. Jakarta, November 2002… Sejak pagi tadi, Adri merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia bangun pagi dengan rasa lelah yang luar biasa. Dan lelah itu tak kunjung pergi meskipun ia sudah sarapan dan senam ringan, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari untuk menyegarkan badannya. Meskipun begitu, Adri tetap memilih pergi ke kantor. Ia tidak ingin Lena curiga dan mempertanyakan soal kesehatannya jika ia memilih beristirahat di rumah. “Pak Adri, ada telepon dari Pak Ong dari Malaysia.” Suara sekretarisnya terdengar dari interkom telepon. Adri mengangkat telepon dan mulai berbicara dengan relasinya. Setelah dua menit berbicara, tangan kanannya yang memegang gagang telepon tahu-tahu gemetar. Dan dalam hitungan detik, gemetar itu berubah menjadi bergetar. Dalam kekagetannya, Adri segera memencet tombol speaker karena tangannya tak bisa lagi memegang telepon. “Maaf, Pak Ong, sepertinya saya harus menelepon Anda kembali… saya…” Dan tiba-tiba sesuatu seperti menyapu seluruh tubuhnya, mengisap kekuatannya. Dalam sekejap, Adri melorot jatuh ke lantai. Tubuhnya terbujur kaku. Tak bergerak lagi. =========== Ubud, Desember 2002… Kali ini Keenan berusaha. Benar-benar berusaha. Memutuskan bahwa ia tidak akan menyerah kalah pada kebuntuannya. Buku tulis itu disimpannya di kamar dan tak pernah ia bawa lagi ke mana-mana. Keenan mencamkan pada dirinya sendiri bahwa jiwa seorang seniman adalah jiwa yang bebas, bukan jiwa yang terpenjara atau tergantung. Ia ingin terbebas dari buku itu. Sudah saatnya. Keenan pun melukis, dan melukis. Ada Luhde yang duduk setia di sampingnya. “Kuas-kuasnya saya bersihkan, ya,” kata gadis itu sambil mengambili kuas-kuas Keenan yang sudah mengeras. Satu pekerjaan yang sudah biasa ia lakukan sejak kecil dengan telaten karena sering membantu saudara-saudaranya yang pelukis. “Makasih, De,” sahut Keenan. Dan sejenak ia berhenti, mengamati Luhde yang dengan tekun mencuci kuas-kuasnya. “Kamu seperti malaikat…” Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa bisa ia tahan. Ekspresi murni yang bergerak dari hati. Luhde mendongak, terperangah, ada kehangatan yang merekah dan menjalari tubuhnya. “Saya senang melihat Keenan melukis lagi,” ucapnya tulus. Keenan tersenyum, “Saya melukis untuk kamu.” Cepat, Luhde menduduk. Pipinya bersemu merah. “Ya, tapi Keenan juga melukis untuk diri Keenan sendiri,” katanya setengah berbisik. Namun bibirnya tak kuasa membentuk senyuman. Keenan meletakkan kuas yang sedang ia pegang. Sesuatu mendorongnya untuk bergerak mendekati Luhde. Duduk di hadapan gadis itu. Dengan pelan dan khidmat, Keenan berkata, “Titiang tresne teken Luhde.” Tangan Luhde yang tadinya sibuk bergerak langsung berhenti. Jantungnya seperti berhenti berdegup. Dua tahun ia menanti. Dua tahun ia berharap. Dua tahun ia mendekat, mencurahkan apa pun yang ia mampu dan ia sanggup berikan. Baru kali itulah ia mendengar Keenan mengungkapkan perasaannya. Langsung dan sederhana. Luhde mengangkat mukanya perlahan-lahan. Menatap mata Keenan dengan perasaan campur aduk. Antara bahagia, haru, dan tersipu. Keenan menahan napas melihat keindahan yang terbentang di hadapannya. Dan sesuatu menggerakkannya untuk terus mendekat. Mengecup lembut bibir Luhde. Jakarta, Desember 2002… AdVocaDo kini punya topik hangat yang selalu diulas siapa pun, di mana pun, dan kapan pun: Kugy. Tidak hanya populer karena dianggap prodigy atas ide-idenya yang gila, Kugy juga punya julukan baru, yakni “Si Ninja Asmara”. Julukan itu khusus diperolehnya karena tidak ada satu pun yang menyangka sarjana kemarin sore berjam tangan Kura-kura Ninja telah berhasil mematahkan hati banyak perempuan yang selama ini mengincar Remi. Kedekatan Remi dan Kugy selama dua bulan terakhir sudah terlalu kentara untuk diabaikan. Hampir setiap hari Remi terlihat mengantar Kugy pulang. Setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu, mereka pergi bersama untuk makan malam. Kugy duduk di jok depan mobil Remi menjadi sebuah pemandangan yang disaksikan hampir setiap hari oleh satu kantor. Sementara itu, Si Ninja Asmara sendiri tak peduli, bahkan tak menyadari bahwa dirinya tengah jadi sorotan. Bagi Kugy, tugasnya yang bertumpuk terlampau menyita waktu dan tak sempat lagi ia memikirkan lejitan kariernya yang mengagetkan semua orang. Dan baginya, Remi adalah teman jalan yang begitu menyenangkan hingga membuatnya tak lagi peduli akan kompetisi di luar sana. Kugy tidak merasa ada dalam sebuah kompetisi apa-apa. Dirinya tidak merasa punya target atau agenda untuk dekat dengan Remi. Semuanya mengalir begitu saja. Dan urat cueknya terlalu kuat untuk memusingkan apa kata orang. Malam itu, teman-teman kantornya berencana untuk clubbing ramai-ramai. Meski tadinya enggan, Kugy didaulat untuk ikut. Akhirnya bergabunglah ia dengan segerombolan orang dalam gelap remang diiringi dentuman musik yang menekan jantung. Banyak wajah-wajah yang tak asing. Kebanyakan ia temui waktu acara gathering bulan lalu. Ada sekelompok perempuan yang juga ia kenali. Arisan toilet, Kugy menjuluki dalam hati. Kugy bisa bertahan agak lama malam ini karena ia sudah datang dengan persiapan makan malam sebelumnya. Namun, lewat dua jam, ia mulai gelisah. Perut kenyang tidak berarti menjadi betah. Sementara hampir semua orang sudah pindah medan kesadaran, Kugy, yang cuma numpang berdiri sejak tadi, menjadi pihak terasing karena ‘nggak nyambung’. Pelan-pelan ia beringsut, dengan rencana kabur secara bertahap. Tahu-tahu, badannya berbenturan dengan bahu seseorang. “Sori, sori…” Kugy refleks meminta maaf. Baru saja ia mencoba melangkah ke arah lain, sudah ada sosok baru yang menghalangi jalannya. Kugy mencoba mundur, dan ternyata berbenturan lagi dengan badan seseorang. Akhirnya Kugy pun tersadar, ia sedang dikepung. “Kamu yang namanya Kugy?” Salah satu dari mereka bertanya. Kugy mengamati muka itu, dan mengenalinya sebagai anggota arisan toilet. “Iya, saya Kugy…” katanya sambil mengangguk. Curiga. “Yang lagi magang di AdVocaDo, kan?” Ada yang bertanya lagi. Kugy mengangguk. “Remi ke mana? Kok nggak bareng?” Seseorang yang lain lagi bertanya. “Ng—nggak, nggak tahu,” jawab Kugy. Ia mulai tidak nyaman dengan interogasi ini. Kugy benarbenar tidak tahu apa maksud mereka. “Udah lama pacaran sama Remi?” Nada itu ketus dan menusuk. “Nggak pacaran kok…” Kugy menggelengkan kepala. Bingung. “Kalo iya juga nggak pa-pa, jangan jadi minder gitu, dong. Selamat, yaa!” Ucapan itu dibarengi dengan senyum. Senyum yang tidak menyenangkan. “Iya, kok bisa, sih? Susuknya keluaran dari dukun mana, Jeng?” Yang bertanya pun tergelak sendiri. =========== “Iya, kok bisa, sih? Susuknya keluaran dari dukun mana, Jeng?” Yang bertanya pun tergelak sendiri. “Eh, jangan salah. Jimat dese tuh jam tangannya, lho! Makanya lu semua pada beli. Cari di Pasar Baru, gih. Lu cari jam Spiderman, lu Superman, lu cari jam Barbie… pokoknya jam plastik yang norak!” “Menurut majalah Vogue, that is so 2002, you know!” Dan mereka tertawa. Kugy mulai merasa terintimidasi dengan percakapan setengah bercanda setengah cari gara-gara tersebut. Yang jelas, baginya semua itu mulai tidak lucu. Ia kepingin kabur secepatnya. Namun langkahnya dibendung dari kanan-kiri, dan Kugy tak bisa bergerak. Tahu-tahu, ada lengan yang menyeruak lingkaran itu, menggamit dan menarik tangan Kugy keluar. Remi berdiri dengan senyuman karismatiknya, menatap mereka semua dengan sopan, “Sori, pinjam Kugy-nya, ya.” Lalu, seolah sudah ratusan kali melakukannya, Remi memeluk pinggang Kugy dengan luwes, merapatkan tubuh Kugy ke arah tubuhnya. “Pulang, yuk,” katanya ringan. Dan jemarinya membelai rambut depan Kugy. Tak hanya mereka yang terlongo, Kugy pun kaget bukan main. Namun ia menjaga agar kekagetannya tidak terbaca. Kugy lalu tersenyum manis pada Remi, menggenggam balik tangan Remi yang melingkar di pinggangnya, “Yuk,” katanya dengan anggukan kecil, pandangannya pun beralih ke arisan toilet, “duluan, ya…” ia berkata dengan nada seramah mungkin seraya berlalu dari sana. Sesampainya di luar, keduanya tertawa terpingkal-pingkal. “Lihat nggak muka cewek yang tadi berdiri sebelahku? Asli kayak cicak buntutnya copot!” seru Kugy sambil memegangi perutnya yang terkocok, “What a show! Benar-benar ide jenius!” Remi melihat jam tangannya, “Baru jam satu, nih. Makan bubur dulu, yuk.” “Boleh,” kata Kugy riang. Dan mereka berjalan menuju parkiran. Barulah Kugy menyadari sesuatu, dari dalam club tadi sampai mobil, tangan Remi tak lepas-lepas dari pinggangnya. *** Bubur yang tadi menggunung di mangkok sudah lenyap, yang tersisa hanyalah lapisan tipis, yang itu pun masih disendoki Kugy dengan semangat. “Kalau saya jadi tukang bubur, saya bakal jadikan kamu brand ambassador. Kamu dapat omzet sepuluh persen dan makan gratis sesering dan sebanyak apa pun yang kamu. Dan saya cuma minta kamu makan persis kayak gitu di depan pengunjung. Mereka pasti ngiler luar biasa, dan kepingin nambah biarpun udah kenyang,” ujar Remi yang sedari tadi memperhatikan Kugy. “Dasar orang iklan,” celetuk Kugy. Gantian mengamati Remi yang masih menghabiskan buburnya. “Sejak kapan sih kamu tertarik ke dunia advertising?” tanyanya penasaran. “Dari lulus kuliah. Saya mulai magang seperti kamu, jadi junior art director. Terus saya pernah nggak sengaja jadi project leader satu produk, dapat klien yang gede banget, dan mereka suka banget sama ide saya. Iklan yang saya buat juga sukses. Saya malah dapat award tahun itu, dan sesudahnya hampir setiap tahun dapat penghargaan terus. Saya lalu keluar dari tempat kerja saya yang lama, coba-coba bikin sendiri. Untungnya klien-klien saya yang lama terus mendukung, makanya AdVocaDo bisa seperti sekarang.” Kugy manggut-manggut. Ia ingat sederet plakat penghargaan Remi terpajang di dinding kantor. Mereka semua bilang, dulu Remi dianggap prodigy dunia periklanan. “Tapi, ini memang pekerjaan yang selalu kamu inginkan? Atau ada passion lainkah?” tanya Kugy lagi. Remi menggeleng. “Ini dunia saya. Dari kecil saya tuh udah jago bikin dagangan orang laku, Gy. Orang tua saya, saudara-saudara saya, tiap mereka bikin apa saja, mereka suka iseng tanya sama saya, terus saya kasih ide-ide untuk bisnis mereka, eh… semuanya sukses. Waktu sekolah dan kuliah juga sama, saya sering bantu event sekolah atau kampus, semuanya berhasil. Dan saya puas banget mengerjakannya.” “Wow,” Kugy berdecak kagum, “kamu orang yang sangat, sangat beruntung. Kamu mencintai pekerjaan kamu, dan kamu juga sukses di bidang yang kamu cintai. Pasti banyak banget yang ngiri sama kamu.” “Mungkin,” Remi mengangkat bahu, “yang jelas saya cuma ngiri sama satu…” “Siapa?” “Pelukis.” Kugy seperti tersentil mendengarnya. “Pelukis? Kok—bisa?” “Lukisan adalah hiburan saya yang paling menyenangkan,” Remi menjelaskan, matanya berbinar, “para pelukis itu bisa melahirkan dunia baru lewat jiwa mereka… berkata-kata dengan gambar… warna… komposisi…” ia menghela napas panjang, “kalau saya dilahirkan kembali, saya kepingin jadi pelukis.” Kugy terdiam. Semua yang diceritakan Remi mengingatkannya pada seseorang. “Kalau kamu? Kalau dilahirkan lagi, mau jadi apa?” Kugy menjawab mantap, “Ikan paus.” Ubud, Desember 2002… Luhde terbangun lebih pagi dari biasanya. Entah kenapa. Tiba-tiba saja ia terlonjak dari tempat tidur. Perasaannya tak enak. Pelan-pelan, ia bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke luar. Belum ada siapa-siapa yang terlihat. Namun kupingnya mendengar sesuatu. Dari arah bale. Saat ia mendekat, barulah jelas suara apa itu. Dan terkejutlah Luhde ketika melihat apa yang terjadi. Keenan tengah berdiri… menyobek lukisannya sendiri. Lukisan yang baru dibuatnya beberapa hari lalu. “Keenan!” seru Luhde sambil tergopoh berlari naik ke bale. “Kenapa kamu?” Keenan tertegun melihat Luhde yang muncul tanpa diduganya. Tangannya masih menggenggam kanvas yang sudah tercabik menjadi dua. “Ke—kenapa lukisannya disobek?” Luhde bertanya, cemas dan takut. “Lukisan ini nggak bagus,” jawab Keenan datar. =========== “Tapi… itu lukisan Keenan yang pertama lagi setelah sekian lama… dan menurutku, lukisan itu bagus… apanya yang salah?” ratap Luhde kebingungan. “De, saya nggak bisa melukis seperti dulu lagi,” kata Keenan lirih. “Kata siapa? Keenan nggak boleh ngomong begitu! Kamu harus kasih kesempatan pada diri kamu sendiri! Kenapa lukisannya harus dirusak?” desak Luhde bercampur tangis. Direbutnya cabikan kanvas itu dari tangan Keenan. “Kenapa dirusak?” tangisnya lagi. “Karena… lukisan itu…” Keenan tergagap, tak bisa menjelaskan. Bagaimana bisa ia mengungkapkannya tanpa menghancurkan hati Luhde? Bahwa lukisan itu tak memiliki nyawa dan kekuatan yang sama? Bahwa lukisan itu tak sanggup menggerakkan dan mewakili hatinya sebagaimana lukisan-lukisannya yang dulu? Dan Luhde pun tak bisa lagi berkata-kata. Ia sungguh tak mengerti, dan sebagian dirinya tidak terima. Untuk pertama kalinya Keenan melukis untuk dirinya… dan lukisan itu berakhir dengan tercabik menjadi dua. “Masih pagi sekali, De. Anginnya dingin. Kamu masuk ke kamar lagi saja.” Cuma itu yang Keenan bisa bilang. Ia pun membalikkan punggungnya. Menatap pekarangan yang sepi, yang jauh lebih mudah dihadapi ketimbang wajah Luhde yang pilu. “Aku ingin di sini,” bisik Luhde. Hati-hati, didekatinya sosok itu. Memeluknya perlahan dari belakang. Membenamkan air matanya di sana. Jakarta, Desember 2002… Lena termenung di pinggir tempat tidur rumah sakit. Adri baru melewati masa kritis selama dua hari, dan hari ini ia sudah mulai siuman. Sesekali terjaga dan membuka mata, meski tubuh itu tetap kaku seperti papan. Stroke yang kali ini menyerangnya jauh lebih kuat dibandingkan serangan yang pertama. Dokter bahkan meragukan kondisinya akan kembali seratus persen seperti semula. Dibutuhkan keajaiban, mereka bilang. Berbulan-bulan fisioterapi pun paling hanya akan mengembalikan delapan puluh sampai sembilan puluh persen kondisi suaminya. Bahkan, kenyataan bahwa Adri masih hidup pun sudah harus dikategorikan sebagai keajaiban. Mudah-mudahan keajaiban ini berlanjut, kata mereka lagi. Saat seperti inilah baru sepi itu terasa. Jeroen baru akan kembali ke rumah sakit setelah jam sekolahnya usai nanti siang. Di ruangan itu, hanya dirinya dan suaminya yang terbaring tak bersuara. Lena bangkit berdiri. Membelai-belai rambut suaminya. Dan ia putuskan untuk berbisik di telinganya, menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum terjawab: ada apa sebenarnya? Apa yang selama ini kamu sembunyikan? Apa yang bisa kubantu? Lama Lena berdiri seperti itu, terus membelai-belai halus, dan berbisik di telinga suaminya, sampai akhirnya ekor matanya menangkap sesuatu. Kelopak mata suaminya kembali membuka. Lena segera menatapnya, tersenyum, lantas mengenggam tangan yang terasa kaku bagai kawat itu. “Hai…” sapanya lembut. Mata itu mengerjap. Bercerita. Memohon. Lena membelai wajah suaminya, “Aku di sini… kamu akan sehat lagi… kamu akan baik-baik lagi seperti dulu…” Mata itu mengerjap lebih cepat. Semakin sarat dengan pesan. Tapi tak ada satu bunyi pun yang keluar. Lena mulai membaca sorot yang gelisah itu. “Apa yang bisa aku bantu, Dri?" Dengan segala daya yang entah dari mana, otot-otot muka Adri mulai bergerak. Sedikit demi sedikit. Mulut itu bergetar, mengeluarkan bunyi kerongkongan yang tertahan. “Kkk… kk… kee…” Lena terkesiap. Tangannya langsung memencet tombol untuk memanggil perawat. “Iya, apa, Adri? Kamu mau bilang apa?” Lena mendekatkan kupingnya ke depan mulut Adri agar bisa mendengar lebih jelas. Dengan suara terimpit dan belenggu fisik yang tak memungkinkannya untuk berbicara, Adri berusaha setengah mati untuk mengucapkan satu kata itu: “Kkk… kee… nan…” Begitu kata itu terucap, mata Adri kembali memejam. Otot-otot wajahnya kembali menegang. Lena pun terenyak di tempat duduknya. Keenan? Itukah penyebabnya? Selama ini, Adri tidak menunjukkan kepedulian sama sekali tentang keberadaan Keenan, bahkan mengingatkannya berkali-kali untuk tidak pernah mencari Keenan, sampai anak itu yang menghubungi mereka duluan. Sejak Keenan pergi, tak satu kali pun Adri membahas masalah Keenan, bahkan menyebut namanya pun tidak. Seolah-olah memorinya sudah ia ringkus dan bekukan hingga satu hari nanti, saat Keenan yang kembali ke rumah dan memohon maaf, sesuai dengan apa yang dimauinya. Mendadak, Lena diserang perasaan bersalah yang mendalam. Dialah satu-satunya yang tahu ke mana Keenan pergi. Dialah satu-satunya yang tahu pasti bahwa anak itu baik-baik saja. Sementara, suaminya bertahan dalam ketidaktahuan, dalam sikap tak mau tahu dan tak mau peduli. Padahal, selama ini, mungkin saja Adri terus bertanya-tanya, dan akhirnya tergerogoti dari dalam oleh pertanyaan yang tak ada jawaban: di mana Keenan? Tak ada jalan lain, pikir Lena. Ia harus menjemput Keenan pulang. Bersambung ke PART 9: Reuni Kelompencapir..... =========== Judul : Reuni Kelompencapir PART 9: Reuni Kelompencapir..... Sejak pernikahannya dengan Adri, Lena belum pernah menginjakkan kakinya lagi ke Pulau Bali. Dua puluh satu tahun yang lalu adalah terakhir kalinya. Perasaan yang luar biasa asing meliputinya begitu pesawat yang ditumpanginya siap mendarat, bersisian dengan laut, dan tibalah ia di bandara Ngurah Rai, disambut alunan musik tradisional yang sayup-sayup berkumandang dari kotak-kotak pengeras suara. Lena tidak pernah tahu apakah dirinya siap kembali ke sini. Ada perasaan ingin berbalik pulang, perasaan menyesal, sekaligus rasa rindu yang hebat. Lena tak sanggup membayangkan apa rasanya di perjalanan nanti, melihat begitu banyak hal yang dapat membangkitkan kenangan-kenangan yang selama ini sudah berhasil ia kubur rapatrapat. Kenangan saat ia masih tinggal di pulau ini, saat ia masih melukis, saat ia masih bersama Wayan. Sebelum melangkahkan kaki ke gerbang luar, Lena duduk terlebih dahulu untuk menenangkan diri. Mengingatkan dirinya untuk tidak terbelenggu perasaan-perasaan yang tak menentu, yang hanya akan menjebaknya ke dalam perangkap masa lalu. Mencamkan dalam hatinya bahwa ia datang kemari hanya untuk menjemput anaknya. Cukup itu yang perlu ia ingat. Nanti malam, ia sudah kembali pulang. Lepas dari tempat ini. Lepas dari kenangan ini. *** Menit demi menit. Meter demi meter. Perjalanan yang mencabik-cabik hatinya sejak tadi akhirnya tiba di puncak. Sampailah ia di gerbang depan rumah itu. Lena tidak tahu kekuatan mana yang bisa menggiring dirinya kembali ke sana, untuk sekadar mampu berdiri tegak menunggu pintu itu terbuka. Penjaga rumah yang membukakan pintu meminta Lena untuk menunggu di teras depan. Tak lama, terdengar langkah-langkah yang mendekati. Bahkan dari tempo berjalannya, Lena sudah tahu siapa gerangan yang datang menghampiri. “Halo, Wayan,” sapanya dengan senyum. Pak Wayan tertegun. Lama. “Saya mau ketemu dengan Keenan,” ucap Lena lagi. “Apa ada masalah?” tanya Pak Wayan dengan suara tertahan. “Adri kena stroke,” jelas Lena pendek. “Sebentar, saya panggilkan,” kata Pak Wayan. Pijakan kakinya seolah ingin membelesak menembus lantai. Ia tidak tahu kekuatan mana yang sanggup menahannya tetap berdiri tegak. Sesaat, ia bahkan merasa sedang bermimpi. Segalanya meluruh di hadapan perempuan itu. Kekuatannya, pertahanannya, bahkan dirinya tak lagi sama jika Lena ada. Ia merasa tersesat di rumahnya sendiri. Meski limbung, Pak Wayan berjalan ke belakang, memanggil Keenan. *** Tak pernah terlintas di benak Keenan, ibunya akan duduk bersama dia di bale, bertemankan angin dan suara kentongan bambu. Kangen dan pilu bercampur jadi satu. “Mama ingat, kamu pernah bilang, kamu tidak mau pulang ke penjara yang sama. Mama juga ngerti, inilah rumahmu sekarang. Tapi, Mama nggak mungkin pulang ke Jakarta tanpa kamu,” Lena berkata. Keenan mengangguk, berat. “Saya pasti pulang, Ma. Nggak mungkin saya membiarkan Papa, Mama, dan Jeroen,” ujarnya pelan, “saya hanya nggak kebayang apa yang saya kerjakan nanti di Jakarta. Saya udah nggak kuliah. Di sini pun saya nggak bisa melukis lagi. Saya nggak bisa apaapa untuk bantu Mama.” “Mama cuma butuh kamu ada. Itu saja,” tegas Lena, “dan itu juga yang dibutuhkan Papamu. Cuma nama kamu yang dia sebut, Nan. Seluruh badannya lumpuh, tapi dia bisa mengucapkan nama kamu. Cuma kamu yang dia tunggu.” Hati Keenan remuk redam mendengarnya. “Apa pun, Ma. Apa pun yang Papa minta, yang Papa butuhkan dari saya, akan saya penuhi sebisa saya.” “Kita berangkat malam ini pakai pesawat terakhir, ya? Mama nggak bisa tinggal lebih lama lagi,” Lena menggenggam tangan anaknya. Keenan bangkit dan merangkul ibunya. “Saya beres-beres sekarang juga,” bisiknya. *** Perpisahan yang terjadi begitu cepat tak diduga-duga ternyata sanggup membuat seorang Luhde bertransformasi. Dengan tegar dan tenang, ia membantu Keenan bersiap. Tak ada rengekan, atau rajukan, bahkan pertanyaan. Seolah ia sudah bersiap untuk hari itu tiba. Hari itu Luhde menjelma menjadi perempuan dewasa pada usianya yang baru sembilan belas tahun. Ia menyerahkan setumpuk baju yang sudah dilipat rapi pada Keenan, “Ini yang terakhir dari lemari. Kalau memang masih ada yang ketinggalan, nanti kami kirimkan ke Jakarta.” Keenan menerimanya dengan pilu. Sikap Luhde yang demikian justru membuat hatinya tambah hancur. “Semua barang Keenan yang ada di studio sudah dibereskan oleh Beli Agung. Kalau memang tidak terlalu berat, bisa Keenan bawa malam ini juga. Kalau tidak, nanti bisa menyusul, sekalian dengan barang-barang yang lain,” Luhde menebarkan pandangannya, mengecek kamar itu sekali lagi, mencari barang-barang yang masih terlupa. “Semuanya sudah siap,” ia mengangguk mantap, “mari, saya bantu sebagian.” Keenan tak tahan lagi. Diletakkannya kembali tas yang sudah diangkat Luhde. “Saya akan kembali ke sini, De. Saya janji. Begitu ayah saya sembuh, dan keluarga saya sudah kembali baik-baik, saya janji akan pulang kemari. Saya akan kembali untuk kamu,” ucap Keenan sungguh-sungguh. “Maaf, saya nggak bisa kasih apa-apa… dibandingkan dengan semua yang sudah kamu kasih selama saya di sini…” “Kamu sudah pernah ada juga sudah cukup,” potong Luhde. “Saya akan kembali,” ulang Keenan lagi. Luhde menatap Keenan, matanya mulai berkaca-kaca, suaranya mulai gemetar, “Ikuti saja kata hati kamu. Ke mana pun itu. Hati tidak bisa bohong,” ucapnya lirih, “kalau memang kamu tidak kembali, saya mengerti.” =========== “Luhde, tolong, jangan bicara seperti itu. Titiang me janji,” ucap Keenan seraya mengambil kedua tangan Luhde dan mengecupnya. Seutas senyum haru muncul di wajah Luhde. “Keenan nggak percaya, ya? Mendengar Keenan punya niat begitu, benar-benar sudah lebih dari cukup untuk saya. Tanpa perlu dibuktikan. Sebentar saja Keenan ada di sini, sudah membuat diri saya lebih berarti.” Keenan mendekap Luhde. Lembut seolah mendekap kapas putih yang halus, sekaligus erat seolah ia tak ingin melepas. “Tunggu saya, ya,” bisik Keenan tepat di kupingnya. Perlahan, Luhde melepaskan pelukan Keenan. Ia meraih sesuatu yang sejak tadi dibawanya dalam bungkusan kain. “Ini… kamu bisa bawa lagi,” Luhde menyerahkan benda itu ke genggaman tangan Keenan. Seketika Keenan mengenali benda yang diberikan Luhde. Ia pun terperanjat. “Kenapa dikembalikan ke saya? Ini untuk kamu.” Luhde menunduk. Perih sekali rasanya harus jujur. “Saya tahu. Tapi mungkin Keenan yang belum yakin. Sekalipun Keenan sudah lama kasih ini untuk saya, selalu saya merasa benda ini bukan milik saya. Entah kenapa.” “Luhde Laksmi, lihat ini baik-baik,” Keenan mengangkat dagu Luhde, menatapnya lurus-lurus. Dibukanya bungkusan kain yang menutupi ukiran itu, lalu dibukanya telapak tangan Luhde, kemudian ia letakkan ukiran itu di atasnya. “Ini. Saya berikan pada kamu untuk yang kedua kalinya. Tidak akan ada yang ketiga kali,” Keenan pun tersenyum. Luhde ikut tersenyum. Sebulir air mata mengalir di pipinya. “Saya pergi, ya,” ucap Keenan seraya mengelus rambut Luhde. Mengecup bibirnya, dan mendekapnya sekali lagi. Dalam dekapan Keenan, Luhde mendekap ukiran itu di dadanya. Erat, seolah tak mau berpisah, karena ia tahu, hati tidak pernah bisa berbohong. *** Ia tahu waktunya tak banyak. Dalam beberapa jam, perempuan itu akan kembali hilang dari hidupnya. Meski seluruh sel tubuhnya tergetarkan oleh perasaan gentar, Wayan sadar ia tak punya kesempatan lain selain saat ini. Keenan masih membereskan barang-barangnya di kamar, dan Lena tengah menunggu sendirian di serambi rumah utama. Wayan lalu berjalan menghampirinya. Lena, yang mendengar suara langkah kaki, langsung menoleh ke belakang. Dan ia lebih kaget lagi ketika mendapatkan Wayan sedang berjalan mendekatinya, kemudian menggeser kursi, dan duduk di hadapannya. “Kamu tidak perlu bicara apa-apa, Lena,” kata Wayan segera, “kamu hanya perlu mendengar. Dan apa yang ingin kusampaikan tidak banyak.” Wayan memberanikan diri menatap ke dalam mata Lena, terlepas dari darahnya yang seperti berhenti mengalir hanya dengan duduk sedekat ini dengan perempuan yang begitu dicintainya. “Dua puluh tahun aku habiskan cuma untuk melupakan kamu. Tapi tidak sedetik pun aku menyesal. Keenan, adalah cinta kedua terindah yang pernah kualami setelah kamu. Aku menyayangi dia seperti anakku sendiri. Aku berterima kasih untuk kesempatan yang kamu dan Adri berikan, sehingga dia bisa menjadi bagian hidupku seperti sekarang. Lewat kehadiran Keenan, aku belajar memaafkan diriku, kamu, Adri, dan semua yang dulu kita lalui.” Seiring dengan aliran kalimat yang telah dipendamnya puluhan tahun, Wayan merasa tubuhnya menghangat, hatinya melega. “Jangan pernah beri tahu Keenan kalau aku sangat mencintai ibunya. Biar saja dia memandang aku tak lebih dari sekadar sahabat lama orang tuanya,” Wayan pun beranjak berdiri, “semoga Adri cepat sembuh.” “Wayan…” sergah Lena, “aku minta maaf.” “Kamu nggak perlu minta apa-apa, Lena. Semuanya aku lepaskan untuk kamu.” Wayan tersenyum tipis. Sesuatu seolah membuncah ingin keluar dari dadanya, Lena nyaris tak bisa berdiri dan berucap, tapi ia pun tahu kesempatan ini mungkin tak akan ada lagi. Ia harus bicara. “Aku harus meninggalkan kamu waktu itu. Aku tidak mungkin mengorbankan Keenan dalam perutku. Dan keputusanku bukan karena Adri… bukan karena hatiku yang memilih dia… tapi karena kandunganku…” “Lena… sudah. Aku tahu. Aku mengerti. Dan aku bahagia kamu memilih untuk mempertahankan Keenan.” “Antara aku dan Adri waktu itu—” “Apa pun yang terjadi antara kalian berdua, tidak lagi penting buatku sekarang. Kalian sudah membuktikannya dengan bertahan bersama sekian lama. Aku senang dia mampu menyayangi dan mengurusmu dengan baik,” Wayan mengatur napasnya yang menyesak, “hati kamu mungkin memilihku, sebagaimana hatiku selalu memilihmu. Tapi hati juga bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup.” Lena merasakan kedua matanya panas, tapi tak ada air mata yang keluar. “Semoga Adri cepat sembuh. Kami semua mendoakan dari sini,” kata Pak Wayan. Ia mengelus sekilas punggung tangan Lena di atas meja, lalu berbalik pergi. Lena kembali duduk sendirian di serambi. Tetap tak ada air mata yang keluar, meski hatinya kembali menangiskan tangisan panjang yang telah menghantuinya puluhan tahun. Tangisan yang selamanya harus terkurung dalam kesunyian. Tangisan yang harus kembali dikuburnya dalam-dalam. *** Suasana di rumah itu tak lagi sama. Sesuatu telah hilang. Semua orang bisa merasakannya. Selepas kepergian Keenan dan Lena, tinggallah Luhde dan Pak Wayan, duduk di bale. Berselimutkan kabut tebal perasaan mereka masing-masing. =========== “Jadi… itu meme-nya Keenan,” ujar Luhde, memecah keheningan, menyesah kabut yang bergantung sejak mereka pertama kali duduk di sana. “Cantik, ya. Sama cantiknya dengan yang di lukisan Poyan,” lanjut Luhde sambil membayangkan wajah di lukisan pamannya. Lena puluhan tahun yang lalu. Satu-satunya lukisan potret Lena yang masih disimpan oleh pamannya. “Kenapa Poyan tidak kasih lihat lukisan itu ke meme-nya Keenan? Kapan lagi dia datang kemari? Bagaimana kalau dia tidak pernah ke sini lagi…” “Sudahlah, De,” sela Pak Wayan, “tidak ada gunanya lagi.” Laki-laki itu pun berdiri dan berjalan menjauh. Luhde memandangi punggung pamannya dengan perasaan sesal. Ia tidak bermaksud membuat pamannya bertambah sedih. Kedatangan Lena tadi pastinya sudah memporak-porandakan hati pamannya, menguak luka-luka berumur puluhan tahun. Ia menyesal telah menambahkan duka yang tak perlu, hanya karena ia tak sanggup menahan diri untuk bertanya. Semenjak pamannya berpisah dengan Lena, pria itu tidak pernah jatuh cinta lagi. Tidak pernah sama sekali. Ia memilih hidup sendiri dan tidak menikah dengan perempuan mana pun juga. Baginya, Lena adalah yang terakhir dan tak tergantikan. Lebih baik hidup sendiri daripada hidup dalam kebohongan, begitu kata pamannya selalu. Poyan terkenal dengan lukisan-lukisan upacara Balinya, tapi orang-orang terdekatnya tahu, objek itu hanyalah pelarian belaka. Lukisan Poyan yang dulu jauh lebih bagus, begitu kata mereka yang tahu. Dulu, Poyan hanya melukis perempuan. Satu perempuan yang sama. Entah ke mana lukisan-lukisan itu sekarang. Tersebar di kolektor atau tersimpan entah di mana. Yang jelas, pamannya tidak pernah lagi melukis seperti dulu. Ia bahkan sempat berhenti bertahun-tahun. Dari semua lukisan yang dulu ia buat, hanya satu yang masih disimpannya. Dan dari satu lukisan yang tersisa itulah Luhde mengenalnya. Lena. Perempuan yang begitu dicintai Poyan dan tak pernah bisa dimilikinya. Bintang jatuh yang menggelincir pergi dari tangannya dan tak pernah lagi bisa ia tangkap, begitulah definisi Poyan atas kisah cintanya dengan Lena. Dan sepanjang hidupnya, Poyan berdiam dalam kesendirian dan kenangan. Cintanya pada Lena cukup untuk menemaninya sekali dan selamanya, pamannya pernah berkata. Bahkan cukup bagi Poyan untuk mencintai Keenan seperti anaknya sendiri, meski karena kehadiran Keenanlah ia harus berpisah dengan Lena. Lekat, Luhde memandangi punggung pamannya yang kian menghilang di gelap malam dan bersaru dengan bayangan pepohonan. Dari pria itulah ia belajar tentang kekuatan hati, kekuatan mencinta. Dan hari ini, hatinya ikut diuji. Jakarta, Desember 2002… Kugy terpaksa pulang larut lagi dari kantor. Sambil menunggu taksi pesanannya, ia nyaris tidur duduk di sofa lobi saking letihnya. Tiba-tiba pintu terbuka, empat orang masuk dengan suara gaduh. Mereka membawa lukisan besar yang terbungkus karton. Tampak satpam kantor mengarahkan mereka untuk mencopot lukisan besar di dinding belakang meja resepsionis, lalu memasangkan lukisan yang baru di sana. Kegaduhan pun berlanjut, satpam itu dengan semangat memberi komando, “Ya! Ya! Geser kiri sedikit… kebanyakan… ya! Ya! Kasih kanan bawah… stop! Cukup! Mantap!” “Wuih… cakepan gambar yang baru, nih,” satpam itu lantas berkomentar diiringi decak kagum. Kugy tergerak untuk berdiri dan ikut melihat. Mulutnya pun menganga. “Ini—ini lukisan dari mana, Pak?” tanyanya tergagap. “Dari rumah Pak Remi, Bu. Disuruh dipindahin ke sini. Sengaja malam-malam supaya nggak ganggu orang kerja, katanya,” satpam itu menjelaskan. Tak lama, rombongan pengangkut tersebut pergi. Dalam hati, Kugy bersyukur semua orang itu cepat berlalu dan ia bisa berdiri sendirian di sana. Menatap lukisan yang diterangi lampu spot itu sepuasnya. Seumur hidupnya, belum pernah ia terpana seperti ini. Seolah hatinya direnggut oleh lukisan itu, dan ia terperangkap dalam magis sebuah kehidupan lain. Sesuatu dalam lukisan itu terasa tak asing. Kawanan anak kecil, bermain bersama hewanhewan. Sederhana, tapi begitu bernyawa dan bersuara. Seakan-akan ia ada di sana, bermain bersama, merasakan kebahagiaan dan cerahnya dunia mereka. “Aduh,” Kugy terkaget sendiri, “kok jadi nangis, sih…” omelnya pelan seraya menyeka matanya yang tahu-tahu basah. Dan tiba-tiba hatinya dilanda rindu yang luar biasa dalam. Ia teringat Sakola Alit. Murid-muridnya. Pilik. Kugy tak sanggup lagi membendung haru. Matanya lalu mencari-cari nama pelukis di bidang besar indah itu. Tidak ada nama tertulis. Hanya inisial kecil di ujung kanan bawah: KK. ============ Jakarta, Desember 2002… Baru sehari Keenan tiba di Jakarta dan langsung menunggui di rumah sakit terus menerus. Dokter seketika melihat perbaikan yang pesat dari kondisi ayahnya. Meski Adri belum bisa bicara dan bergerak banyak, kehadiran Keenan seolah menyulut api semangat hidupnya. Air mukanya tampak mulai segar, dan hampir selalu ada perkembangan baru dalam hitungan jam. Lena sedang mengurus izin agar suaminya bisa dibawa pulang ke rumah. Ia yakin, keajaiban yang dulu disebut-sebut oleh dokter, telah hadir. Ia telah menjemputnya pulang. Keluarganya kembali utuh. Di tepi tempat tidur ayahnya berbaring, Keenan duduk sejak kemarin malam. Tak lepas mengamati dan mengawasi. Tak pernah ia bayangkan, pria yang begitu gagah, energik, dan gesit, bisa terbaring tak berdaya seperti itu. Keenan ingin memastikan dirinya ada setiap kali ayahnya membuka mata dan memanggil dengan suara lemah yang lebih berupa erangan. Namun Keenan tahu namanyalah yang selalu disebut. Pintu membuka pelan, Lena masuk dengan hati-hati. “Nan, besok Papa boleh kita bawa pulang,” katanya berseri-seri. Keenan mengembuskan napas lega. “Mama sudah dapat rekomendasi suster yang bisa bantu merawat Papa di rumah. Fisioterapinya juga sudah bisa dimulai pelan-pelan.” “Ma…” Keenan ingin bertanya sesuatu, ragu, “kantornya Papa siapa yang ngurus?” Itulah satu pertanyaan yang paling enggan ia tanyakan, tapi cepat atau lambat pasti akan terungkap. Keenan tahu persis bagaimana kantor itu bergantung pada ayahnya. Usaha trading yang dijalankan ayahnya itu murni miliknya seorang. Dialah orang nomor satu dan penentu di kantor tersebut. Tak ada yang bisa menggantikan posisinya. Entah berapa lama kantor itu bisa bertahan tanpa kehadiran ayahnya. Ekspresi Lena kontan berubah drastis. Sama seperti Keenan, ia pun menghindari pembahasan mengenai hal satu itu, meski tahu bahwa cepat atau lambat mereka berdua harus membicarakannya. Lena lalu menggeser kursi, duduk di hadapan Keenan, menggenggam tangan anaknya. “Nan… Mama tahu kita tidak punya banyak pilihan, tapi untuk sekarang, lebih baik kita fokus saja pada kesehatan Papa. Kamu nggak perlu terlalu memikirkan soal kantor—” “Papa sudah satu minggu lebih di sini, Ma,” potong Keenan. “Waktu berjalan terus tanpa mau tahu. Harus ada yang mau mengambil alih, kalau enggak… semuanya berantakan. Termasuk kita.” Lena pun menunduk. Berharap dirinya tak perlu mengucapkan satu permintaan itu. Satu hal yang selama ini mengganjal dan sudah menyesak ingin keluar, tapi ia tak pernah tega memintanya pada Keenan. “Saya akan menggantikan Papa,” Keenan tiba-tiba berujar lirih. Lena mendongak. Terperangah. “Saya nggak tahu harus mulai dari mana, Ma. Tapi saya akan coba sebisa saya,” lanjut Keenan. Lena mempererat genggaman tangannya, “Dari semua orang di dunia ini yang bisa Papamu percaya untuk menggantikan dia, hanya kamu orangnya. Kamu pasti bisa, Nan.” Namun bersamaan dengan mengucapkan kalimat itu, hati Lena pun tersayat. Ia tahu betapa mahal pengorbanan yang diberikan anaknya. Keenan terpaksa membunuh semua mimpinya, citacitanya. Menanggalkan kuas, kanvas, dan kecintaannya. Jakarta, malam tahun baru 2003… Semilir angin pantai mengembus halus, terasa hangat di kulit, walaupun waktu sudah bergerak lebih sejam dari tengah malam. Dengan kaki telanjang, Kugy duduk di ayunan. Kakinya mengayuh setengah menyeret, memainkan pasir dengan jemarinya. “Kamu jadi kelihatan kayak anak kecil kalau duduk di ayunan,” cetus Remi yang berdiri di belakangnya. “Hei, kok nggak di dalam?” Kugy membalikkan badan, menunjuk cottage yang hingar bingar oleh anak-anak kantor. Berdasarkan inisiatif beberapa orang, yang disambut oleh sebagian besar lainnya yang kebetulan tidak punya acara khusus, mereka bertahun bersama di Ancol. Menyewa satu cottage besar dan membuat acara sendiri. “Sumpek,” jawab Remi pendek, lalu berjalan menghampiri Kugy, mendorong ayunannya pelan. “Iya, enak di sini, dengar suara laut. Lagu alam paling merdu.” “Setuju. Tahun lalu saya juga tahun baruan di pantai. Ombaknya jauh lebih merdu dari ini.” “Oh, ya? Di mana?” “Di Sanur.” “Tahun lalu, aku mengkhayal tahun baruan di pantai—dari teras rumah,” Kugy terkekeh. “Tahun ini kesampaian, dong. Akhirnya bisa ke pantai juga.” Kugy mengangguk lucu, “Yup. Ancol dulu, mudah-mudahan tahun depan bisa upgrade jadi Sanur.” “Nggak usah nunggu tahun depan kalo cuma mau ke Sanur. Mau kapan? Yuk, saya temenin,” kata Remi sambil tersenyum. “Minggu depan?” “Ayo.” “Mmm… bulan depan?” “Ayo.” “Tengah tahun?” “Ayo.” “Kok ‘ayo’ terus, sih? Kamu nih, nggak ada perlawanan banget,” Kugy tergelak. Dan tiba-tiba kursi ayunannya berputar. Remi telah memutarnya hingga mereka berdua kini berhadapan. Remi lalu membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah Kugy. “Ke mana pun itu, dari mulai warung nasi goreng sampai pantai Sanur… kapan pun itu, dari mulai hari ini sampai nggak tahu kapan, selama bisa bareng sama kamu, saya mau.” Kugy terkesiap. Pikirannya berusaha mencerna apa yang dikatakan Remi, sekalipun hatinya sudah tahu. Sudah lama tahu. “Remi… kamu itu… atasanku…” ujarnya terbata. Remi mengangguk. “Iya, saya tahu ini semua menyalahi etika perkantoran mana pun. Saya mempersulit posisi kamu. Juga mempersulit diri saya sendiri. Tapi, kalau cuma karena itu saya jadi nggak jujur pada hati saya sendiri, buat saya itu lebih nggak masuk akal.” ================ Kugy menelan ludah, “Tapi… kamu… temannya Karel…” “Kamu ada masalah kalau pacaran sama cowok yang lebih tua? Pacaran sama teman abang kamu?” Remi tersenyum simpul. Mendengar kata ‘pacaran’, jantung Kugy berdegup lebih kencang dan tubuhnya mengunci. Kaku. Kugy berusaha menenangkan hatinya, mengatur napasnya. Berusaha sebisa mungkin menatap Remi dengan tenang dan berkata tanpa gemetar, “Saya ada masalah pacaran dengan siapa pun kalau saya belum benar-benar tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.” Tampak air muka Remi berubah. Manusia yang biasanya selalu tampil rileks dan luwes, kini terlihat gelisah. Mulutnya setengah membuka, tapi tak ada kata-kata yang terlontar. Dengan gugup, ia membuang pandangannya sebentar ke arah lain, seolah mengumpulkan kekuatan untuk bicara. “Kamu…” suara itu bergetar, “… kamu adalah alasan baru saya ke kantor setiap hari. Kamu bikin saya semangat… bikin saya ketawa… bikin saya kepingin melakukan banyak hal… bikin saya nyaman…” Remi berhenti sejenak, menenangkan jantungnya yang juga berdebar tak karuan, “kamu… bukan cuma bikin saya kagum, tapi juga jatuh cinta.” Giliran Kugy yang kehilangan pertahanan, kehilangan kemampuan untuk berpura-pura tenang. Dalam hatinya, terjadi perseteruan hebat. Untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan sebuah dilema yang sebelumnya tak pernah ada. Sebelum ini, ia tahu persis siapa yang ia idamkan, impikan, dan harapkan. Namun, kini, semuanya tak jelas lagi. Yang ia tahu, Remi begitu dekat, nyata, dan terjangkau. Remi hadir dalam hari-harinya, bukan mimpinya. “Kamu sadar nggak, sih? Saya tergila-gila sama kamu,” bisik Remi halus. Kugy tidak yakin dirinya bisa berkata-kata. Namun untuk pertama kalinya, Kugy melihat sosok di hadapannya itu dalam makna yang berbeda. Ia hanya berharap Remi bisa melihat itu. Membaca dari matanya. Dilema hatinya telah usai. Hatinya telah memilih. Seakan mendengar apa yang tak terucap, Remi pun tersenyum lembut. Ia bergerak mendekat, menghampiri wajah Kugy, mendaratkan bibirnya di atas bibir Kugy. Menciumnya dengan segala perasaan yang selama ini ia pendam. Suara ombak yang menyapu dari belakang menyelimuti mereka berdua dalam alunan merdu yang tak berkesudahan. Namun suara yang sama seolah mengingatkan Kugy akan sesuatu. Dalam hati, ia mengucapkan selamat tinggal pada satu nama yang begitu lama melekat di hatinya. Melepaskannya pada angin dan ombak. Menghanyutkannya di air laut. Merelakannya lepas bersama malam di ujung tahun. *** Di teras rumahnya, Keenan berdiam sendirian. Menimang-nimang telepon selularnya di genggaman. Melihat sederet nomor yang sedari tadi terpampang di layar ponselnya dan tak kunjung ia hubungi. Nomor satu itu selalu disimpannya, tanpa pernah tahu apakah nomor itu masih berlaku atau tidak. Ia hanya ingin menyimpannya, melihatnya sesekali. Seperti malam ini. Meski kini jarak mereka mendekat, tidak lagi terpisah lautan, Keenan malah merasa mereka menjauh. Entah kenapa. Kecil, kamu jauh sekali rasanya. Semoga kamu masih mengingat saya. Bandung, Januari 2003… Hari pertama perkuliahan setelah liburan selesai. Hari pertama dari semester terakhir bagi Noni, dan juga Eko. Noni mulai menyortir dan mengepak buku-buku perkuliahan awal yang sudah tidak dibutuhkannya lagi. Kamarnya sudah seperti gudang yang sesak dengan barang-barang yang bertahun-tahun lagi tak terpakai tapi dibiarkan bertahan hanya karena ia selalu sayang membuang barang. Penyakit yang selalu diprotes Eko dan memberi ia predikat “Si Tukang Pulung”. Sudah hampir setengah jalan ia menyortir, tiba-tiba matanya terbentur pada satu barang yang ia jebloskan di laci berbulan-bulan yang lalu tanpa pernah dilirik lagi. Sebuah bingkisan berwarna biru yang tertinggal di kamar Kugy lalu dititipkan padanya. Noni mengambil benda itu dan meletakkannya di pangkuan. Pasti ini kado dari Ojos, yang tertinggal atau sengaja ditinggal oleh Kugy, duganya dalam hati. Tangannya bergerak ingin membuka, tapi Noni mengurungkan niat itu. Biarpun barang ini tercecer bahkan gelagatnya seperti dibuang, tetap ini urusan pribadinya, pikir Noni. Tapi… masa aku mau simpan terus di sini? Akhirnya, tanpa pikir panjang, Noni membukanya. Sebuah scrapbook. Tanpa judul. Di dalamnya direkatkan potongan-potongan gambar. Setiap gambar bersebelahan dengan cerita yang ditulis tangan. Noni seketika mengenali tulisan itu. Tulisan tangan Kugy. Noni pun mengenali cerita-cerita yang ditulis di sana. Kumpulan cerita yang dibuat Kugy bertahun-tahun tanpa pernah ia publikasikan, hanya dipamerkannya ke beberapa orang, termasuk dirinya. Di halaman pertama, terlekatlah fotokopi tulisan tangan Kugy sewaktu kecil. Noni pun hafal tulisan itu. Kugy sering menuliskannya di buku-buku dongeng koleksinya, terutama pada bukubuku yang ia anggap spesial. Sebuah kutipan dari W.B Yeats: “Mari terus maju, hai Juru-juru Dongeng! Tangkaplah setiap sasaran tujuan hati. Dan jangan takut. Segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar, Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.” Noni ingat, Kugy kecil amat bangga dengan kutipan itu. Waktu itu Kugy bilang padanya, “Non, aku ingin jadi Juru Dongeng.” Sementara Noni sendiri belum mengerti maksud tulisan itu apa, tapi Kugy sudah. =============== Di sampul paling belakang, terdapat selipan yang bisa dipakai untuk menyimpan sesuatu. Noni tidak akan mengeceknya jika saja ujung kertas putih yang diselisipkan di sana tidak menyembul keluar. Diambilnya kertas itu. Sebuah amplop putih, berisi sehelai kartu. “Happy Birthday?” gumam Noni sendirian. Siapa yang ulang tahun? Noni lantas membuka kartu itu dan membaca tulisan Kugy: Hari ini aku bermimpi. Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku. Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat. Belum pernah sedekat ini. Hari ini aku juga bermimpi. Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng. Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu. Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi. Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini. Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita. Selamat Ulang Tahun. Keenan! Noni langsung menduganya. Tak mungkin salah lagi. Buku ini pasti diperuntukkan bagi Keenan. Noni melihat tanggal yang tertera di sudut kanan atas: 31 Januari 2000. Tangannya yang memegang kartu itu mendadak melemas. Noni cukup mengenal Kugy untuk mengetahui kedalaman kata-kata yang ditulisnya, perasaan sedahsyat apa yang mendorongnya. Pelan-pelan, Noni merangkaikan semuanya. Pelan-pelan, Noni tahu, mengapa waktu dulu Kugy selalu menghindar, mengapa Kugy tidak datang ke pestanya, mengapa Kugy akhirnya memilih pisah dengan Ojos, mengapa Kugy seperti orang tertekan. Pelan-pelan, ia paham. Semuanya. Diselipkannya lagi kartu itu dengan hati-hati. Noni sampai ingin menangis karena miris. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memendam dan diam. *** Eko berlari tergopoh-gopoh menuju kamar Noni seusai memakirkan Fuad di halaman depan. “Noon… Nooon…” panggilnya sambil berlari. Noni segera keluar kamar. “Kenapa, Ko?” “Barusan Nyokap kasih tahu, Keenan udah di Jakarta!” Noni terenyak. “Dia—di Jakarta? Pulang ke rumahnya?” “Iya. Dia pulang karena Oom Adri sakit parah. Kata Nyokap, selama ini ternyata dia di Bali,” Eko menjelaskan dengan semangat, “aku pokoknya harus ketemu manusia itu. Asli, pokoknya aku acak-acak tuh anak!” Eko berteriak kegirangan, “Pas banget ya dia pulang? Jadi, dia bisa dateng ke acara kita bulan depan.” “Ko… aku juga mau ke Jakarta,” Noni berkata lirih. “Oh, ya? Kamu mau ikut ketemu Keenan?” “Aku mau ketemu Kugy.” Giliran Eko yang terenyak. “Kamu… yakin? Kamu udah siap?” Noni mengangguk. “Aku mau minta maaf.” Jakarta, Januari 2003… Keenan memandangi bayangannya sendiri dalam cermin yang tergantung di tembok kamarnya. Sudah seminggu ini ia menjalankan rutinitas yang sama. Menatap bayangannya yang terbungkus dalam kostum yang terasa asing. Celana kain, kemeja rapi, sepatu loafer, ia bahkan mengantongi sehelai dasi yang kadang-kadang dibutuhkan. Ia bangun setiap pagi dan bekerja di kantor ayahnya. Berkendara bersama jutaan manusia Jakarta lain yang pergi bekerja dan pulang pada waktu yang sama. Tak jarang ia pulang setelah makan malam. Selain untuk menyiasati macet, begitu banyak yang harus ia pelajari. Betapa waktu berjalan cepat di sini. Berlari dan membanjir. Jauh berbeda dengan hari-harinya di Ubud di mana waktu terasa hanya berjalan, bahkan menetes. Keputusannya untuk segera mengambil alih tugas ayahnya telah menyita semua energi dan fokusnya. Ia bahkan belum merasa meluangkan waktu yang cukup untuk hidup di rumah, bersama orang tua dan adiknya. Satu-satunya hiburan yang membuat hatinya sejuk hanyalah pemandangan ayahnya yang kian membaik dari hari ke hari. Setiap pagi, di kursi roda, ia melepas Keenan pergi dengan senyum. Dan jika ia pulang, Jeroen selalu menyempatkan diri untuk menungguinya, demi mengobrol sebentar sebelum tidur. Dan Mamanya yang selalu memastikan segalanya baik, segalanya cukup. Selain keluarganya, tak satu pun teman dan saudaranya yang ia sempat temui. Ia bahkan belum mengontak siapa pun. Terlalu lama ia hilang hingga Keenan tidak tahu harus memulai dari mana. Napasnya mendadak menghela. Eko. Ia teringat sepupunya satu itu. Dan betapa ia merindukannya. Kugy… Keenan pun terduduk di tempat tidur. Begitu keluar dari Pulau Bali, ia sudah merasa dihadapkan lagi dengan segala kenangan tentang Kugy. Di angkasa… di awan… di jalanan… semua memori dan perasaan seolah berlomba-lomba untuk bangkit. Walaupun kini kemungkinan untuk bertemu Kugy jauh lebih besar, tetap Keenan tidak menginginkannya. Sedapat mungkin tidak menginginkannya. Keenan meraupkan tangannya ke muka. Berharap andai ada satu cara, satu penghapus besar yang bisa membersihkan otaknya dari kenangan itu, sebersit perasaan yang selalu bercokol dan mengusiknya dari waktu ke waktu, yang membuatnya terkadang merasa bersalah pada Luhde. Mendadak, Keenan gemas sendiri. Mengapa dia begitu susah dilupakan? Ia lalu bangkit berdiri. Mengecek bayangannya sekali lagi. Kemudian berangkat pergi. Masuk ke dalam pusaran waktu Jakarta yang cepat. Berharap dengan demikian, bayangan itu terenyahkan jauh-jauh. ========== Hari Minggu. Hari kemerdekaan bagi Kugy. Dalam arti, ia bisa tidur semerdekamerdekanya. Namun, tiba-tiba, bahunya diguncang-guncang seseorang. Dan mengukur dari matanya yang masih sangat berat, Kugy tahu bahwa hari masih terlalu pagi untuk bangun. “Gyyy… banguuun! Banguuun! Wooiii!” Kugy seketika curiga dirinya masih mimpi. Ia hafal betul teriakan-teriakan barbar itu, tapi… mana mungkin! Kugy lantas menarik selimutnya lebih tinggi. “Gyyy!” Suara itu kian melengking. “Bangun dooong! Tega banget sih, gua udah jauh-jauh dateng, nih!” Kugy memaksakan kelopak matanya membuka. “Non?” gumamnya tak percaya. Ia terduduk langsung. Dan serta merta, Noni mendekapnya. Lengkaplah mimpi aneh ini, pikir Kugy. Masih linglung. “Gy… maafin gua, ya. Sori banget untuk semuanya,” bisik Noni di kupingnya. Dan tak lama, Noni mulai menangis. “Non, kamu kenapa?” Kugy bertanya bingung. “Gua baru ngerti sekarang. Tiga tahun, Gy. Dan gua baru ngerti… sori, ya…” kata Noni di sela isakannya. “Tiga tahun—apaan?” Kugy tambah bingung. Perlahan, Noni melepaskan rangkulannya, lalu meraih tasnya, menyerahkan sebuah bungkusan pada Kugy. “Maaf, Gy. Ini gua bungkus ulang. Gua kepaksa buka. Barang ini ketinggalan di kamar kos lu yang lama.” Kugy tercengang melihat benda itu kembali ke hadapannya. Badai besar seketika menyapu hatinya. Kepala Kugy pelan menggeleng. “Nggak semestinya buku ini kembali ke gua, kok, Non. Lu ambil lagi aja, disimpan, atau diapain kek, terserah,” katanya getir. Noni menggeleng. Siap meledakkan tangis berikut. “Kenapa lu nggak pernah ngomong, Gy? Kalau dulu gua tahu tentang perasaan lu, pasti nggak begini…” “Sebetulnya gua selalu pingin kasih tahu, Non… tapi gua ngerasa nggak bisa apa-apa ketika lu dan Eko berencana untuk mengenalkan Wanda ke Keenan… dan gua lihat misi kalian berhasil… sementara gua sendiri masih pacaran sama Ojos… gua bingung mau bilang apa, mau bersikap apa… lebih baik gua jauh sekalian dari kalian semua…” Mata Kugy mulai berkaca-kaca. “Dan soal Eko…” Tangis Noni meledak tak tertahan. “Gy… gua yang harus minta maaf soal itu. Sebegini lama kita sahabatan, gua nggak pernah mau mengakui kalau gua selalu cemburu sama lu, gua selalu merasa ada di bawah bayang-bayang lu… makanya, begitu Eko kelihatannya masih merhatiin dan dekat sama elu, reaksi gua jadi berlebihan… padahal dia nggak ada maksud apa-apa. Gua cemburu ngelihat persahabatan kalian, ngelihat kalian tetap deket. Sementara gua sama elu malah jauh,” Noni menerangkan sambil berurai air mata. Kugy tak sanggup bicara lagi. Hanya memeluk Noni dan mengusap-usap punggung sahabatnya. “Lu maafin gua kan, Gy?” “Asal lu juga maafin gua, Non,” kata Kugy lirih. Keduanya berpelukan lama. Mencairkan apa yang sudah membeku selama hampir tiga tahun. “Gua juga mau kasih tahu sesuatu…” bisik Noni. “Bahwa lu sebenarnya Batman?” Noni nyaris tersedak karena ledakan tawa yang bentrok dengan isak tangis. “Monyong!” makinya pelan, “Berita serius, nih…” “Oke, oke. Apa?” Kugy melipat tangannya, siap mendengar. “Berhubung ortu-ortu udah mendesak, yah, you know lah, jadi…” Noni berdehem, “bulan Februari depan, tepat pada hari Valentine, gua dan Eko tunangan.” Kugy melongo. “Gua… kok… kayaknya lebih siap kalo lu sebenarnya Batman.” Noni terpingkal-pingkal sambil menghapusi air matanya, “Dasar orang gila… gua kangen banget sama lu!” Kugy tersenyum. Tergerak sekali lagi untuk memeluk Noni. “Selamat ya, Non. So happy for you. Emang udah jatah kalian berdua untuk saling menghancurkan hidup satu sama lain,” selorohnya, “kalian memang pasangan paling serasi. Gua bahagia, dua sahabat gua bisa jalan bareng sejauh ini. You guys truly deserve it.” “Makasih, Gy,” sahut Noni, “but, you know what? Sebetulnya, dari dulu, gua dan Eko merasa lu dan Keenan adalah pasangan paling serasi. Kalian tuh sama-sama aneh… ancur… nggak jelas—” “Lu memuji atau menghina sih, Non? Yang jelas, dong! Jangan setengah-setengah gitu!” tukas Kugy sok galak. Noni nyengir, “Jadi, kalau satu saat kesempatannya ada, lu akan kasih buku itu ke Keenan?” Wajah Kugy berubah serius. Ia lalu menggeleng. “Buku itu hanya bisa gua kasih ke seseorang yang bakal mengisi hati gua selamanya. Dan, sepertinya orang itu bukan dia.” Noni terdiam. Ingin rasanya mengatakan pada Kugy, bahwa Keenan telah pulang, bahwa Kugy kini berada satu kota dengannya. Namun lidahnya kelu. Biarlah Kugy tahu sendiri satu saat nanti, batinnya. “Sekarang, giliran gua mau kasih tahu sesuatu,” Kugy tersenyum cerah. Ia kelihatan berbungabunga. Noni menyadari perubahan air muka sahabatnya. “Lu—lagi jatuh cinta, ya? Sialan. Sama siapa, hayo? Bilang!” “Non… aku punya pacar!” Kugy lalu jingkrak-jingkrak sendiri, kegirangan. Noni menjerit histeris. “Siapaaaa?” “Bos gua sendiri! Haha!” Kugy tertawa-tawa. Noni mengernyit. “Kalo gua Batman, lu Inem Pelayan Seksi! Bisa-bisanya jadian sama bos sendiri. Ngehe emang lu!” tapi tak lama Noni ikut tertawa, “I’m happy for you, too. Kenalin, dong.” “Pastilah. Nanti pas acara tunangan lu, gua ajak dia, ya?” “Asyiiik!” Noni bertepuk tangan. Tiba-tiba, dengan gerakan gesit ia mengalungkan sesuatu di leher Kugy. “Eh, eh, eh… apaan, nih?” Kugy kaget dengan benda asing yang tahu-tahu tergantung di lehernya. “Selamat. Kamu berhasil jadi juara satu. Tidak ada yang menggeser posisi lu buat gua, Gy,” ucap Noni sambil tersenyum ceria. =========== Kugy membaca tulisan di medali emas itu. Sahabat Terbaik dan Terawet. Napasnya langsung tertarik ulur panjang-panjang. Setengah mati menahan haru. “Serius, Non… gua lebih siap kalo lu sebenarnya Batman…” desis Kugy akhirnya. *** Sesampainya di depan pagar rumah itu, Eko langsung bertemu muka dengan tantenya yang sedang menyirami tanaman pot di sekitar gazebo taman. “Tante Lena!” panggilnya. Lena segera meletakkan penyemprot di tangannya, dan menghampiri Eko dengan tangan membentang. “Ekooo… ya, ampun. Apa kabar kamu?” “Baik, Tante,” Eko balas merangkul tantenya. “Mama kasih tahu aku, katanya Keenan—” “SETAN ALAS KEPARAT!” Tahu-tahu ada suara keras yang berteriak dari arah rumah. “TOKAI BERANTAKAN!” Spontan, Eko membalas. Refleks berikutnya adalah meminta maaf pada tantenya, “Maap, maap, Tante… itu bukan memaki, tapi ungkapan sayang—” Sebelum kalimatnya selesai, Eko sudah keburu ditubruk dan dirangkul. Keenan dan Eko, berpelukan, tertawa-tawa, dan tak henti-hentinya saling mengumpat. Lena meringis-ringis sendiri mendengar pertukaran makian antara kedua anak itu. Tak lama kemudian, mereka masuk ke rumah, ke kamar Keenan. Setelah kenyang bertukar makian, sepanjang siang keduanya bertukar cerita. Saling tercengang dan takjub atas cerita masing-masing. “Jadi, lu skripsi semester ini? Tengah tahun lulus? Yeah! Welcome to the real world!” Keenan menepuk bahu Eko. “Biasa aja kali. Tepat waktu, sih, tapi standarlah. Masih ada yang lebih gila daripada gua. Rekan alien lu, tuh. Kugy udah lulus dari tahun lalu. Udah kerja. Sukses pula,” tutur Eko. Ada sentakan dalam hatinya begitu mendengar nama itu disebut. “Kugy? Kerja di mana dia?” tanya Keenan. “Di perusahaan advertising, gitu. Jadi copywriter. Sesuailah dengan bidangnya.” Keenan mengangkat alis, “Gua pikir bidang dia adalah nulis dongeng.” “Nan? Hello? Please, deh. Hari gini nulis dongeng! Lu kata kita hidup di negeri peri?” Eko terbahak. “Lha elu… siapa yang bakal nyangka seorang Keenan bisa jadi businessman di ibukota?” Sentakan kedua dalam hatinya. “Well, gua sih berharap ini cuma sementara. Yang jelas, untuk sekarang ini, gua nggak ada pilihan, Ko. Keluarga gua nggak punya pilihan,” Keenan berkata, berat. Eko gantian menepuk bahu sepupunya. “Gua ngerti, man. Apa pun yang bisa gua bantu, let me know, oke?” Keenan tersenyum, “Jangan ge-er, ya. Tapi ngelihat lu doang, tanpa lu perlu ngapa-ngapain, rasanya hidup gua kembali normal.” “Gombal gila,” Eko memonyongkan mulut, “sejak kapan juga hidup lu normal?” “Good point,” Keenan mengangguk sepakat. “Kapan ya gua bisa ketemuan sama lu dan Noni? Kita jalan ke mana kek…” “Siap! Apalagi Noni dan Kugy baru rujukan. Kan pas, tuh.” “Rujukan? Memangnya mereka kenapa?” tanya Keenan. Badannya langsung menegak. “Lu nggak tahu? Sejak pesta ultahnya Noni mereka nggak pernah ngomongan lagi. Nyaris tiga tahun! Bayangin aja. Ajaib nggak, tuh.” Sentakan yang ketiga kali. Keenan masih belum bisa bereaksi netral dengan memori malam satu itu. “Kenapa bisa gitu, ya?” gumamnya. Eko tak menjawab, hanya mengangkat bahu. Ia ingin bilang, bahwa Noni telah bercerita padanya soal kado ulang tahun yang tak pernah sempat Kugy berikan, tentang perasaan yang Kugy pendam bertahun-tahun, dan bagaimana perasaan tersebut menjadi alasan utamanya untuk menyingkir dari pertemanan mereka waktu itu. Namun Eko juga ragu, apakah hal itu ada gunanya. Keenan sudah punya kekasih di Ubud. Kugy sudah punya kehidupan sendiri. Jika ada satu hal yang ia dambakan, hanyalah mereka berempat bisa bersahabat lagi. Itu saja sudah cukup. Kalaupun Keenan harus tahu, biarlah ia tahu sendiri, batin Eko. “Anyway, good luck buat Februari, ya. Gua pasti hadir,” ujar Keenan seraya merangkul bahu Eko. “Hadir? Setelah ngilang segitu lama, gua bakal membiarkan lu CUMA hadir?” Eko melengos. “Abis ngapain, dong?” “Lu bakal jadi best man gua di sana. Alias… tukang cincin.” Tawa Keenan menyembur. “Satu kehormatan buat gua. Tapi, asal lu tahu, ‘best man’ dan ‘tukang cincin’ itu adalah dua hal yang nggak nyambung.” Eko berpikir sejenak. “Jadi, harusnya… ‘ring man’?” *** Setelah berminggu-minggu kerja lembur, tubuh Kugy menyerah kalah. Pada hari ulang tahunnya, Kugy terpaksa meringkuk di tempat tidur karena sakit flu. Dalam hati, Kugy bersyukur. Ia sudah mendengar desas-desus bahwa satu kantor bermaksud mengerjainya habis-habisan hari ini, dan isu utamanya justru bukan dalam rangka perayaan ulang tahun, melainkan gara-gara ia kini resmi menjadi pacar bosnya kantor. Ulang tahunnya hanyalah alat tumpangan strategis di mana semua kawannya punya kesempatan untuk meluapkan emosi dan ekspresi apa pun atas hubungan barunya dengan Remi. Entah itu sekadar mengucapkan selamat, menimpuk pakai telor, membanjur air, dan seterusnya. Seharian penuh ia hanya teronggok di tempat tidur, bertimbunkan bantal dan guling. Kugy menikmati betul istirahat ini. Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu. Kugy melirik jam. Bahkan belum pukul tujuh malam. “Masih kenyang! Aku makan malamnya nanti aja!” seru Kugy tanpa beranjak dari kasur. Namun pintu itu tetap membuka. Dan muncullah Remi, dengan wajah bersinar diterangi lilin kecil. Kugy mengangkat badannya sedikit. Remi? Kue tart? Remi masuk hati-hati, membawa kue tart cokelat kecil dengan satu lilin yang menyala, seikat bunga aster segar, bernyanyi pelan, “Happy birthday to you… happy birthday to you…” ========== Kugy langsung terduduk tegak. Antara kaget dan ingin tertawa. Namun ia terpaksa menunggu Remi menyelesaikan dulu lagunya, dan kemudian meniup lilin yang disorongkan ke mukanya. Usai lilin itu padam, tawa Kugy langsung lepas, “Kamu, tuh! Apa-apaan sih pakai prosesi ginian segala?” “Kenapa memangnya? Ada masalah?” Kugy menggeleng cepat, pipinya merah padam. “Aku malu. Kikuk kalo diperlakukan kayak gini,” ujarnya pelan. “Kamu, tuh,” balas Remi geli, “tukang khayal tapi kena jurus cemen gini aja kikuk. Kelamaan jomblo, ya?” ia lantas mengecup kening Kugy, “Selamat ulang tahun ya, Kugy-ku. Badan kamu masih hangat.” Kugy menempelkan telapak tangannya di keningnya sendiri, “Iya, ternyata masih. Tapi rasanya aku udah baikan, kok. Apalagi setelah kamu muncul bawa kue dan bunga barusan. Lumayan ada bahan ledekan,” Kugy terkekeh. “Aku punya sesuatu yang bisa bikin kamu sejukan,” lantas Remi mengeluarkan kotak hitam ramping dari kantong celananya, “ini… hadiah ulang tahun untuk kamu.” Kugy terbengong-bengong melihat kotak yang terbuka di hadapannya. Seuntai gelang yang terdiri dari batu-batu mungil berwarna biru cemerlang. “Benda ini barangkali nggak akan matching dengan jam Kura-kura Ninja kamu. Tapi, tolong dipakai, ya?” Remi lalu memasangkan gelang itu di pergelangan kiri Kugy. “Ini namanya batu lapis lazuli,” ia menerangkan, “warna birunya paling menyerupai biru laut dalam. Jadi, kalau kamu kangen pantai, kangen laut, kamu bisa lihat warna birunya di gelang ini.” Kali ini Kugy hanya dimampukan untuk diam dan menelan ludah. “Kenapa lagi sekarang?” Remi tersenyum seraya mengelus pipi Kugy. “Aku nggak tahu kamu sedang pakai jurus apa, tapi… aku belum pernah dapat hadiah seindah ini,” bisik Kugy. Ia lalu menggerakkan tubuhnya yang masih lemah untuk mendekap Remi seerat mungkin, “Makasih, ya. Aku akan pakai tiap hari.” “Saya nggak pakai jurus apa-apa, Gy,” Remi balas berbisik, “I just love you. Sesederhana itu.” Dalam dekapan Remi, Kugy menyadari sesuatu. Keenan mungkin adalah Pangerannya saat ia masih berumur 18 tahun. Sebuah dongeng indah. Namun inilah kenyataan sederhana yang membangunkannya dari tidur panjang dalam alam dongeng. Remilah Pangeran Sejatinya. Ia nyata, ada, dan mencintainya. ================= Jakarta, Februari 2003… Jumat sore. Acara pertunangan Noni dan Eko dimulai dua jam dari sekarang. Berhubung tak sempat lagi pulang ke rumah, Kugy sudah membawa semua perlengkapannya ke kantor. Dan ia baru saja keluar dari toilet untuk berganti baju dan berdandan sebisanya. Kugy mematut diri di kaca, mengecek penampilannya sekali lagi. Ia mengenakan gaun velvet warna biru. Gaun pertama yang dibelinya lagi setelah bertahun-tahun. Kugy jatuh cinta pada gaun itu karena potongannya yang sederhana hingga ia tak canggung untuk berangkat dari kantor dengan gaun itu, sekaligus cukup mewah hingga ia tidak perlu merasa minder untuk menghadiri resepsi pertunangan sekalipun. Terakhir, ia mengenakan gelang lapis lazuli yang dihadiahkan Remi. Kugy pun tersenyum puas. Cukup satu benda mungil itu saja melingkar di pergelangannya, ia langsung merasa segalanya sempurna. Kugy lalu menghampiri Remi ke ruangannya. “Remi, yuk, udah jam lima, nih. Macet lho di jalan. Acaranya kan mulai setengah tujuh.” Remi yang sedang berbicara di ponsel, terpaksa menyudahi pembicaraannya cepat-cepat, menatap Kugy sambil tercekat. “Yuk?” Kugy mengajak sekali lagi sambil tersenyum lebar, “Kok bengong?” Napas panjangnya menghela, dan Remi menggigit bibirnya gelisah. “Oke, saya bengong karena dua hal. Pertama, kamu… sumpah, cantik banget…” Senyum Kugy tambah semringah, “Dan yang kedua?” “Saya nggak bisa ikut.” “Ha?” Kugy berseru kaget. “Tapi—tapi kan kamu udah janji mau nemenin aku! Kita kan janjian dari dua minggu yang lalu!” Remi menghampiri Kugy, meremas kedua bahunya. “Gy, sori, barusan banget agency dari Vector Point telepon, mereka ingin aku presentasi final ke klien kita hari ini. Bos mereka harus ke luar negeri besok pagi. Jadi nggak ada waktu lagi.” Kugy sudah mau nangis rasanya. “Remi… tapi ini sobat-sobatku dari kecil… aku kepingin banget ngenalin kamu ke mereka… dan acara ini penting buatku…” “Gy, kalau memang saya bisa, saya pasti pergi. Tapi saya benar-benar nggak bisa. I’ll make it up to you. Saya janji.” Kugy merasa keputusan itu sudah final dan tak ada gunanya lagi dia merengek dan berkeluhkesah. Remi tidak bisa ikut dan dirinya harus mencoba realistis. Perlahan, Kugy mengangguk. Remi mengambil tangan Kugy dan menciumnya, “Malam ini saya diwakili oleh si kecil ini aja, ya,” ujarnya sambil mengusap gelang biru yang melingkar di pergelangan Kugy. *** Keenan tergopoh-gopoh keluar dari mobil, dan langsung melesat memasuki rumah Eko. Ibunya Eko, Tante Erni, sudah menunggunya di pintu belakang. “Nan! Oalah! Kena macet, ya? Untung masih keburu. Ayo, masuk dari sini. Acaranya sudah mulai. Ini, kotak cincinnya, kamu pegang,” seru Tante Erni seraya menyerahkan kotak kecil ke tangan Keenan. Keenan menyusup dan menyisip punggung orang-orang, dan akhirnya ia tiba di sebelah Eko dan Noni. Seluruh otot muka Eko langsung melonggar ketika melihat Keenan akhirnya hadir tepat waktu. Tapi mereka sudah tak sempat lagi mengobrol, hanya saling lempar senyum dan kode-kode jarak jauh. Dari pintu depan, Kugy, yang juga baru datang, berjuang untuk bisa menembus kerumunan tamu. Apalagi kerumunan sanak saudara yang berbaris di paling depan adalah lapisan yang paling alot untuk ditembus. Namun Kugy tak mau kehilangan momen. Ia ingin melihat pertukaran cincin itu dari dekat. Giliran otot muka Noni yang melonggar ketika melihat Kugy tahu-tahu menyeruak muncul dari kerumunan orang, melambai-lambai kecil. Manusia satu itu muncul juga, pikirnya lega. Tak terbayang jika Kugy kembali menghilang dan melewatkan pertunangannya. Kugy menarik napas haru. Noni terlihat begitu cantik dalam kebaya merah jambu, dan Eko terlihat gagah dengan setelan jasnya. Pertukaran cincin pun akan segera dimulai. Semua orang menanti keluarnya kotak kecil yang akan dibuka oleh Eko. Dan seketika… napasnya tertahan. Kugy mengerjapkan mata, meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi atau kena tipuan optik. Demi apa pun, Kugy sangat mengenali orang yang berdiri di sebelah Eko, yang menyerahkan kotak cincin padanya, dan bagaimana orang itu tertawa… cara ia menatap Eko dan Noni… matanya yang bersinar hangat… Kugy menggelengkan kepala sendirian. Ini nggak mungkin. Pada saat yang bersamaan, sebuah intuisi menggiring mata Keenan memandang ke arah tempat Kugy berdiri. Ia tertegun. Juga tidak yakin dengan penglihatannya. Seluruh rongga tubuhnya seketika teraliri oleh hawa hangat. Rasanya begitu utuh dan damai. Hanya satu orang yang mampu membuatnya seperti itu. Dan orang itu tak perlu melakukan apa-apa lagi selain hadir dan ada. Namun Keenan masih terlalu sukar memercayai matanya. Apa yang ia lihat terlalu indah untuk dipercaya. Ketika kedua mata mereka akhirnya saling menemukan, barulah keduanya yakin bahwa mereka tidak berhalusinasi. Detik itu juga Kugy rasanya ingin lari, secepat-cepatnya dan sejauh-jauhnya. Namun pada saat yang bersamaan, kedua kakinya seperti beku. Tertancap kaku di lantai tempat ia berdiri. Dan Kugy tetap mematung seperti itu ketika Keenan akhirnya bergerak mendekat. Keenan merasa bagaikan melangkah di lautan kala badai. Namun seperti terhipnotis, kakinya terus digerakkan untuk melangkah, mendekat. “Kugy?” panggilnya pelan, “Apa kabar?” Hanya itu yang sanggup ia katakan. “Baik,” jawab Kugy pendek. Hanya itu yang sanggup ia jawab. =========== Tiba-tiba, kerumunan orang mendesak mereka. Para tamu mulai bergerak menyalami Eko dan Noni. Pandangan keduanya terhalangi orang-orang yang lalu lalang di antara mereka berdua. Keenan terperanjat dengan kehilangan tiba-tiba itu. Panik, ia lantas meraih tangan Kugy, membuat anak itu berseru kaget karena tiba-tiba badannya tertarik maju. “Sori, Gy. Kamu kaget, ya?” Buru-buru, Keenan meminta maaf. Kebingungan sendiri atas reaksinya tadi. Sebuah perasaan kehilangan yang rasanya tak siap dialaminya lagi. “Nggak pa-pa, Nan,” Kugy mencoba tersenyum. Keenan ikut tersenyum. Senyuman mereka pertama kali lagi setelah sekian lama. “Kita salamin mereka, yuk,” ajak Keenan sambil terus menggandeng tangan Kugy. Eko dan Noni sudah melambai-lambai melihat Kugy dan Keenan yang berjalan menghampiri. Muka keduanya cerah bukan main. “Woi! My Ring Man! Dan elu…” Eko merangkul Kugy, “my ring worm.” “Aduh! Senang, ya! Kita ngumpul lagi berempat!” Noni berseru gembira. Kugy memandangi keduanya dengan tawa lebar sekaligus tatapan penuh tanya, “Iya, ya? Nggak nyangka! Nggak ada pertanda nggak ada berita, tahu-tahu kita berempat lagi.” “Iya, setuju.” Keenan mengangguk. “Panitia reuninya canggih, nih.” Eko langsung menggamit tangan Noni. “Oke, kita berdua keliling-keliling dulu, bersosialisasi dululah, biasaaa…” ujar Eko sambil cengengesan, “kalian makan dulu kek, ngobrol kek, nanti kalo udah agak sepi kita ngumpul berempat, ya?” Dan cepat-cepat, Eko dan Noni berlalu dari hadapan Kugy dan Keenan. Meninggalkan mereka berdua dengan segala kecanggungan yang ada. “Makan, Gy?” Keenan menawarkan, basa-basi. Rasa laparnya sudah mencelat hilang begitu ia melihat Kugy tadi. Kugy menggeleng, enggan. Dalam ruang batinnya yang kini berkecamuk, tak ada ruang lagi untuk memikirkan makanan. “Bentar lagi, deh. Kamu lapar, ya?” “Nggak. Saya juga nggak kepingin makan,” jawab Keenan jujur. Akhirnya mereka berdua duduk di taman belakang rumah Eko. Berbekalkan dua gelas es, yang juga tak kunjung disentuh. “Aku nggak nyangka,” Kugy membuka suara, memecah kecanggungan yang sudah mulai terasa melumpuhkan, “akan ketemu kamu format kayak begini,” ia tersenyum lalu mengerling pada Keenan yang mengenakan jas tiga kancing warna hitam dengan dasi berwarna perak platina. Rambut Keenan, yang dulu dibiarkan tumbuh panjang, kini pendek dan rapi. “Nggak pantes, ya?” sahut Keenan diikuti tawanya yang renyah. Kugy tak menjawab, karena ia tak mungkin mengatakan jawaban yang jujur. Bahwa Keenan kelihatan begitu lain, bahwa Keenan tak pernah berhenti membuatnya terpukau. “Saya juga nggak nyangka ketemu kamu dalam… gaun,” Keenan berkomentar ragu-ragu. Kamu makin cantik, sambungnya dalam hati. “Kamu membuat saya yakin bahwa Charles Darwin memang benar. Evolusi itu memang terjadi.” “Monyet!” semprot Kugy sambil tertawa. “Ya, persis. Itu dia. Dari monyet sampai jadi manusia cantik bergaun beludru,” seloroh Keenan diikuti gelakan tawa. Namun dengan cepat, mereka kembali terdiam. Suara-suara yang menderu dalam batin masingmasing masih terlampau bising, tapi begitu susah untuk diungkap. “Kamu ke mana aja?” tanya Kugy akhirnya, setelah sekian lama pertanyaan itu menggantung di benaknya. “Ke Bali,” jawab Keenan lugas. Terlalu banyak kisah yang tertunda. Ia tak tahu lagi harus mengawali dari mana. Kugy tersenyum pahit mendengar jawaban itu. “Ke Bali. Begitu saja? Semudah itu kamu ngilang, nggak ada kabar, terus kamu tinggal ngomong ‘ke Bali’ kayak orang baru pulang liburan,” Kugy menimpali datar, tapi sesuatu dalam nada suaranya terasa tajam menukik. “Nggak semudah itu, Gy. Saya nggak sekadar pergi, ngilang dan liburan,” Keenan menatap Kugy balik, getir. “Saya pergi untuk memulai sesuatu yang baru. Saya pergi ke mana suara hati saya memilih. Dan bagaimanapun cara kepergian saya, itu adalah pilihan yang terbaik pada saat itu. Saya nggak menyesal sedikit pun,” lanjutnya tegas. Kugy rasanya tak sanggup untuk lanjut bertanya. Keenan telah memilih untuk meninggalkan mereka semua, meninggalkan dirinya, tanpa kabar. Itu adalah pilihannya, bukan kesalahannya. Tidak ada yang salah, batin Kugy. Mungkin aku yang memang terlalu berharap. “Terus… kenapa kamu kembali lagi ke sini? Apa karena pilihan hati kamu juga?” tanya Kugy pelan. “Bukan,” Keenan menjawab, apa adanya. Kejujuran memang kadang menyakitkan. “Kalau gitu, buat apa kembali ke sini?” Suara Kugy kini terdengar perih. “Kenapa meninggalkan pilihan hati kamu?” “Saya pulang untuk keluarga saya. Ayah saya sakit, Gy. Lumpuh karena stroke. Kalau bukan karena itu, jujur, saya mungkin nggak akan pernah kembali ke sini lagi,” jawab Keenan pahit, “saya sekarang kerja di kantor ayah saya. Papa sedang terapi terus, kondisinya udah jauh lebih baik. Kalaupun saya sekarang memang mengambil alih posisinya, mudah-mudahan nggak untuk selamanya.” “Aku turut prihatin, ya, Nan. Aku benar-benar nggak tahu kalau ayah kamu sakit,” kata Kugy sungguh-sungguh, perlahan ia menatap Keenan, “tapi, kalau ayah kamu baikan, sesudah kamu itu akan pergi lagi? Ikut suara hati kamu lagi?” Keenan terdiam. Tatapan Kugy menyadarkannya bahwa hatinya ingin berada di dua tempat. Dan meski hatinya telah ia jaga rapi untuk seseorang yang menantinya nun jauh di sana, pertemuan singkat dengan Kugy langsung menjungkirbalikkan apa yang selama ini ia bangun dengan hatihati dan susah payah. =========== Melihat Keenan yang membisu, Kugy menghela napas. Batinnya berteriak semakin menjadi-jadi. Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti? Sementara sejenak saja kehadiran Keenan mampu mengobrak-abrik seluruh tatanan hatinya. Jemari Kugy bergerak, menggenggam untaian batu kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, berusaha mencari kekuatan di sana. “Gelang kamu bagus. Lapis lazuli?” Kugy tersentak mendengar komentar Keenan yang tak terduga. Ia cuma mengangguk, dan tak bisa menolak ketika Keenan meraih pergelangannya, mengamati gelangnya lebih saksama. “Ini gelang yang paling cocok buat agen rahasia Neptunus,” ucap Keenan sambil tersenyum kecil, ia melirik Kugy, “bukan Neptunus yang kasih, kan?” Kugy menggeleng. “Pacarku yang kasih,” jawabnya spontan. Lebih cepat dia tahu, lebih baik. “Oh,” sahut Keenan pendek, berusaha menyamarkan getaran dalam suaranya, “berarti dia memahami kamu dengan baik. Teman kerja?” “Iya.” “Copy writer juga?” “Dia atasanku.” Keenan mengeluarkan ‘oh’ pendek yang kedua kali. “Lebih tua, dong?” “Iya.” “Dia serius sama kamu?” Kugy mengangkat bahu, “Yang jelas, aku nggak pernah main-main.” Kali ini Keenan bahkan tak tergerak untuk menyahuti apa pun. Kugy menghela napas. Gilirannya. Ia menimang-nimang dari celah mana pertanyaan ini bisa dilontarkan. “Perempuan Bali kan ayu-ayu, ada yang nyantol, nggak?” tanyanya dengan nada yang diupayakan terdengar ringan. Keenan mengangguk, “Pacar saya sekarang memang orang Bali asli. Keponakannya Pak Wayan,” ujarnya langsung. “Dia masih muda, tapi kepribadiannya sangat dewasa.” “Pelukis juga?” timpal Kugy, berusaha antusias. Keenan menatap Kugy sejenak. “Bukan. Dia suka menulis. Seperti kamu.” Kugy merasa mulutnya mendadak pahit. “Oh, ya? Dia suka nulis apa?” “Dia…” Keenan menerawang, “dia sastrawati sejati, baik tulisan maupun lisan. Ngobrol dengan dia… rasanya kayak lagi baca buku petuah-petuah bijak. Dia bisa menulis apa saja. Tapi sekarang ini dia kepingin menulis cerita anak-anak.” Ingin rasanya Kugy berkomentar, sekadar untuk memberikan kesan wajar, tapi ia tidak sanggup. Ada sayatan perih di hatinya. Tanpa sepenuhnya ia sadari, jemarinya kembali bergerak, menggenggam gelangnya. “Aku senang kamu pulang. Setengah mati cari mitra kerja, nih. Kehidupan agen rahasia tidak lagi seru tanpa kehadiranmu!” Mendadak, Kugy berkata riang. “Nah, sekarang kamu pikir. Gimana caranya saya bisa eksis terus jadi agen, sementara satusatunya orang di dunia yang menganggap saya agen rahasia Neptunus, ya, cuma kamu doang? Tanpa kamu, status agen rahasiaku nggak berlaku.” Keenan menjawil ujung hidung Kugy. “Kecil, saya kangen banget sama kamu,” ucapnya tak tertahankan. Kugy tersenyum lebar. Akhirnya, semua kembali normal. Selama mereka tidak lagi menyentuh urusan hati mereka yang paling dalam, semua baik-baik saja. Dan kini mereka bebas berbicara apa pun, tentang perjalanan dan kehidupan Keenan di Lodtunduh, cerita pekerjaan Kugy di kantor… dan pembicaraan mereka seakan tak ada habisnya. Tak terasa, tamu di rumah Eko sudah menyusut setengahnya. Suasana menjadi lengang. “Woi, Perkumpulan Orang Aneh! Udah ngabisin nasi berapa piring?” Eko tiba-tiba menepak punggung keduanya dari belakang. Tampak Noni datang menyusul. Mereka berempat kini duduk bersama di atas ubin. “Gerah ya pake baju begini? Coba bisa pake kaos sama sarung,” Eko mengeluh sambil membuka jasnya. “Terus minum kopi tubruk sama singkong goreng, dengerin radio AM, bahas harga sayur mayur dan jadwal panen ladang…” Keenan melanjutkan. “Jenius!” seru Kugy. “Gimana kalo reuni ini kita buat dengan tema… Kelompencapir?” Eko mengernyit melihat keduanya, “Gua kok lebih setuju memakai tema ‘Alien Ressurection’, ya?” “Aku setuju dengan ide Kelompencapir! Aku pinjam kostum ke Mama kamu, ya!” Noni berkata pada Eko, dan langsung lari ke dalam rumah. Kembali lagi membawa empat kaos dan empat sarung. Tak lama, semua pakaian mereka berganti. Empat cangkir minuman panas. Sepiring singkong goreng buatan Tante Erni. Malam berlalu terlalu cepat. Terlalu singkat untuk mengiringi obrolan mereka dan kerinduan mereka akan satu sama lain. Tanpa terasa, ayam jantan berkokok dari kejauhan, membuktikan bergulirnya malam yang terlalu cepat untuk mereka berempat. Bersambung ke PART 10: Janji Jenderal Pilik.... ============ Judul : Janji Jendral Pilik PART 10: Janji Jenderal Pilik.... Jakarta, Maret 2003… Kegiatan Noni dan Eko di kampus yang mulai melonggar memungkinkan mereka berempat cukup sering berkumpul. Setidaknya dua minggu sekali mereka menyempatkan untuk bertemu. Dan minggu ini, rumah Keenan yang mendapat giliran. Lena sangat gembira menyambut mereka semua. Sudah lama ia tidak melihat Keenan bergaul dengan teman-teman lamanya. Dan baginya itu pertanda bahwa Keenan mulai kerasan hidup di Jakarta. Saking senangnya, Lena rela membikinkan begitu banyak makanan sampai-sampai meja makannya nyaris tak muat lagi. Empat-empatnya bengong melihat meja makan yang penuh sesak itu. “Ma, kita kan cuma berempat?” tanya Keenan, “Ini sih makanan buat skala kendurian!” “Nggak pa-pa, Tante. Keenan lupa memperhitungkan peliharaan kita semua,” sambar Eko, “Kugy pelihara anakonda, saya pelihara ular naga, Noni punya keluarga singa, Keenan ngasuh rombongan tunawisma—” “Mas Eko!” Jeroen keluar dari kamarnya. “Jeroen?” Eko benar-benar pangling. Anak SMP yang kecil itu kini sudah menjulang tinggi, hampir menyamai tinggi badannya. Jeroen sudah masuk SMA sekarang. “Kamu—pelihara apaan bisa jadi segede gini?” Jeroen terkekeh, “Pelihara grup ronggeng.” Lena mendelik, “Memang nih anak satu. Pacarnya banyak bener. Pusing deh, Tante di rumah merangkap resepsionis. Telepon krang-kring terus nyariin Jeroen. Dan orangnya beda-beda semua.” “Lho, nggak pa-pa, Tante. Itu untuk mengompensasi Abangnya yang nasibnya agak lain. Jadi seimbang,” timpal Eko lagi. Tiba-tiba terdengar suara roda berputar. Ayah Keenan keluar dari kamarnya. Tangannya sudah bergerak lancar memutar roda. Ia tersenyum ramah menyapa semuanya. Walaupun bicaranya agak pelan, tapi artikulasinya sudah jelas dan mendekati normal. Sesampainya di dekat meja, Adri pun minta dibantu berdiri. Ia berjalan hati-hati menuju kursi. “Ayahnya Keenan sekarang sudah bisa jalan lagi, hampir semua sudah bisa kembali seperti dulu, tapi masih pelan-pelan,” Lena menerangkan dengan bangga. Kugy mengamati semua itu dengan saksama. Ini rupanya pengorbanan Keenan. Mudahmudahan memang tidak untuk selamanya—sekalipun itu berarti Keenan mungkin akan pergi lagi entah ke mana. Mendadak muncul sayatan perih lagi di hatinya. Namun Kugy memilih untuk mengindahkan. Malam ini terlalu berharga untuk dilewatkan dengan kepedihan. *** “Kalian duluan, deh. Besok pagi kan kalian masih harus ke Bandung. Biar gua yang nganterin Kugy,” ujar Keenan di beranda depan. “Yakin?” tanya Noni dan Eko hampir berbarengan. “Nggak ngerepotin?” Kugy menyusul bertanya. Keenan menggeleng mantap, lalu melepas keduanya pulang. Tinggal ia, Kugy, dan bebunyian serangga malam. “Gy, saya sebenarnya pingin ngomong sesuatu. Bagi saya, hal ini sangat pribadi, dan hanya menyangkut kita berdua. Makanya saya nggak pingin ngomong di depan Noni dan Eko.” Meski tetap tampil tenang, Kugy kontan tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang. Keenan menatap Kugy dalam-dalam. “Gy, saya harus berterima kasih sama kamu.” “Untuk?” Dan Kugy melihat Keenan mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Benda yang ia bawa sejak mereka beranjak ke serambi tadi. “Kamu sudah meminjamkan sesuatu yang sangat berharga buat saya. Tapi barang ini harus saya kembalikan lagi, karena ini memang milik kamu.” Keenan lalu menyerahkan sebuah buku tulis yang kini sudah kumal. Kugy tercengang, tak percaya ia akan melihat buku itu lagi. “Jenderal Pilik?” tanyanya bergetar. “Buku ini pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup saya,” Keenan berkata lembut, “dan kamu akan tahu kenapa. Saya cuma tidak mau memberi tahu kamu dengan cara yang biasabiasa aja.” Kugy tambah bingung. Buku kumal itu diterimanya dengan perasaan campur aduk, “Jadi… selama ini, kamu menyimpan buku ini terus? Waktu kamu di Bali juga?” “Dan saya baca hampir tiap hari,” Keenan menambahkan. Ia tersenyum. “Kamu sadar nggak? Kamu akan jadi penulis dongeng yang luar biasa.” Kerongkongan Kugy tercekat. Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan hal itu padanya, bahkan menyinggung secuil pun tentang dunia satu itu. Termasuk dirinya sendiri. Tanpa bisa dibendung, air matanya bergulir. Keenan menahan napas melihat pemandangan di hadapannya. Kenangan demi kenangan menerpanya. Kugy memang tak berubah. Bahkan tangisannya tetap yang paling indah bagi Keenan. Air matanya selalu turun dari muara yang paling bening. Namun tak mungkin Keenan mengungkapkannya, kendati ada berjuta hal yang ia ingin lakukan untuk memuja keindahan itu. Dengan tersiksa, ia hanya diam dan menatap. “Saya ingin meminjam satu hal lagi dari kamu,” ucap Keenan separuh berbisik. “Saya ingin meminjam satu hari saja. Saya ingin mengajak kamu ke satu tempat. Kapan kamu bisa, kasih tahu saya. Nanti kamu akan ngerti kenapa buku itu begitu penting buat hidup saya.” Kugy tak paham apa yang Keenan maksud, tapi tak urung kepalanya mengangguk. *** Hari Sabtu pagi. Pukul tujuh kurang lima, Keenan sudah nongkrong di ruang tamu Kugy. Tak lama kemudian, Kugy keluar. Masih dengan rambut basah dan mata yang melek terpaksa. “Ternyata kamu memang serius gilanya. Bener-bener harus jam tujuh, ya?” sapa Kugy dengan jalan yang masih sedikit sempoyongan. “Hari ini cuma ada satu aturan yang berlaku,” ujar Keenan sok tegas, “aturan saya.” “Aku mau diperbudak seperti Eko dan Fuad memperbudakku bertahun-tahun, ya?” tanya Kugy lunglai. =============== “Pokoknya hari ini tugas kamu cuma satu, Gy: percaya sama saya. Oke. Aturan pertama, membawa beberapa baju cadangan. Udah?” Keenan mengecek. “Udah.” “Bagus. Aturan kedua: hp mati. Dari mulai ruang tamu ini, sampai nanti kamu kembali lagi ke sini.” “Siap.” Beberapa menit kemudian, mereka berangkat dari rumah Kugy. Sepanjang jalan, Kugy keasyikan mengobrol sampai-sampai tak sadar mobil itu sudah sampai di mulut tol Cikampek. “Nan,” gumamnya, setelah mendeteksi keanehan yang terjadi, “ngomong-ngomong, kita mau ke mana, sih?” Keenan nyengir. “Tujuan pertama pagi ini: Bandung. Kita jenguk Pilik.” “Ke Bandung? Pilik?” Kugy terperangah. “Horeee!” teriaknya sambil melompat-lompat di tempat duduknya. Satu mobil terguncang-guncang. *** Sudah tiga jam mereka menempuh perjalanan, menembusi jantung kota Bandung, terus ke arah utara. “Nan, aku nggak ngerti,” kata Kugy, “kok, kamu kepikir buat jenguk Pilik segala, sih? Padahal kamu cuma dua kali ketemu mereka. Harusnya ide menjenguk ini munculnya dari aku, guru mereka, yang hampir ketemu tiap hari selama dua tahun.” “Udah, deh,” Keenan menyahut santai, “hal itu juga bagian dari kejutan hari ini.” Mobil Keenan mendekati lokasi kampung Pilik. Jalan setapak menuju Sakola Alit sudah kelihatan. “Aku harus parkir di sini kan, ya?” tanya Keenan ketika melihat plang posyandu yang dulu menjadi patokannya. “Iya… tapi, biasanya ada pos jaga Mang Sukri di sini… ke mana, ya?” Kugy celingukan. Mereka berdua keluar dari mobil. Dulu, di sebelah posyandu itu ada saung dari kayu yang merangkap pos ronda. Saung kayu yang biasanya digawangi oleh Mang Sukri kini sudah tak ada. Posyandu itu pun tampak sepi, tak terawat. Seperti sudah tak terpakai berbulan-bulan. “Gy, daerah ini kayaknya berubah,” gumam Keenan sambil melihat sekeliling. Kugy ikut menebarkan pandangan. Keenan benar. Daerah itu sudah berubah. Jalan setapak menuju Sakola Alit menjadi lebih besar, rumput-rumput pun sudah gundul, seperti sering dilalui kendaraan. Sekumpulan pohon bambu rimbun yang biasanya meneduhi mobil yang parkir di tempat itu sudah tidak ada lagi. Sinar matahari menerpa langsung, membuat semuanya kelihatan lebih gersang. Mereka mulai menapaki jalan. Pemandangan yang mereka temui kian asing saja. Mereka berpapasan dengan banyak pekerja yang mengangkuti pasir, semen, batu-batu. Dan terkejutlah mereka ketika setengah kampung tempat Pilik bermukim sudah rata dengan tanah. Hamparan tanah merah terbentang luas. Tak ada rumah penduduk. Tak ada ladang. Hanya truk-truk besar, mesin beckhoe, dan para pekerja yang hilir mudik di lahan besar itu. Kugy dan Keenan melongo melihat itu semua. Sakola Alit hilang tanpa bekas. Tanpa buang waktu, mereka mencari penduduk yang masih tersisa, dan bertanya sana-sini. “Ieu Neng, bade didamel janten perumahan,” jawab salah satu orang yang berhasil Kugy cegat. Seorang pengangkut kayu bakar. “Rumah-rumah di sini pada ke mana, Pak?” tanya Keenan. “Atos ngaralih, Cep. Sadayana atos digusur,” Bapak itu menjawab seraya merentangkan tangannya. “Ke mana?” desak Kugy lagi. “Duka atuh, Neng. Da paburencay…” Ia mengangkat bahu. “Upami Bapa terang teu Pak Usep ayeuna di mana?” Dengan agak terbata-bata, Kugy berusaha berkomunikasi dalam bahasa Sunda. “Oh. Pak Usep anu gaduh kebon sampeu?” “Muhun, muhun. Anu putrana namina Pilik,” Kugy mengangguk-angguk antusias. “Pak Usep mah kagusur ka caket susukan, Neng.” Dengan prihatin, bapak itu berkata. Kugy tahu benar ‘susukan’ yang dimaksud. Sebuah kali kecil yang nyaris kering dan kotor. Tempat itu tidak terlalu jauh dari pembuangan sampah. “Kamu tahu tempatnya, Gy?” tanya Keenan. Kugy mengangguk. “Kita susul ke sana, yuk,” gumamnya. Ia sudah bisa membayangkan kondisi seperti apa yang dihadapi Pilik dan keluarganya. Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya bergegas pergi. Dan bayangan Kugy tidak salah. Malah lebih buruk. Ada beberapa gubuk yang berdiri di pinggir kali tersebut. Gubuk-gubuk reot yang tak layak disebut rumah. Satu-dua orang tampak lalu lalang di sekitar gubuk. “Itu Pak Usep!” Kugy berseru. “Neng Ugi!” Pak Usep tak kalah terkejut. Ia langsung melongok ke dalam gubuknya, “Bu… bu… kadieu, enggal! Ieu, aya guru-guruna Pilik!” Seorang ibu berdaster lusuh keluar dari situ. Seolah melihat malaikat, ia menghambur ke arah Kugy, memeluknya erat. “Bu Ugi… si Pilik, Bu…” tangisnya serta merta. Tubuhnya berguncang. Pak Usep hanya bisa diam dan tertunduk sedih. Seketika itu juga, Kugy dan Keenan tahu, ada sesuatu yang tidak beres. *** Kembali hanya mereka berdua ditemani embusan angin dan gemerisik bambu. Dari tempat mereka berdiri, kebisingan pembangunan real estate itu hanya terdengar sayup-sayup. Sesekali burung berseliweran, berkicau, lalu hinggap di atas nisan kayu yang terpancang di hadapan mereka berdua. Pilik beristirahat di sana. Sebuah makam seadanya. Yang tersisa hanya kenangan suaranya yang gaduh, larinya yang gesit, rambutnya yang gundul, dan sinar matanya yang cerdas. Semuanya berputar bagaikan ril film dalam kepala Kugy. Sementara seribu satu penyesalan muncul di benak Keenan. ============ Di tangannya, Keenan menggenggam sebuah buku tabungan, yang akan dihadiahkan bagi Pilik dan Sakola Alit. Uang yang ia sisihkan dari hasil penjualan lukisannya selama ini. Dengan getir ia memandangi nisan itu, menyadari betapa ironisnya realitas saat bersanding dengan dunia dongeng. Keindahan dunia Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang terwujudkan dalam semua karyanya, serta kenyataan hidup seorang anak bernama Pilik bin Usep yang harus tergusur karena keluarganya tak punya bukti kepemilikan tanah, harus tinggal dalam sebuah gubuk di pinggir pembuangan sampah, dan menderita tifus tiga bulan yang lalu tanpa mampu mencari pertolongan medis. Pak Usep bilang, tak sampai seminggu, kondisi Pilik turun drastis, dan akhirnya tubuh kecilnya menyerah. Pilik pergi membawa mimpinya untuk bisa masuk SMP. “Coba kalau aku sempat nengokin dia… aku beneran nggak tahu, Nan… aku juga hilang kontak dengan Ami… padahal… Pilik… mestinya dia punya kesempatan… anak itu pintar…” Kugy berkata tersendat-sendat. Harusnya kesempatan itu ada. Keenan terduduk pilu, merangkul Kugy yang bersimpuh sambil terisak. “Aku sering kangen sama Pilik… sama anak-anak… tapi aku udah nggak pernah sempat lagi nengok mereka… aku masih punya satu buku tulis petualangan Pasukan Alit yang bahkan mereka belum sempat baca…” tangis Kugy lagi, lalu membenamkan kepalanya dalam rengkuhan Keenan. Menangiskan semua penyesalan yang tersisa dalam hatinya. “Satu saat mereka pasti baca, Gy,” sahut Keenan lirih, “kamu jangan berhenti menulis.” Sesaat, Keenan merasa terempas kembali ke masa lalu. Kala ia dan Kugy masih berbagi mimpi yang sama. Saat yang mereka butuhkan hanyalah alam dan satu sama lain. Saat sebuah momen sederhana bersama Kugy dapat mengkristal dan hidup lestari dalam hatinya. Namun waktu berjalan dan Bumi berputar, membawa mereka begitu jauh. Realitas dan dongeng terpisahkan tabir yang rasanya tak akan pernah bisa ia tembus. ============ Kugy termenung melihat buku tabungan yang dibawa Keenan. Beraneka ragam perasaan melanda hatinya. Antara haru, terkejut, dan getir. Kugy tak menyangka betapa kisah yang ia tulis telah berperan begitu besar dalam hidup Keenan. Ia terharu dengan kesungguhan Keenan untuk berterima kasih padanya, pada Sakola Alit, dan Pasukan Alit. Namun ia juga getir melihat kenyataan bahwa niat baik mereka semua tak sanggup menolong Jenderal Pilik. “Kamu akan kasih uang ini ke mereka, Nan?” tanya Kugy. “Ya. Ke Pak Usep, Pak Somad, dan semua keluarga Pasukan Alit yang kena gusur,” jawab Keenan tegas, “saya nggak mungkin menyimpannya lagi. Uang ini sudah saya anggap menjadi hak mereka.” “Lalu… kita mau ngapain lagi sekarang?” Kugy mengusap wajahnya. Penat. “Saya masih mau mengajak kamu ke satu tempat. Aturan hari ini masih berlaku, Gy,” Keenan tersenyum sambil mengusap pelan tangan Kugy. Kugy mengangguk pasrah. Ia tak punya cukup tenaga untuk protes. Tak cukup kemauan. Apa pun rencana Keenan, ia hanya ingin diam di mobil dan mengikuti ke mana arah nasib membawanya. Tak lama, mobil SUV itu pergi meninggalkan daerah Bojong Koneng, lalu keluar dari kota Bandung. *** Kugy tertidur separuh terakhir perjalanan entah ke mana itu. Ia hanya tahu bahwa mobil mereka pergi mengarah kota Garut, lalu terus ke Selatan menuju Pameungpeuk. Sisanya ia tak sadarkan diri. Tertidur pulas dengan sandaran jok merebah ke belakang. Matanya terbuka ketika mobil Keenan akhirnya berhenti. Pertama-tama, Kugy melihat angkasa luas yang terbentang dari kaca mobil. Langit berwarna kemerahan. Menyala bagai disulut api. Arakan-arakan awan tampak merona jingga ditelan ufuk Barat. Kedua, Kugy mendengar bunyi deburan ombak yang dahsyat dari arah bawah. Ketiga, Kugy menyadari bahwa Keenan tidak ada di sampingnya. Sontak, Kugy terduduk. Tersadarlah bahwa mobil itu tengah terparkir di atas tebing berumput hijau. Di hadapannya terhampar laut luas. Dan di bawah sana, tampak ombak berputar dan berpusar, saling memecah dan mengempas, menyapu hamparan karang dengan buih putih. Cepat-cepat, Kugy keluar dari mobil. Belum tuntas rasa kagetnya, Kugy masih harus terpana melihat ratusan kelelawar yang tiba-tiba mengepak bersamaan dari bawah tebing, membentuk segomplok awan hitam yang sejenak memenuhi langit. Terkesiap dengan semua keindahan yang mendadak hadir di depan matanya, Kugy hanya bisa terduduk di atas rumput. “Kecil!” Suara Keenan berteriak memanggilnya. Kugy menoleh ke samping. Tampak Keenan melambaikan tangan dari sebuah saung beratapkan ilalang. Kugy langsung berlari kecil menghampirinya. “Nan? Kita sebenarnya di mana, sih?” Kugy bertanya keras. “Selamat datang di Ranca Buaya,” Keenan tersenyum lebar, “ini bagian dari peraturan saya hari ini, yaitu kamu harus rela diculik ke mana pun. Saya pernah ke pantai ini nggak sengaja, bareng Bimo dan anak-anak kampus. Saya langsung jatuh cinta. Bertahun-tahun pingin ke sini lagi, tapi nggak pernah sempat. Baru sekarang bisa kembali lagi. Sama kamu. So, enjoy.” Ia lalu menyorongkan minuman dingin yang dibawanya dalam cool box. Kugy mengambil minuman yang disodorkan Keenan. Muka protesnya perlahan berubah. “Well, Agen Keenan Simalakamania, aku harus mengakui, ini adalah penculikan yang sangat menyenangkan,” Kugy terkekeh, “cheers.” “Cheers.” Keduanya lalu duduk di pinggir tebing, beralaskan rumput dan bertemankan dua minuman kaleng dingin, menikmati matahari terbenam hingga pupus ditelan malam. Menghayati keluasan Samudera India yang membentang dari tempat mereka duduk. Menjelang gelap, SUV itu turun dari tebing, menuju bagian pantai landai tempat beberapa pedagang makanan berjualan. Malam yang masih muda terlihat jernih. Taburan bintang muncul tanpa perlawanan awan. Dan bulan bersinar megah dalam masa purnamanya. “Ini… adalah mie instan paling enak yang pernah aku coba seumur hidup,” komentar Kugy seraya melahap mie rebus yang dipesannya. Ia sudah memasuki mangkok yang kedua. Keenan melirik bungkusan bekas mie instan yang masih tergeletak di meja. “Emang, ada bedanya, ya?” “Jelas ada,” kata Kugy yakin, “faktor pertama adalah nggak makan dari siang, faktor kedua adalah… ini warung dengan pemandangan terindah yang pernah aku kunjungi. Restoran paling mahal di Jakarta aja kalah sama warung ini. Iya, nggak?” “Setuju,” Keenan pun bergerak ke mangkoknya yang kedua, “jadi, nggak nyesel kan diculik?” Kugy berhenti mengunyah. “Kalo boleh tahu, maksud kamu hari ini sebetulnya apa sih, Nan?” Keenan ikut berhenti, sejenak menatap Kugy. “Beresin dulu makannya. Nanti saya kasih tahu. Tapi nggak sekarang, dan nggak di sini.” Mata Kugy langsung membeliak. “Jadi… kita masih pindah tempat lagi?” Keenan mengangguk, “Dua puluh meter ke depan.” *** Pantai Ranca Buaya hampir seluruhnya dibingkai oleh hamparan karang, kecuali satu cerukan yang dipakai sebagai pelabuhan kapal nelayan, yang letaknya persis di depan warung-warung makanan. Dekat dari sana, masih tersisa sebagian kecil pantai kosong yang tidak diparkiri perahu. Di bagian itu, Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan untuk merendam kaki mereka dalam air laut, di atas pasir pecahan kerang berwarna krim kekuningan. Ratusan anak ombak berkilau perak ditimpa sinar bulan. Karang-karang kecil bermunculan, tampak mengkilap disepuh buih ombak. Selain mereka berdua, tak ada lagi orang di sana. ============ Setelah kenyang bermain ombak, Kugy mendamparkan tubuhnya di atas pasir. “Kenyang begini… paling enak tidur,” celetuknya. “Mau dibikinin tempat tidur nggak?” Keenan bertanya. “Gimana caranya?” Keenan melesat ke mobilnya, kembali membawa ember kecil dan sekop. “Ya, ampun! Kamu ada rencana nukang kok bawa sekop segala?” Kugy tergelak. “Nggak usah banyak tanya adalah salah satu aturan yang berlaku hari ini,” Keenan menjawab santai, lalu sibuk mengerjakan sesuatu. “Kamu ngapain, sih?” Masih dalam posisi telentang menghadap langit, Kugy bertanya. Mendadak, tubuhnya terangkat. Keenan menggendongnya tanpa disangka-sangka. “Naaan! Kamu ngapaiiin?” teriak Kugy, spontan. Beberapa detik kemudian, tubuhnya mengempas kembali ke pasir, ke dalam sebuah lubang dangkal. “Ini tempat tidur yang nggak bisa didapatkan di hotel termahal sekalipun. Tempat tidur pasir. Alamiah dan juga terapeutik karena punya efek refleksiologis,” seperti tukang obat Keenan menerangkan, sambil terus menimbuni Kugy dengan pasir yang disendoknya dengan ember. Yang dikubur tidak protes, malah terkikik-kikik geli. Butiran pasir yang menghambur menggelitik saraf-saraf kulitnya. “Gimana tempat tidurnya, Madam? Asyik, kan?” Keenan tersenyum penuh kemenangan. “Hotel bintang lima lewaaat…” desah Kugy seraya memejamkan mata. Setelah tubuhnya tertimbun pasir, Keenan lalu ikut berbaring di sebelahnya. “Jelas lewatlah. Ini namanya hotel bintang sejuta,” sahut Keenan, “room service-nya Indomie rebus sama teh tawar, luas kamar seluas-luasnya, tempat tidur refleksi, dan live music nonstop… suara ombak. Lagu alam paling merdu.” Kugy sontak menoleh. “Kamu kok—?” “Kamu boleh menganggap ini hadiah ulang tahun tertunda, kamu boleh menganggap ini perayaan kecil reuni kita berdua, kamu boleh menganggap ini apa pun…” Keenan beringsut mendekat, menatap lekat Kugy yang telentang tertutup pasir, “yang jelas, ini ungkapan terima kasih untuk semua inspirasi berharga yang sudah kamu kasih untuk saya.” Kugy merasa sekujur tubuhnya kaku. Dan timbunan pasir yang mengurungnya semakin membuat ia merasa tak berdaya. Tak bisa bergerak, tak juga bicara, hanya menatap balik wajah Keenan yang memayunginya dengan jarak yang begitu dekat. “Kecil… saya selalu ingat kata-kata kamu. Kamu paling suka sama suara ombak. Moga-moga kamu senang ya di sini,” lanjut Keenan lagi. “Ini—” Kugy hampir tak sanggup melanjutkan, “ini hadiah paling indah yang pernah aku terima seumur-umur. Makasih, ya.” Keenan menggeleng, “Saya yang berterima kasih, Gy. Dan saya masih punya satu hadiah lagi. Aturannya juga sama, kamu harus percaya sama apa yang kusuruh. Oke? Sekarang, tutup mata.” Kugy menurut meski gugup bukan main. Dalam kondisi mata terpejam, ia dapat jelas merasakan wajah Keenan mendekat. Napasnya yang terasa hangat meniupi kulit mukanya. Jantungnya berdebar kencang dan rasanya ia ingin mencelat keluar dari tempat tidur pasirnya, tapi Kugy sungguhan tidak sanggup bergerak. “Buka mulut kamu…” Dengan lembut, Keenan meminta. Ragu, Kugy membuka mulutnya perlahan. Sesuatu menyentuh bibirnya, dan memasuki rongga mulutnya. Kugy hafal bau itu. Napasnya yang tadi tertahan seketika melega. Tapi ia tak bisa bicara lagi karena sudah mulutnya sudah penuh terjejal. “Pisang susu kesukaanmu,” Keenan tertawa kecil. “Saya bawa sesisir, tuh.” Sambil mengunyah, Kugy berkomentar, “Panitianya canggih, nih. Kamu kok ingat semuanya sih, Nan?” Keenan menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun menyerupai antena. “Radar Neptunus,” celetuknya ringan. “Oke, rekan agenku. Main course udah, sekarang dessert, terus apa lagi sesudah ini?” tanya Kugy. Air muka Keenan berubah serius. “Gy, perjalanan ke sini kan butuh enam jam dari Bandung. Tiga jam lagi ke Jakartanya. Kalau kita paksakan malam ini pasti capek banget. Gimana kalau kita pulang besok subuh menjelang sunrise?” “Terus, kita tidur di mana? Nggak beneran di ‘tempat tidur’ ini, kan?” “Tenang. Saya penculik bertanggung jawab, kok,” Keenan pergi lagi ke mobilnya, kembali membawa dua sleeping bag. “Kita bisa gelar ini di saung belakang, atau di pantai juga boleh. Terserah kamu, Madam Kecil.” “Hmm… hmmm…” Kugy berpikir-pikir, “kalau aku sih pinginnya di sini, tapi, aman nggak, ya?” “Aman,” jawab Keenan mantap, “panitia penculikan juga sudah mengantisipasi soal keamanan.” “Oh, ya? Gimana caranya?” “Berdoa.” *** Tak ada yang membangunkannya. Kugy membuka mata dan menemukan langit yang sudah semu kemerahan. Cepat-cepat ia mengeluarkan diri dari sleeping bag. Saat ia menoleh ke samping, sleeping bag Keenan sudah tergulung rapi, dan penghuninya entah ada di mana. Kugy pun berjalan mendekati pantai. Angkasa seperti terbelah dua. Semu kemerahan di ufuk timur, dan sebagian lagi masih biru tua, menyisakan jejak malam dan kawanan bintang. Sementara bulan masih menyala perak. Bundar bagaikan sebutir mutiara di tengah luasnya langit. Tak jauh darinya, tampak siluet Keenan tengah berdiri menghadap pantai. Menyadari Kugy yang ada di dekatnya, Keenan pun menoleh. Mendapatkan Kugy yang samar diterangi sinar bulan, tersenyum padanya. Rambutnya yang halus berkibar ditiup angin. Di matanya, keindahan pagi yang sejak tadi ia nikmati tiba-tiba memperoleh saingan. “Selamat pagi, Madam Kecil.” “Pagi, Meneer Penculik,” Kugy menyapa balik seraya berjalan ke sisi Keenan. ================= “Sini, deh,” Keenan menarik tangan Kugy lembut, “aturan terakhir yang nggak boleh kamu protes. Izinkan saya seperti ini sebentar aja,” bisiknya, lalu perlahan Keenan bergerak ke belakang punggung Kugy, merangkulkan kedua tangannya, memeluk Kugy dari belakang. Di kupingnya, Keenan berkata, “Ke mana pun hidup membawa kita berdua, saya harus jujur, karya kamu menjadi inspirasi terbesar saya. Kalau boleh, saya ingin terus berbagi karya dengan kamu. Kugy, Kecil, mau nggak kamu nulis dongeng lagi?” Kugy menelan ludah. “Aku mau, asal kamu mau melukis lagi.” “Aku mau. Demi Pilik,” bisik Keenan. Demi kamu. “Demi Pilik,” Kugy balas berbisik. Dan demi kamu. Keheningan seakan memiliki jantung. Denyutnya terasa satu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sejenak berayun di udara, lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir, sampai akhirnya berlabuh di hati. Tanpa disadari, Keenan memperat pelukannya. Menikmati denyutan hening. Karena hanya saat mereka bersama, ia bisa mencicipi keabadian. Meski hanya sesaat. *** Noni mengerutkan kening saat melihat nomor tak dikenal menghubungi ponselnya. Namun ia memutuskan untuk mengangkatnya. “Halo?” “Hai. Ini dengan Noni?” Suara cowok yang tidak ia kenal. “Iya, betul,” kata Noni, “ini dengan siapa?” “Ini Remi…” Remi berpikir sejenak, “mmm… pacarnya Kugy.” “Oh!” Noni kaget sendiri. Nama itu tidak asing. Kugy sudah menyebutkannya berkali-kali. Yang ia tidak sangka-sangka adalah Remi meneleponnya tanpa hujan tanpa angin. Pukul sebelas malam. “Maaf ya ganggu malam-malam, saya tadi dapat nomor telepon kamu dari adiknya Kugy. Mau tanya, kira-kira kamu tahu nggak Kugy di mana? Seharian ini hp-nya nggak aktif, dan orang rumahnya nggak ada yang tahu dia pergi ke mana.” “Wah, saya juga nggak tahu,” kata Noni jujur. “Kata adiknya, Kugy lagi sering ngumpul sama teman-teman kampusnya. Barangkali Noni tahu sesuatu?” “Sebetulnya yang dimaksud Keshia dengan ‘teman kampus’ itu ya termasuk saya juga, sih,” sahut Noni sambil nyengir, “kita dulu punya geng berempat gitu, Mas Remi. Belakangan memang lumayan sering main bareng lagi. Tapi hari ini setahu saya nggak ada jadwal ngumpul, tuh.” “Ke mana ya dia? Kok sampai ngilang tanpa kabar?” tanya Remi cemas. “Mas Remi, kalo kata aku, Kugy pasti baik-baik aja. Dia kan memang suka aneh. Besok paling juga udah muncul lagi,” Noni terkekeh. Entah mengapa, omongan Noni tidak membuat Remi bertambah tenang. Sebaliknya, kepalanya justru makin pusing. ============== Sesampainya di rumah, yang pertama kali Kugy lakukan adalah menelepon Remi. Dan reaksi pertama yang ia terima adalah dimarahi. “Kamu sadar apa yang kamu perbuat pada saya?” tanya Remi dengan suara tertahan. Jelas ia berusaha meredam emosinya, yang andai saja bisa dilepas, barangkali ia sudah berkata-kata dengan nada tinggi. “Kamu udah nyiksa saya. Bikin saya stres, nggak bisa ngapa-ngapain, selain nyariin kamu ke siapa pun yang saya bisa, selain nunggu kabar dari kamu—yang saya tunggu sampai subuh dan belum ada juga.” Kugy terkesiap. “Remi… sori…” “Kamu sadar, nggak? Satu menit telepon dari kamu, bahkan tiga puluh detik aja, akan membuat keadaan ini jauh berbeda.” “Iya… aku tahu… tapi…” “Kamu keterlaluan, Gy.” Remi berkata dingin, tapi menusuk. “Semuanya mendadak, Remi. Aku ke Bandung… dan tahu-tahu bekas muridku meninggal… jadi aku…” “Oke, Gy, apa pun alasan kamu, aku terima. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Apa yang bikin kamu sampai nggak kasih kabar sama sekali? Apa yang terjadi sampai hp kamu nggak aktif sehari semalam?” “Soalnya…” Kugy memejamkan mata kuat-kuat. Aku nggak mungkin bilang. “Soalnya hp-ku ketinggalan di kamar,” kata-kata itu akhirnya meluncur, “dalam keadaan mati. Sori. Aku memang teledor.” Terdengar sunyi dari ujung sana, lalu helaan napas panjang. “Sekali lagi kamu ngilang begitu, Gy, dan ada apa-apa dengan kamu, saya nggak yakin bisa memaafkan diri saya sendiri.” “Remi… aku nggak kenapa-napa, kok…” “Dan gimana caranya saya tahu itu kalau kamu nggak bisa dihubungi? Percuma, Gy.” Kugy tak bisa berkata apa-apa. “Gy, satu hari kamu akan sadar bahwa saya nggak bisa kehilangan kamu. Kamu… terlalu berharga buat saya. Kamu nggak bisa membayangkan betapa kesiksanya saya kemarin. Tolong, jangan pernah lagi kamu ngilang kayak gitu.” Tanpa bisa Kugy kendalikan, air mata tahu-tahu saja merembesi pipinya. Ucapan Remi menyadarkannya akan sesuatu. “Ya, udah. Yang penting kamu udah kembali. Nggak ada yang lebih penting dari itu,” Remi berkata, seolah menasihati dirinya sendiri, “kamu sehat, Sayang? Capek? Masih sedih?” “Aku baik-baik,” Kugy berkata dengan nada tertekan, berusaha meredam jejak tangisnya. “Nanti malam saya ke rumah, ya.” “Iya. Aku tunggu, ya,” Kugy menyahut. Dan begitu telepon dari Remi berakhir, ia terduduk lama, mengusapi air matanya yang turun satu-satu, tapi seperti tak mau berhenti. Ia menyadari, semalam ia telah berkesempatan untuk pulang ke negeri dongengnya. Sebuah dunia yang sempurna dan perasaan cinta yang rasanya abadi. Namun, inilah kenyataan yang sesungguhnya. Inilah hidup yang ia jalani. Meski tak seindah negeri dongeng, tapi dirinya sudah memilih. Pahit, Kugy menyadari bahwa Keenan hanyalah pangeran negeri dongengnya. Kisah mereka berdua hidup dalam khayalan indah yang tak mungkin terwujud. Remi adalah kenyataannya. Dekat, terjangkau, dan jelas-jelas mencintainya. Kugy tidak yakin bisa memaafkan dirinya sendiri jika ia harus menyakiti Remi. Ketidakjujurannya kali ini sudah lebih dari cukup. *** Hari Senin. Menjelang pulang kantor, Keenan tidak tahan lagi. Setelah menahan berjam-jam tidak menghubungi anak satu itu, sistem tubuhnya seolah mengisyaratkan kehausan yang amat sangat. Sekadar untuk mendengar suaranya, tawanya, cekikiknya. Ia lantas menghubungi ponselnya. “Hai, Madam Kecil. Lagi ngapain?” “Meneer Penculik!” Suara itu terdengar begitu riang. “Aku masih di kantor. Dan baru mikirin kamu. Tadinya aku mau sms.” “Oh, ya?” Gantian suara Keenan yang menjadi riang. “Ada apa, Gy?” “Siap-siap, ya,” Kugy berdehem, “hari ini… aku nulis lagi! Serial Jenderal Pilik is baaack!” teriaknya. Bola mata Keenan seketika berbinar-binar. Sesuatu tersulut dalam hatinya begitu mendengar teriakan Kugy. “Gy, saya punya ide, dengar baik-baik ya, nanti kasih tahu pendapat kamu, sejujur-jujurnya…” kata Keenan serius. “Setiap kamu selesai menulis satu kisah, saya akan membuatkan ilustrasinya dalam bentuk lukisan. Saya nggak tahu persis gimana bentuk akhirnya, entah jadi buku atau pameran, atau keduanya, yang jelas kita kerja bareng. Selama ini Jenderal Pilik cuma dikenal lewat lukisan saya aja, tapi orang-orang nggak tahu ide pelopornya apa. Menurut saya, sudah saatnya kamu juga tampil keluar, sebagai pencipta serial cerita Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.” Kugy terenyak. “Jadi—kita—punya karya bersama?” ucapnya tak percaya. “Kugy, sebelum kamu tahu pun, bagi saya, kita sudah berkarya bersama. Bedanya, kali ini kita melangkah bareng-bareng. Itu pun kalau kamu memang bersedia, Gy. Akan jadi satu kehormatan besar buat saya.” Dengan penuh kesungguhan, Keenan berkata. Lama Kugy tidak menyahut. Ia butuh waktu untuk mencerna semua itu. Mendadak, impiannya terasa mendekat, terasa mungkin. Sesuatu yang tadinya ia pikir terlalu tinggi dan muluk, tiba-tiba membumi. Berada tepat di hadapan. Dan yang ia butuhkan hanya keberanian untuk melangkah. “Oke. Kapan kita mulai?” Mantap, Kugy akhirnya bersuara. =================== Jakarta, April 2003… Dibutuhkan seminggu untuk Kugy menyelesaikan setiap seri Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dan itu mengharuskan Keenan untuk menjemput naskah baru setiap minggunya. Khusus untuk serial satu ini, Kugy menulis dengan tangan dalam buku tulis, sebagaimana yang dilakukannya di Sakola Alit dulu. Baru setelah itu, Keenan menyuruh sekretarisnya untuk mentranskrip naskah Kugy ke dalam dokumen komputer. Dibutuhkan banyak jam di kantor yang seharusnya diperuntukkan untuk bekerja, tapi kini Kugy bajak untuk berkhayal dan menulis serialnya. Omongan-omongan sumbang mulai muncul dari sana-sini. Sindiran-sindiran halus menjadi rutinitas baru yang ia terima setiap hari. “Yah, gitu deh, fenomena anak bau kencur, semangatnya juga tai-tai ayam.” “Otak brilian tapi nggak didukung profesionalisme sama aja bo’ong.” “Prodigy ternyata punya jadwal kadaluarsa juga, ya.” Dan kuping Remilah yang paling panas mendengar semua itu. Ia tahu persis kemampuan Kugy. Kalau saja anak itu sedikit berusaha, semua pekerjaannya akan kelar dalam sekejap mata. Masalahnya, fokus Kugy tersedot tanpa sisa untuk sesuatu yang ia tidak tahu. Jika di kantor, Kugy selalu kedapatan bekerja di mejanya dengan sungguh-sungguh, tapi tugasnya tidak ada yang selesai. Hari ini Remi terpaksa menegur Kugy. “Gy, saya udah nggak bisa minta waktu tambahan lagi ke klien. Mereka udah harus syuting seminggu lagi. Nggak bisa enggak. Tapi sampai sekarang, storyboard belum ada, konsepnya juga masih gonta-ganti melulu. Kamu kan project leader. Keputusan harus datang dari kamu. Kalo kamu nggak bisa fokus, satu tim kamu berantakan.” Kugy bergeming menatap Remi. Entah bagaimana harus mengatakannya, bahwa ia memang belum mengerjakan apa pun sampai detik ini. Entah bagaimana bisa mengungkapkan bahwa Remi sudah saatnya untuk tidak terlalu bergantung padanya, tidak terus-terusan menjadikannya project leader, karena Kugy sendiri tidak bisa mengendalikan energi dan perhatiannya yang terisap ke dalam pusaran kuat dimensi Jenderal Pilik. Rasanya ia seperti zombie di kantor. Tubuhnya ada di sana, tapi cangkang kosong belaka. Sementara isinya berada di tempat lain, mengerjakan hal lain. “Kamu ada masalah apa, sih?” tanya Remi lagi. Mata Kugy mulai berkedip-kedip, tanda ia berpikir keras. “Aku sedang ada proyek baru…” katanya pelan. “Proyek?” Remi mengerutkan alis. “Aku sedang bikin serial dongeng.” Remi seketika mengembuskan napas panjang, mengusap-usap wajahnya. “Gy, kayaknya saya nggak perlu mengingatkan kamu soal prioritas. Kamu udah cukup gede untuk bisa menyusun skala prioritas kamu sendiri. Yang saya khawatirkan, kamu nggak bisa memilah antara profesi dan… hobi,” ujarnya tajam, “saya nggak kepingin ngomong begini. Tapi kamu digaji di sini untuk menciptakan konsep iklan, bukan jadi penulis dongeng. Terserah kalau di rumah kamu mau menghabiskan semalam suntuk untuk bikin dongeng. Tapi bukan di sini. Tugas kamu di sini adalah memenuhi target dan deadline kamu… tepat waktu.” Kugy hanya bisa diam. Ia sadar diri, posisinya sangat lemah. Tidak ada gunanya membela diri. Dari kaca mata apa pun, ia jelas bersalah karena mengesampingkan pekerjaannya. “Jadi kapan storyboard bisa beres?” “Secepatnya.” “Sore ini. Sebelum jam enam.” Tegas, Remi menutup pembicaraan mereka. *** Pukul setengah enam sore, Kugy menyerahkan hasil pekerjaannya. Remi membolak-balik sketsa-sketsa itu. “Ternyata… kalau memang kamu mau, kamu bisa, kan?” katanya sambil tersenyum kecil. Kugy balas tersenyum. Tawar. “Malam ini kita dinner, yuk? Seafood?” Kugy mengangguk. Samar. Malam itu, di restoran seafood langganan mereka, Remi memutuskan untuk mendesak Kugy agar bicara sejujur-jujurnya. Digenggamnya kedua tangan Kugy erat-erat, “Kali ini, kamu harus terbuka, ya,” ucapnya sungguh-sungguh, “sebetulnya kamu punya masalah apa?” Kugy menatap Remi, kembali dengan tatapan yang sama. Begitu banyak yang ingin terucap, tapi tidak bisa diungkap. Ia tidak yakin Remi akan mengerti. “Nggak ada masalah. Aku cuma keasyikan nulis dongeng. Kamu benar, kok. Masalah saya barangkali hanya nggak bisa memilah mana hobi dan mana profesi. “Gy, sebenarnya kamu masalah nggak dengan kondisi kita yang sekantor?” Kugy menggeleng perlahan. “Sekantor dengan kamu memang mengundang banyak tantangan, tapi nggak pernah jadi masalah buatku,” gumamnya. “Kamu nggak ada masalah dengan siapa pun di kantor?” “Nggak, sama sekali,” jawab Kugy lagi. “Kamu udah nggak betah kerja?” Kali ini Kugy tertohok. Ia merasakan kebenaran dalam kalimat Remi. “Dari kecil, satu-satunya yang aku kepingin hanyalah jadi penulis dongeng,” akhirnya Kugy berusaha menguraikan kejujuran yang selama ini begitu sukar ia bagi, “aku tahu, kedengarannya pasti konyol, bego, infantil. Mana ada orang sampai umur segini masih punya cita-cita kayak gitu. Mungkin aku juga kedengaran nggak tahu diri. Aku punya kerjaan sebagus ini, tapi malah disia-siakan. Tapi… belakangan ini, aku menyadari sesuatu. Aku nggak bisa maksain diri menyukai apa yang sebetulnya bukan minatku, walaupun aku mampu. Aku juga nggak bisa pura-pura lupa dengan cita-citaku, impianku. Biarpun satu dunia ngegoblok-goblokin aku, tapi… memang ini yang aku mau. Aku pingin jadi penulis dongeng. Dari dulu sampai sekarang… nggak berubah.” ========== “Jadi, demi cita-cita itu, kamu mau mengorbankan karier kamu?” Remi bertanya hati-hati. “Kalau memang perlu, iya, aku mau,” Kugy mengangguk pasti. “Kalau ada satu celah kecil untuk aku bisa mewujudkan impianku, pasti aku akan kejar. Dan untuk itu, aku rela meninggalkan kerjaanku sekarang. Dan, Remi, celah itu akhirnya ada. Aku memang belum bisa cerita banyak. Tapi, yang jelas, aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.” “Kamu yakin?” desak Remi lagi. “Aku yakin, satu saat, apa yang sekarang kamu bilang hobi, akhirnya bisa jadi profesiku yang baru. Barangkali uangnya nggak banyak, tapi aku nggak peduli,” Kugy menghela napas, “mungkin kamu nggak bakalan pernah ngerti—” “Saya ngerti,” sergah Remi. “Saya justru sangat mengerti,” ulangnya penuh penekanan. “Kamu mau resign, Gy?” Tatapan Kugy berubah nanar. Dalam sekejap, semua yang telah ia lewati terkilas balik dalam benaknya. Setahun terakhir kariernya di AdVocaDo, pertemuannya dengan Remi, semua konsep yang berhasil ia cetuskan, semua proyek yang berhasil ia pimpin, begadang bermalam-malam, hari-hari kurang tidur, arisan toilet, perahu kertas yang dititipkan Remi padanya, malam bersejarah di pinggir Pantai Ancol, dan kini ia harus kembali berhadapan dengan Remi untuk satu keputusan besar. Meninggalkan AdVocaDo. Tempat ia bersuaka saat ingin meninggalkan kehidupan lamanya di Bandung. Dengan berat, Kugy mengangguk. “Aku merasa lebih baik tidak bertahan.” “Saya nggak akan menghalangi kamu.” Seketika, ada beban raksasa yang terangkat dari hatinya. Kugy sendiri tidak menyangka sedemikian besar arti keputusannya itu. Senyum cerah terbit alamiah di wajahnya. Sekujur tubuhnya terasa hangat. Ia menggenggam balik tangan Remi, mengecupnya. “Remi… makasih kamu udah mengerti. Aku nggak tahu lagi harus bilang apa.” “Kamu memang nggak perlu bilang apa-apa. Sebagai atasan, saya sedih karena kehilangan salah stau anak buah terbaik. Tapi sebagai orang yang mencintai kamu, saya bahagia karena kamu berhasil memilih yang terbaik untuk hidup kamu,” Remi tersenyum lembut. “Aku akan menyelesaikan semua proyek yang udah setengah jalan. Baru sesudah itu aku resmi mengundurkan diri. Kalo gitu gimana, Sayang?” Kugy bertanya dengan ekspresi jenaka. Remi menggeleng. “Kalo cuma itu patokannya, seminggu lagi juga kamu udah bisa kelarin semuanya. Kamu… akan aku tahan sampai… hmm,” Remi senyum-senyum kecil, “sampai outing kantor ke Bali. Bulan Mei ini.” “Oho-ho, kalo urusan outing sih, udah nggak jadi pegawai pun aku dengan nggak tahu malunya bakal tetap ikutan,” Kugy terbahak. Sisa malam pun mengalir dengan indah. Remi sendiri tersadar akan sesuatu malam ini. Keputusan Kugy untuk keluar dari AdVocaDo ternyata melegakan hatinya, tanpa ia duga-duga. Untuk pertama kalinya, Remi merasa bebas untuk mencintai Kugy tanpa ada beban apa-apa. Untuk pertama kalinya, ia terbebas dari keterikatan profesional yang selama ini membayangi hubungan mereka. Dan malam itu, tekadnya semakin bulat untuk membahagiakan dan mendukung Kugy, ke mana pun kekasihnya ingin melangkah dan menggapai impiannya. Dari sekian bulan mereka resmi berpacaran, Remi belum pernah sebahagia dan seringan ini melangkah. Ubud, April 2003… “Poyan…” Luhde memanggil pamannya hati-hati. “Ada apa, De?” Luhde sejenak ragu untuk meneruskan atau tidak. Sudah berbulan-bulan ia tidak melihat Keenan. Sementara, selama setahun kemarin mereka bertemu setiap hari tanpa kecuali. Hatinya tersiksa bukan main. Rindunya seolah tak terperi. Dan ia menyadari segala keterbatasan kondisi mereka. Namun rasanya Luhde tak mampu bertahan sebegini lama tanpa bertemu Keenan. Walaupun hanya sebentar. “Jakarta itu seberapa jauh dari sini, Poyan?” “Kalau naik pesawat hanya satu setengah jam,” kata pamannya sambil terus melukis. Luhde teringat tabungannya yang tak seberapa. “Kalau dengan bus?” “Sehari semalam,” kata Wayan lagi. Ia lantas melirik keponakannya. “Kamu mau ke Jakarta? Buat apa? Nggak ada gunanya. Lebih baik di sini, menunggu Keenan yang datang,” katanya langsung. Dalam hati, Luhde terperanjat mendengar omongan yang tak disangka-sangka itu. Cepat-cepat, ia menyelinap keluar dari studio pamannya. ================ Selat Sunda, Mei 2003… Tekad hatinya bulat sudah. Dengan mengandalkan semua tabungannya, Luhde berangkat naik bus ke Jakarta. Poyan sedang pergi ke Lombok selama seminggu, dan itulah kesempatannya untuk melaksanakan perjalanan nekat ini. Dini hari, sambil memandangi lautan dari atas feri yang menyeberangkannya ke Pulau Jawa, Luhde meringkuk sendirian di atas kursi kayu di dek kapal. Menutupi kakinya yang kedinginan dengan jaket. Seumur hidupnya, belum pernah ia menginjakkan kaki ke luar Pulau Bali. Ia tidak punya secercah bayangan pun tentang kondisi kota Jakarta selain apa yang dilihatnya di teve. Hanya satu carik kertas bertuliskan alamat rumah Keenanlah yang menjadi patokannya. Luhde hanya bisa berdoa, ia terlindungi selama perjalanan ini. Luhde memejamkan mata. Berusaha tidak memikirkan hal-hal lain kecuali berada di rumah Keenan sore nanti. Jakarta, Mei 2003… Uangnya hanya tersisa seratus ribu rupiah. Luhde tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat jika ia sampai tidak menemukan alamat rumah Keenan. Dengan segala keletihan akibat perjalanan panjang dan jantung yang berdebar-debar tegang, Luhde memencet bel rumah serba putih itu. Seorang perempuan membuka pintu. Luhde kenal betul wajah itu. “Selamat sore, Ibu,” sapanya sopan. Satu tangannya menenteng tas berisi baju, satu tangannya lagi menenteng kantong plastik berisi oleh-oleh. Lena menatap gadis di hadapannya. Nyaris tak percaya. “Kamu—keponakannya Wayan, kan? Luhde?” “Betul, Bu,” Luhde menjawab. Lega bukan main. Nasibnya terselamatkan sudah. *** Keenan seperti melihat hantu ketika mendapatkan Luhde berdiri di teras depan rumahnya. Berdiri santun menyambut kedatangannya. Sementara ia hampir saja menabrak tembok garasi saking kagetnya. Tergopoh-gopoh, Keenan turun dari mobil. “Luhde?” desis Keenan. Melihat Keenan kembali di hadapannya, Luhde bahkan tak mampu bergerak. Hanya bola matanya saja yang kian bersinar mengikuti setiap gerak Keenan yang melangkah mendekatinya. “Kamu—kenapa bisa ada di sini?” tanya Keenan takjub. Perlahan, mengelus pipi Luhde, seolaholah ingin meyakinkan sekali lagi bahwa Luhde memang ada. Gadis itu tersenyum, lalu mengambil tas komputer yang tersampir di bahu Keenan. “Mari, biar saya yang bawakan.” Detik itu juga Keenan langsung mendekap Luhde. *** Minggu malam. Hari ini telah menjadi hari penjemputan naskah. Sebuah ritual yang ditunggutunggu Kugy setiap minggunya. Keenan akan muncul di depan pintu, dan Keshia, adiknya, langsung mengeluarkan sejuta gaya demi menarik perhatian Keenan yang ditaksirnya diamdiam, dan Kugy akan punya bahan ejekan baru yang bisa dipakainya untuk mengerjai Keshia. Sementara dirinya sendiri diam-diam punya kesempatan mengisi baterai hati untuk seminggu ke depan. Kugy tak sabar menunggu Minggu malam tiba. Namun Kugy merasa ada yang aneh dengan hari Minggu ini. Sejak pagi hingga petang, ia belum mendapat kabar apa-apa dari Keenan. Akhirnya Kugy memutuskan untuk menelepon duluan. “Halo, rekan agen. Udah siap tugas belum?” Kugy menyapa ceria. “Hai, Gy.” Suara Keenan terdengar kaku. “Jam berapa mau ke sini, Nan?” tanya Kugy lagi. “Mmm…” Keenan mengembuskan napas berat dan panjang. “Malam ini saya nggak bisa, Gy. Mungkin baru minggu depan. Maaf, ya.” Kugy tiba-tiba merasa dadanya sesak. Suara Keenan terdengar begitu jauh sekarang, seolah terpisahnya banyak sekat. “Oke, minggu depan juga nggak apa-apa. Tapi, kalau boleh tahu, kenapa kok kamu nggak bisa malam ini? Ada urusan?” “Saya ada tamu dari Bali,” Keenan berkata, canggung, “pacar saya yang dari Ubud.” “Oooh…” gumam Kugy panjang. Sama sekali tidak menyangka. Matanya terpejam sebentar, mencari kekuatan. “No problemo!” dalam hati Kugy bangga dengan nada suaranya yang terdengar wajar, “tapi, berarti kita agak mulur, ya. Soalnya, minggu depan malah aku yang pergi.” “Oh, ya? Ke mana?” “Ada acara outing bareng kantor, ke Bali.” Bali? Keenan menelan ludah. “Nggak masalah, Gy,” kata Keenan dengan nada serileks mungkin, “mungkin sesudah kamu pulang, saya bisa kasih kamu kabar baik.” Otot Kugy menegang. Kabar baik, katanya? Kugy menjerit dalam hati. Jangan-jangan… “Saya berhasil menghubungi salah satu kolektor lukisanku yang punya penerbitan buku. Dia sangat tertarik waktu saya kasih tahu soal proyek kita. Dan dia fans berat Jenderal Pilik sejak lama. Kalau memang ternyata dia tertarik menerbitkan, berarti kita makin dekat lagi dengan impian kita punya karya bareng,” Keenan menerangkan dengan semangat. Senyum lebar seketika menghiasi wajah Kugy. “Nan, andaikan aku mercon, sekarang aku udah meledak, nih.” “Untung bukan,” Keenan terkekeh, “kalo kamu hancur berantakan, proyek ini juga bubar jalan.” Kugy ikut tertawa. “Ya udah, deh. Sampai ketemu dua minggu lagi, berarti. Salam buat…?” “Luhde.” “Ya. Salam buat Luhde,” Kugy mengulang. “Oke. Dah, Kecil.” =============== “Dah.” Kugy menutup telepon rumahnya pelan-pelan. Ia tahu, ia bahagia bukan main mendengar kabar dari Keenan tentang kemungkinan serialnya diterbitkan menjadi buku. Namun pada saat yang bersamaan, percakapan tadi juga membuatnya sedih. Lagi-lagi, Kugy merasa tertampar oleh kenyataan. Seakan hidup ingin mengingatkannya bahwa ada sekat antara mereka berdua yang tak ditembus. Dan ia hanya bisa menerima dan mengikhlaskannya. Hati mereka telah memilih. *** Di gazebo taman rumah Keenan, mereka duduk berdua. Menikmati tiupan angin malam Jakarta yang hawanya sedang suam-suam. “Kamu kepanasan, ya,” ujar Keenan sambil menyeka butir keringat di pelipis Luhde. “Angin di sini nggak seperti di Ubud.” “Memang enggak. Tapi rasanya malah lebih enak,” ucapnya sambil melirik Keenan malu-malu, “soalnya bisa dekat dengan kamu.” “Saya merasa bersalah sama kamu.” “Lho? Kenapa?” Luhde bertanya heran. “De, saya di sini kerja. Ngantor. Nggak seperti di Ubud. Kita bisa bareng terus seharian. Kamu udah hampir tiga hari di Jakarta, belum satu kali pun saya sempat ngajak kamu jalan-jalan. Kamu cuma nungguin saya pulang kantor setiap hari.” “Saya sama sekali nggak keberatan,” sela Luhde, “saya senang di sini. Bisa bantu meme-nya Keenan. Jeroen juga baik. Saya sering diajak jalan-jalan di sekitar sini. Dan, biar hanya tigaempat jam sehari saya bisa ketemu Keenan, sudah lebih dari cukup. Keenan jangan merasa bersalah. Saya yang datang mendadak, di hari kerja, jadi memang sudah risiko saya.” “Luhde, Luhde…” Keenan geleng-geleng kepala seraya mengelus-elus rambut Luhde yang tergerai. “Saya masih nggak habis pikir, kamu kok bisa nekat ke Jakarta sendirian. Gimana kalau Poyan tahu?” “Saya akan pulang sebelum Poyan kembali dari Lombok,” sahut Luhde cepat. “Kapan Poyan pulang?” “Tiga hari lagi. Lusa saya pulang, pakai bus, jadi sebelum Poyan sampai—” “Lusa kamu pulang. Dan tidak boleh lagi pakai bus,” potong Keenan tegas. Luhde menatap Keenan, cemas. Bagaimana mungkin, uangnya bahkan tak cukup untuk naik bus yang nyaman. “Kamu akan saya antar. Kita ke Bali pakai pesawat,” Keenan melanjutkan. Mata Luhde membundar. “Keenan—akan ikut ke Bali?” Keenan tertawa kecil sambil mengangkat bahu. “Daripada kita di Jakarta berhari-hari dan cuma punya waktu bareng tiga-empat jam, lebih baik saya yang ke Bali. Biar saya di sana cuma sebentar, tapi kita akan punya waktu seharian. Saya janji, nggak akan membocorkan rahasia ini pada Poyan. Asal kamu mengizinkan saya mengantar ke Lodtunduh.” “Kalau saya petasan, sekarang ini saya sudah meledak saking bahagianya,” cetus Luhde, pipinya bersemu merah. Keenan terkesiap. Baru semalam, ia mendengar kalimat serupa terlontar dari mulut Kugy. Entah apa artinya ini. Sanur, Mei 2008… Matahari yang terik membuat pipi Kugy seperti tomat ranum. Sudah seharian ia dijemur, tapi anak itu tidak terganggu. Ia tetap lincah ke sana kemari mencoba segala macam permainan. Sehabis melayang-layang di udara dengan parasailing, ia mencemplung ke laut dengan banana boat yang terguling dua kali, mencoba jet ski, dan apa saja yang tersedia. Kuugy dengan semangat mencoba semuanya. “Perhatian, teman-teman semua,” Dani, panitia rombongan, kembali berbicara melalui TOA, “sehabis dari sini, acara kita adalah shopping di Kuta, dilanjutkan dengan makan malam di Jimbaran.” Pengumuman itu langsung disambut dengan riuh rendah. “Males belanja, ah,” Kugy berbisik pada Remi. “Pinginnya ngapain, dong?” “Aku pingin motret. Udah berat-berat pinjam kamera dari Karel, tapi dari tadi belum sempat hunting objek foto. Di Kuta sih mau motret apa? Toko?” Bola mata Remi berkilat, seperti mendapat ide. “Kita kabur aja, yuk,” ia berbisik balik. “Asyik!” Ide itu langsung disambut gembira oleh Kugy. “Gimana caranya?” “Gampang. Kita cari transport di pinggir jalan, terus cabut. Nanti malam tinggal nyusul mereka ke Jimbaran. Gimana?” “Laksanakan!” seru Kugy berapi-api. “Tapi… kita pergi ke mana?” Remi hanya tersenyum tanpa menjawab. Ubud, Mei 2003… Beberapa hari ini tampak perubahan besar pada Pak Wayan. Ia kelihatan bergembira, riang, dan bersemangat. Semua orang tahu penyebabnya: Keenan. Semenjak Keenan menginjakkan kaki ke Lodtunduh, hari-hari bersantai di bale sambil mengobrol seharian dengan Keenan pun kembali lagi. Tak hanya Luhde yang merasa bahagia dengan kepulangan Keenan, Wayan pun menemukan oase yang selama ini ia rindukan. Meski ia sadar semua itu hanya akan berlangsung dalam hitungan hari saja. Siang itu, Keenan dan Banyu sedang pergi ke Denpasar, mengurus tiket pulangnya ke Jakarta yang mengalami penundaan. Sementara Luhde sedang pergi ke pura. Sendirian, Pak Wayan menikmati sore harinya di galeri. Sebuah mobil Kijang yang tidak ia kenal tahu-tahu menepi di depan galeri. Pak Wayan keluar menghampiri. Dan betapa kagetnya ia ketika mengenali sosok yang keluar dari pintu depan. “Remi? Apa kabar? Kapan sampai di Bali? Kok nggak kasih kabar sebelumnya?” tanyanya langsung memberondong. “Memang rencananya mau kasih kejutan untuk Pak Wayan,” Remi tertawa. Kedua pria itu saling merangkul, akrab. “Ke mana saja? Lama sekali nggak muncul,” kata Pak Wayan lagi. “Wah, sejak tahun ini pekerjaan di kantor banyak sekali, Pak. Kebetulan aja kantor saya minggu ini lagi outing ke Bali, jadi saya bisa kabur sebentar mampir ke sini, sekalian lihat-lihat.” ================== “Mari, mari. Masuk dulu,” ajak Pak Wayan segera. “Eh, kamu sendirian kemari?” “Berdua, Pak. Tapi teman saya mau jalan-jalan sendiri sambil foto-foto. Kalau teman rombongan yang lain sekarang sedang di Kuta,” jelas Remi seraya melangkah masuk ke dalam galeri. Mereka lalu berjalan bersama mengitari galeri itu, sembari Pak Wayan menerangkan satu demi satu lukisan yang terpampang. Usai melihat semua, Remi pun bertanya, “Lukisan Keenan belum ada lagi, Pak?” Pak Wayan menghela napas. Remi belum menyerah juga, pikirnya. “Belum ada,” jawabnya singkat. “Sebenarnya dia menghilang ke mana sih, Pak?” “Keenan… hmmm… dia…” Pak Wayan tampak ragu-ragu, “dia ada urusan keluarga yang sangat mendesak akhir tahun kemarin, dan harus kembali ke rumahnya. Dulu dia pernah berpesan agar saya tidak memberi tahu siapa pun tentang kepergiannya. Jadi, saya minta maaf, Remi. Ini masalah janji.” Remi menatap lelaki itu lekat. “Pak, saya menghargai masalah itu. Tapi, bagi saya, Keenan bukan sekadar pelukis yang lukisannya saya beli, dia sudah saya anggap adik saya sendiri. Kami berteman baik. Saya heran, kok dia menghilang begitu saja, dan berhenti berkarya. Sudah lama sekali sejak terakhir karya dia dijual di sini. Hampir setahun dia berhenti.” “Ya, sudah. Begini saja. Saya akan minta izin dulu untuk memberi tahu nomor kontaknya ke kamu. Kalau dia setuju, saya akan menghubungi kamu secepatnya,” akhirnya Pak Wayan berkata. Tergugah melihat kesungguhan Remi. “Terima kasih, Pak. Saya sangat menunggu kabar soal Keenan,” kata Remi lagi. Sudah berbulan-bulan Wayan menutupi kabar tentang Keenan dari semua kolektor yang menghubunginya. Namun Remigius memang berbeda. Dalam hatinya, Wayan tidak nyaman dengan semua ini, ditambah dengan kenyataan bahwa sekarang Keenan juga ada di Bali. Ia berharap Remi dan Keenan dapat bertemu kembali, entah bagaimana caranya. Bersambung ke PART 11: kejujuran Yang Tertunda..... ================= Judul : Kejujuran Yang Tertunda mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt